
Sudah dua minggu lamanya tidak ada berita tentang keberadaan Muji, dia juga tidak menelepon Septi.
Hal ini membuat hati Septi bertanya apa gerangan yang terjadi. Namun Septi berpikir positif bahwa mas Muji Lego banyak pekerjaan sehingga lupa menghubungi Septi.
Kini sudah satu bulan lamanya mas Muji tidak ada kabar, sedangkan Septi sendiri kini mulai menyibukkan diri untuk bekerja sehingga tidak mengharapkan mas Muji memberikan kepastiannya.
Septi berbagai kegiatan yang bisa dilakukan di saat ada waktu luang dan Septi sendiri lebih memperhatikan perkembangan Tian yang memasuki masa-masa anak yang mulai berjalan sehingga Tian begitu aktif bergerak.
Septi sering mengajak Tian untuk melakukan semua aktivitas bersama. Karena Tian anak yang menggemaskan membuat hati Septi terhibur dengan gerak canda Tian yang diajak bermain.
ibu Wahyuni juga melihat Septi tidak lagi memikirkan Muji turut senang dan dia berkata pada Septi
'' bila ada jodoh pasti bertemu ''.
Septi tidak ingin hubungannya dengan Muji membuat anak mas Muji ada yang terluka.
Septi kini lebih memilih untuk menjauh dari mas Muji.
Dia berharap mas Muji bisa mendapatkan yang lebih baik dari dirinya.
__ADS_1
Sedangkan Septi sendiri ingin fokus dengan membesarkan Tian sang anak semata wayang.
Di dalam hati kecil Septi berkata '' mengapa begitu antusias untuk menikah toh saya sudah memiliki anak untuk masa tua nanti tidak ada masalah dan saat ini saya dengan Tian cukup bahagia walaupun hanya berdua saja''.
Dengan tekad yang kuat Septi hidup berdua dengan Tian sang anak. Septi tidak takut menatap masa depan bersama Tian seorang anak laki-laki yang kelak akan melindungi ibunya.
Seorang anak laki-laki yang bisa menjaga dan melindungi Septi di masa tuanya.
ibu Wahyuni juga memberi dukungan dari keputusan Septi untuk hidup berdua dengan sang anak. Itu lebih baik dari pada Septi akan membuat masalah dengan salah satu anak Muji.
Septi mencoba untuk ikhlas menjalani kehidupan yang harus dia lewati dan berusaha melihat ke bawah masih banyak orang yang tidak seberuntung dia.
Tidak memiliki keluarga dan pekerjaan, Septi masih ada pekerjaan yang bisa menghidupi Septi dan Tian sang anak.
****
Waktu berlalu dengan cepat kini Tian sudah masuk sekolah taman kanak-kanak dan Septi sendiri memiliki rumah yang sederhana, cukup untuk Septi dan Tian tinggal.
Pagi yang cerah awal Tian akan masuk sekolah. Septi bersiap-siap untuk mengantar Tian.
__ADS_1
'' anak ibu yang ganteng sudah rapi mari kita berangkat '' ucap Septi
'' ayo ibu '' ucap Tian
Septi memegang tangan Tian untuk bisa berjalan beriringan.
Sekolah Tian kebetulan tidak jauh dari tempat tinggal Septi.
Lebih kurang sepuluh menit mereka berjalan tibalah di halaman sekolah Tian.
Di sana sudah ada beberapa anak yang telah datang dan mereka juga kebanyakan di antar oleh sang ibu mereka.
Tian terlihat bahagia bisa sekolah dan di antar oleh Septi sang ibu.
Pukul delapan pagi seluruh anak taman kanak-kanak berbaris rapi untuk masuk ke dalam kelas.
Septi hari pertama ke sekolah menunggu sampai Tian pulang sekolah. Septi menunggu di luar kelas bersama ibu-ibu yang lain yang sedang menunggu anak-anak mereka.
Hari ini sengaja Septi tidak ke warung ibu Wahyuni.
__ADS_1
Septi telah minta ijin kepada beliau untuk hari pertama Tian sekolah dia tidak masuk kerja.
ibu Wahyuni memahami perasaan Septi dan Tian maka mengijinkannya.