Gadis Yang Malang

Gadis Yang Malang
eps 75


__ADS_3

Septi dan Tian keluar dari rumah Aria menuju bus luar kota.


Septi telah merencanakan tinggal di sebuah kota kecil untuk memulai kehidupannya bersama sang anak.


Untung selama ini Septi memiliki tabungan untuk menyambung hidupnya sebelum dia mendapatkan pekerjaan.


Ijazah yang dimiliki Septi akan membantu mencari pekerjaan yang sesuai dengan jurusan nya.


Septi berpikir pekerjaan apa yang bisa membawa anak kecil sedangkan dia hidup cuma berdua dengan Tian sang anak.


Bila pekerjaan Septi di kantor pasti tidak bisa bawa anak.


Ini pertimbangan Septi untuk bekerja dan meninggal kan Tian dengan orang lain Septi tidak berani.


Selain Tian masih terlalu kecil dan Septi belum banyak mengenal orang di lingkungan tempat tinggal yang baru.


Septi coba mencari pekerjaan yang bisa membawa Tian.


Usaha Septi tidak berhasil sudah seharian dia mencari pekerjaan belum ada yang mau menerima karena membawa anak.

__ADS_1


Dengan duduk di sebuah warung Septi melepaskan lelah dan dahaga seharian berjalan kaki sambil membawa Tian digendong nya.


"maaf ibu sayang harus membuat kamu kepanasan ikut ibu cari kerja " ucap Septi


Septi memesan makanan dan minuman hangat untuk mengisi perutnya.


Di warung kebetulan ada wanita setengah baya yang lagi melayani pembeli. Wanita itu seperti pemilik warung, Septi coba untuk berbicara dengan wanita itu.


" maaf Bu apa di sini ada lowongan pekerjaan ?" ucap Septi


wanita itu menatap Septi memang tidak pernah bertemu sebelumnya.


" iya saya dari kota Bu di sini ingin merubah hidup Bu " ucap Septi


" memang adik mau jadi apa bila kerja disini " kata wanita itu


" terserah ibu saja yang penting saya bisa bertahan hidup dan anak saya mendapat tempat untuk berlindung " ucap Septi


" ya bila mau sebagai pramusaji dik ! " berkata wanita

__ADS_1


Mereka saling berjabat tangan dan mengenalkan nama masing-masing, nama wanita pemilik warung adalah Wahyuni.


ibu pemilik warung begitu rahma dengan Septi dan dia juga menawarkan untuk Septi tinggal di warung itu sambil bekerja juga bisa mengasuh Tian.


Hati Septi bersyukur bisa berjumpa dengan ibu Wahyuni yang begitu baik. Memberikan pekerjaaan sekaligus tempat tinggal buat Septi dan Tian sang buah hati.


ibu Wahyuni memberi tahukan tempat tinggal Septi di bagian belakang warung ada sebuah kamar yang kosong.


Kamar itu tidak ada penghuninya karena karyawan yang terdahulu pulang ke tempat orang tuanya dan sampai saat ini juga belum kembali ke warung itu.


Warung ini memang tidak besar namun lumayan dan ada pegawai yang lain.


Tetapi pegawai yang lain pulang ke rumahnya sendiri karena masih dalam lingkungan satu daerah, jadi jaraknya tidak begitu jauh dengan warung.


Kamar Septi cukup untuk beristirahat berdua dengan tempat tidur dari bambu dan beralas kasur tipis. Septi bersyukur masih di beri semua ini walaupun tidak mewah.


Septi hanya memikirkan Tian sang buah hati bisa tidur dengan nyaman itu sudah cukup, dia sendiri tidak mengapa harus tidur di atas papan sekalipun.


Septi sudah senang mendapatkan tempat tinggal gratis dan bisa mengasuh Tian di saat dia bekerja itu merupakan hal yang sangat membahagiakan, jarang orang bersedia memperkejakan seorang wanita yang membawa anaknya untuk bekerja. Ini Rahmat yang sungguh membahagiakan Septi di saat dia berputus asa seharian mencari pekerjaan tidak kunjung berjumpa yang pada akhirnya alasannya adalah bahwa anak. Dan bertemu dengan ibu Wahyuni yang mau menerima Septi bekerja di warungnya.

__ADS_1


__ADS_2