
Masa cuti Aria akhirnya berakhir.
Septi merasa lega telah melewati hari-hari bagaikan dalam neraka, harus berpura-pura bahagia dan harmonis dalam satu keluarga.
Menjelang siang Aria pulang ke rumah nya.
Septi berucap syukur Alhamdulillah sudah pulang suaminya yang tidak diharapkannya.
Kepulangan Aria diperhatikan oleh sang ibu bagaimana Septi menghadapinya.
Selama suami Septi di rumah, ibu selalu melihat kelakuan anaknya dan dalam hati sang ibu ada sesuatu yang di sembunyikan oleh anaknya. Sebab ada suatu saat tidak sengaja ibunya Septi mendengar percakapan antara Aria dan Septi seperti orang yang sedang berdebat, terutama Septi yang nada suaranya tidak senang dengan kehadiran Aria sang suami.
Begitu juga ibu Septi melihat tingkah laku anaknya tidak lembut seperti dia menghadapi Iyan penuh dengan kelembutan bahkan sangat hangat di lihat.
ibu coba untuk berbicara dengan Septi.
ibu berkata " nak,, apa ada yang ada kamu sembunyikan sama ibu !"
" apa maksud ibu !" ucap Septi
" ibu lihat kamu bertingkah laku sangat beda antara suamimu dengan teman atau bos mu yang mengantar dan juga pernah datang itu !"
__ADS_1
Septi menjawab
" ibu ini mengapa bicara seperti itu,, sama aja sih Bu, itu perasaan ibu aja"
ibu mendekati Septi yang lagi duduk menyusui Tian sang buah hati dan mengelus punggung Septi.
" nak sebaiknya bila ada masalah ceritakan pada orang tua, siapa tau kami bisa membantu mencari penyelesaian atau jalan keluar dari masalah yang kamu hadapi nak !"
Septi menjawab " terima kasih bu, untuk saat ini belum bisa Septi bicara, lain kali saja ya Bu. tunggu Septi siap !"
" baiklah nak, ibu berharap kamu masih menganggap kami orang tua mu yang bisa kamu jadikan tempat mengadu, walaupun kamu sudah menikah, kamu tetap anak ibu dan ayah" ucap ibu
Septi mendengar perkataan ibu terharu dan bahagia karena orang tua nya masih memikirkan kebahagiaan bagi anak nya.
Untung sang ibu mengerti dan menghargai perasaan Septi yang belum bisa terbuka kepada orang tuanya.
Kedatangan ayah Septi merubah suasana menjadi tidak hening lagi.
Ayah Septi berkata " cucu kakek sudah nampak besar dan menggemaskan "
ayah sambil memegang pipi Tian dan meminta Septi untuk
__ADS_1
memberikan ke padanya.
Septi memberikan Tian kepada sang ayah.
ibu dan Septi tersenyum melihat ayah dengan wajah senang menimang cucunya sambil menepuk-nepuk pelan tubuh Tian.
sang cucu mulai mengerti apa yang terjadi di lingkungannya dan melihatnya, maka Tian juga tersenyu-senyum dengan apa yang di buat oleh sang kakek.
cucu dan kakek terlihat tambah senang dan bercandaan.
ibu berkata " ayah hati-hati dan jangan terlalu bercandanya kasihan Tian masih kecil"
" ih,,, ibu ini biarin saya main dan bercanda dengan cucu saya yang menggemaskan ini " ucap ayah
ibu menjawab " eee,, emang Tian itu cucu ayah aja kan juga cucu ibu juga ''
Keluarga ini akhirnya gelak tertawa bersamaan dan Tian yang masih kecil pun tersenyum melihat di sekitarnya.
Mereka ibu, ayah, anak dan cucu terlihat bahagia sekali. Septi melihat ini memanjatkan doa syukur Alhamdulillah apa yang telah dilimpahkan atas karunia Allah SWT kepada.
Kedua orang tua yang perhatian dan anak yang menambah kebahagiaan hidup Septi.
__ADS_1
Yang masih kurang dalam hidup Septi yaitu suami yang sayang dan pengertian dengan nya.
Bila Septi dan Iyan bisa bersatu membentuk satu keluarga maka lengkaplah kebahagian Septi ada sang suami yang dicintai juga sang anak buah hati mereka.