Gadis Yang Malang

Gadis Yang Malang
eps 122


__ADS_3

Septi dan Tian duduk di ruang keluarga bersama kedua orang tua Septi. Mereka berbincang-bincang berbagai hal.


akhirnya sang ibu berkata '' Sep apa kamu di sini akan lama ?''.


'' maaf bu, kami ke sini hanya dua hari saja, maksud saya untuk mengajak ayah dan ibu ke rumah kami !'' ucap Septi.


Ayah dan ibu saling memandang satu sama lain.


'' kami belum bisa kasih jawaban sekarang Sep, biar ayah dan ibu pikir dulu dalam beberapa hari kedepan !'' berkata ayah Septi.


'' baik ayah, tetapi saya ingin bersama kalian lagi dan hidup dengan tenang di rumah kami !'' ucap Septi.


'' memang kenapa bila di sini ada yang membuat kamu tidak tenang Septi ! '' berkata ayah Septi.


'' bukan gitu ayah, Septi tidak ingin masa lalu bisa timbul kembali, Septi ingin melupakan semua hal yang menyangkut kehidupan yang dahulu. Rumah ayah ini banyak yang mengetahuinya !'' ucap Septi.

__ADS_1


Kemudian Septi menjelaskan panjang lebar atas keberatan untuk tinggal kembali di rumah orang tua nya. Yang paling Septi takutkan mantan suami Septi dan Iyan ayah kandung Tian bila mereka mencari kembali pasti ke rumah orang tua Septi. Sedangkan Septi ingin mengubur masa lalu itu semua dengan cara lingkungan dan tempat hidup yang baru. Dengan penjelasan yang dalam Septi memohon kepada orang tua nya untuk mendukung keputusannya.


Orang tua Septi pada awalnya belum bisa menerima untuk meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan dari Septi lahir sampai Septi sebesar sekarang.


Septi akhirnya mencari jalan lain, dan berkata '' untuk saat ini sebaiknya ayah dan ibu ikut saya dahulu dan rumah ini kita kontrak kan saja dulu, bila ayah dan ibu masih sayang !''.


Mendengar perkataan Septi yang terakhir maka ibu menyetujui.


Sang ayah hanya menurut keputusan ibu sebab ayah sudah tidak bisa bekerja berat lagi karena penyakitnya mengharuskan ayah banyak beristirahat. Jadi ibu berpikir ini lebih baik di mana uang hasil kontrak-kan bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari nantinya.


Tiga hari kedepan ayah dan ibu Septi akan meninggalkan rumah dan ikut Septi pulang.


Hari yang di nanti tiba Tian sangat senang melihat nenek dan kakek ikut pulang ke rumah Tian.


'' nenek dan kakek, Tian senang nanti di rumah ada teman kakek dan nenek !'' ucap Tian.

__ADS_1


Kakek dan nenek tersenyum mendengar perkataan Tian tersebut. Sedangkan Septi berkata '' Tian nanti bila kakek dan nenek di rumah jadi anak yang pintar ya, jangan bikin sudah kakek dan nenek !''.


'' tentu Bu, Tian akan jadi anak yang pintar '' ucap Tian.


'' oh...cucu nenek ini kan pintar !'' berkata nenek.


Lalu mereka berempat terdiam di dalam kendaraan dan akhirnya tertidur.


Beberapa jam kemudian mereka sampai di rumah Septi.


Ayah Septi melihat rumah Septi berkata '' Septi apa ini rumah kamu sendiri atau kontrak !''.


'' Alhamdulillah, rumah saya ayah, memang tidak besar tetapi cukup untuk kami berdua '' ucap Septi.


'' ini sudah cukup Sep yang penting bisa tempat kita berteduh dari panas dan hujan, yang lebih membuat kita betah dan bahagia di dalamnya !'' berkata sang ayah.

__ADS_1


Ayah dan ibu merasa bangga terhadap keberhasilan Septi hidup sendiri dengan seorang anak namun bisa memiliki rumah, walaupun rumahnya sederhana namun itu bukti kerja keras Septi selama ini membuahkan hasil.


__ADS_2