
Septi di rumah sakit di periksa dengan seorang dokter kandungan.
Keberuntungan Septi dan bayi tidak mengalami apa-apa, Septi hanya tertekan pikiran nya melihat peristiwa yang terjadi di depan mata nya.
Iyan dan Aria setelah didamaikan oleh pak RT pergi ke rumah sakit, Iyan sekalian mengobati lukanya akibat hantaman Aria.
Aria ke rumah sakit ingin memastikan Septi tidak kenapa-apa dan kesepakatan dengan Iyan bahwa siapa yang di pilih oleh Septi untuk menemani di rumah sakit tergantung dengan keputusan Septi.
Beberapa saat kemudian Septi sadar dan dia mencari-cari Iyan, karena terakhir Septi melihat Iyan di pukuli oleh Aria.
Suster keluar dari kamar perawatan Septi dan bertanya siapa yang bernama Iyan.
Saat itu kebetulan Iyan sudah selesai di berikan pengobatan dan dia masuk ke dalam ruangan rawat Septi.
Iyan berjalan nendekati tempat tidur, Septi terlihat berbaring tidak berdaya di atasnya.
Iyan berkata " bagaimana ke adaan mu say baik-baik aja kan !.... dan juga calon anak kita tidak kenapa-napa ?"
__ADS_1
Jawab Septi " baik-baik semua yang "
Mereka berdua saling berpelukan dan Septi meminta Iyan untuk menemani di rumah sakit.
Tidak lama kemudian Dokter yang menangani Septi datang untuk memeriksa keadaannya dan Iyan menanyakan keadaan Septi juga bayi yang di kandungan bagaimana kondisinya.
Dokter mengatakan tidak usah khawatir ibu dan kandungannya baik-baik saja dan meminta Iyan menjaga nya karena bila terjadi lagi takut berakibat fatal bagi ibu dan bayinya dan menghindari stres.
Dokter mengatakan bahwa hari ini boleh langsung pulang tidak usah menginap di rumah sakit.
Iyan berkata " kamu say memang mau pulang ke rumah siapa !"
Septi menjawab " saya tidak ingin pulang ke rumah, saya takut dengan Aria !"
Iyan mengerti akan troma yang di alami Septi, maka Iyan menjawab
" baik kamu say tinggal di rumah saya, biar saya tinggal sementara di ruko "
__ADS_1
Septi menganggukkan kepala dan tersenyum, dia lega tidak pulang ke rumah Aria.
Hal ini telah di antisipasi oleh Aria dan Iyan selagi mereka berunding di rumah, ke dua nya tidak ingin membuat Septi stres dan mengalah apa pun yang di kehendaki Septi agar di turuti sampai Septi melahirkan bayinya.
Hari itu juga Septi keluar dari rumah sakit tetapi pulang ke rumah Iyan, terlihat di wajah Septi kegembiraan di terpancar di sana.
Iyan melihat kebahagiaan pada wajah Septi lega agar kehamilan Septi juga bahagia menjelang kelahiran anaknya.
Menjelang menunggu kelahiran Septi tidak masuk kerja dia di rumah Iyan.
Iyan tidak boleh Septi bekerja dan segala sesuatu Iyan memenuhi kebutuhannya lahir dan batin.
Septi makin usianya ke delapan bulan dan memasuki ke sembilan waktu untuk melahirkan malah kebutuhan senam nya meningkat, Iyan sebagai ayah dari calon anaknya terkadang merasa takut menyakiti sang bayi bila melakukan senam. Namun Septi akan merengek meminta agar Iyan memberikan kebutuhan senam nya dan terkadang Septi minta senam tidak memandang waktu kapan dia lihat Iyan dan bernafsu maka dia akan memintanya pada Iyan.
Iyan yang telah mendapatkan penjelasan dari dokter kandungan hanya bisa mengikuti kemauan Septi asalkan Iyan bermain pelan-pelan dan hati-hati jangan sampai melukai sang anak yang masih di kandungan, doktor juga menyarankan di usia sembilan bulan itu lebih bagus sering melakukan senam untuk membuka jalan sang anak keluar nantinya.
Dengan keterangan dari dokter Septi selalu antusias bila melihat Iyan, tetapi bukan semata-mata Septi yang menginginkan juga dorongan dari dalam seakan bayinya juga menginginkan tahu Iyan adalah ayah biologisnya.
__ADS_1