
Septi merasa salah tingkah kedapatan bahwa ada tanda kepemilikan suaminya dapat di lihat Iyan. Namun Septi menundukkan kepala sambil menitikkan air mata membayangkan perbuatan suaminya semalam kepadanya.
Iyan yang melihat Septi menangis langsung berdiri mendekati Septi dan memberikan usapan di punggung Septi, namun Septi malah memeluk Iyan dan langsung tambah menangis tersedu di dada Iyan.
Mendapatkan perlakuan yang mendadak dan rasa prihatin Iyan memeluk Septi dan memberikan sentuhan untuk memberikan rasa nyaman.
Puas Septi menangis di pelukan Iyan mencurahkan kepahitan yang semalam dia alami. Septi baru sadar kemeja Iyan telah penuh dengan air mata akibatnya kemeja Iyan basah.
Septi jadi merasa bersalah, melihat ini Iyan berkata " tidak apa saya bisa ganti kemeja nanti di dalam lemari itu ada beberapa baju saya, jangan khawatir Septi ".
Septi agak lega dengan perkataan Iyan.
" kamu ada masalah ya !" kalau mau membagikan masalah nya dan menceritakan sama saya, saya bersedia Septi !" kata Iyan
" iya...nanti aja bila saya sudah siap untuk menceritakannya " jawab Septi.
Kemudian Septi mencuci muka dan kembali keruang nya untuk melanjutkan pekerjaannya, Septi tidak ingin menceritakan sekarang karena waktu kerja dan juga tidak ingin masalah aib keluarga di ceritakan kepada orang lain apa lagi Iyan mengetahui pernikahan Septi karena perjodohan orang tua bukan karena saling mencinta.
__ADS_1
Septi melupakan apa yang tadi pagi terjadi dan waktu pulang telah tiba Septi membuka pintu ruang menuju ke luar ruko, di halaman mau menuju ke jalan untuk menunggu kendaraan umum, Septi di kejutkan Sura klakson mobil dan menoleh ke sumber suara. Iyan melambaikan tangan dari dalam mobil sambil membunyikan klakson mobil nya, Septi mendekati dan berkata " maaf Iyan saya ingin sendiri dulu !"
Iyan menganggukan kepala mengerti membutuhkan waktu menyendiri untuk menenangkan diri, Iyan tidak ingin memaksa Septi takut dua tambah stres bila mendapat tekanan.
Sampai di rumah Septi seperti biasa membersihkan diri, lalu memasak makan malam.
Kejadian yang terjadi Septi tidak ingin terulang kembali, sejak saat itu Septi tidak berani lagi untuk pulang terlambat dari bekerja.
Kegiatan ini berlangsung dari hari-hari, Minggu ke minggu dan bahkan sudah satu bulan berlalu.
Sikap Aria sang suami sudah mulai kembali seperti semula, cuek dan dingin serta meminta Septi untuk melayani kebutuhan biologis nya seminggu sekali itupun di lakukan hanya sekali saja dalam satu malam.
Di toko Iyan belum datang karena sudah satu Minggu dia pulang ke kota tempat orang tua nya tinggal karena mendapat berita bahwa ibunya sakit.
Septi mulai gelisah mau telepon tidak enak nanti mengganggu, akhirnya Septi menyibukkan diri dengan pekerjaan nya.
Setelah makan siang terdengar suara telepon berbunyi, Septi mengangkatnya dan terkejut suara Iyan " Septi nanti pulang jam kantor tolong temui saya "
__ADS_1
" baik bos ! jawab Septi
Sebenarnya Septi tidak enak bertemu di luar jam kerja karena keadaan keluarga nya kini sudah seperti biasanya, tidak ingin Septi membuat masalah kembali.
Namun Septi penasaran apa yang terjadi selama Iyan pergi ke rumah orang tua nya.
Waktu pulang tiba Iyan masih di dalam ruangannya, terdengar suara ketukan pintu
tok
tok
" silahkan masuk suara dari dalam ruangan "
Septi melangkah masuk ke dalam dan duduk di depan meja Iyan.
" Septi besok hari libur, bisa kamu temani saya pergi ke suatu tempat " kata Iyan
__ADS_1
" Baik lah, setelah saya mempersiapkan makan untuk suami baru kita pergi " Septi berkata
" oke... saya tunggu di sini besok ya !" kata Iyan