
Empat puluh hari setelah melahirkan Septi kini telah tiba hati Septi berdebar-debar takut akan ke datangan Aria untuk menjemputnya.
Pagi hari Septi menelepon Iyan apa dia telah berangkat dari rumah menuju ke rumah orang tua Septi.
Septi tidak ingin Iyan terlambat datang ke rumah orang tua nya.
Sebelum makan siang Iyan telah datang di sambut dengan wajah berseri-seri oleh Septi.
Sampai-sampai tidak bisa menjaga perasaan lagi Septi memeluk Iyan dan saat itu ibu kebetulan mau berjalan ke luar dapur melihat mereka di depan pintu saling berpelukan.
ibu melihatnya tertegun sejenak, mengapa Septi memeluk bosnya sedangkan suaminya sendiri dia tidak ingin memeluknya.
ibu meneruskan niatnya untuk memanggil Septi dan ayah Septi untuk makan siang.
Karena melihat Iyan sang ibu berkata " e,,,ada tamu di suruh masuk dulu Septi mengapa di depan pintu aja ''
Septi dan Iyan tertangkap basah oleh sang ibu lagi berpelukan bertiga, cepat-cepat mereka melepaskan pelukannya.
Dengan wajah memerah tersipu malu Septi dan Iyan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
ibu bicara " lain kali jangan bikin adegan seperti itu di luar rumah malu di lihat tetangga !"
Septi dan Iyan hanya bisa mengangguk kepalanya dikarenakan menyadari bahwa apa yang mereka lakukan salah, apalagi bila tetangga tahu mereka bukan sepasang suami istri itu bakal hebo buat satu lingkungan tempat orang tua Septi tinggal.
ibu mengajak Septi dan Iyan langsung ke meja makan sedangkan ibu pergi mencari suaminya yang ada di dalam kamar.
Sudah lengkap anggota keluarga maka mereka makan siang bersama, Septi makan sambil memangku Tian sambil menyuap makanan nya.
Iyan dalam hati ingin sekali meyuapi Septi karena melihat Tian ada di pangkuannya Septi.
Perasaan Iyan tidak bisa terkontrol dan juga bertolak belakang dengan pikirannya.
Dengan refleks tangan Iyan mengambil sendok untuk menyuapi Septi makan.
Orang tua Septi hanya saling pandang dan dalam pikiran mereka bertanya ada apa ini, namun mereka tidak menegur sang anak yang terlihat sangat bahagia dan baru kali ini orang tua Septi melihat begitu bahagia sang anak, sewaktu Aria sang suami cuti beberapa hari Septi tidak terlihat bahagia.
Ayah dan ibu Septi membiarkan sang anaknya untuk menyelesaikan makan siangnya dulu nanti setelahnya baru mengajak mereka bicara.
Makan siang telah selesai Iyan menggendong Tian ke ruang keluarga bersama ayah Septi.
__ADS_1
Sedangkan Septi sendiri membantu ibu membereskan meja makan.
Terlihat Septi tergesa-gesa untuk menyelesaikan pekerjaan nya.
ibu menyapa " pelan-pelan Septi takutnya piring itu jatuh pecah mengenai kaki kamu "
Septi mendengar perkataan ibunya tersenyum malu, karena ibu Septi bisa membaca tingkah laku sang anak yang begitu bersemangat untuk menemui pujaan hatinya.
ibu dan Septi selesai dengan pekerjaannya di dapur pergi bergabung ke ruang keluarga.
Di sana Septi melihat Iyan lagi mengajak bermain Tian.
Sedangkan sang ayah lagi melihat acara televisi.
Keluarga kini sudah lengkap duduk di sofa.
Iyan ingin mengatakan sesuatu ke pada orang tua Septi, tetapi ayah terlebih dahulu berkata
" apa kabar nak Iyan ? "
__ADS_1
" baik pak !" kata Iyan
" maaf ya bukan ayah ingin ikut campur dengan hubungan kalian, cuma ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi karena ayah lihat di antara kalian bukan seperti atasan dan bawahan ?" kata ayah