Gadis Yang Malang

Gadis Yang Malang
eps 62


__ADS_3

Satu bulan berlalu tanpa terasa Septi akan meninggalkan orang tuanya dan kembali ke pada sang suami Aria.


Septi sudah mempersiapkan diri selama ini sehingga dia tenang untuk menghadapi Aria nanti.


Semua nasehat dan pesan ke dua orang tua nya di jadikan bekal untuk ke depannya oleh Septi.


Agar tenang hidup untuk lebih dekat dengan sang pencipta.


Aria pun datang untuk menjemput Septi dan Tian sang anak.


Kedua orang tua Septi hanya berpesan kepada mereka untuk selalu berkomunikasi dengan baik sebagai seorang suami juga istri dalam suatu rumah tangga.


Bila ada sesuatu hal yang tidak sesuai sebaiknya dibicarakan bukan saling diam, sehingga masalah tidak terjadi berlama-lama.


Septi berpamitan dengan kedua orang tua nya.


Di pelukan ibu Septi meneteskan air mata, dan ibu mengelus punggung Septi sambil membisikan yang sabar dan terus berdoa.


Pada akhirnya keluarga kecil ini meninggalkan rumah orang tua Septi untuk kembali ke rumah Aria.


Kedua orang tua Septi melepas kepergian sang anak dengan memberikan senyuman agar Septi bersemangat.


#####


Septi dan Aria serta Tian sang anak kini sudah berada di rumahnya.


Aria berkata

__ADS_1


" pergilah ke kamar membersikan diri dan istirahat kasihan Tian dalam perjalanan pasti lelah "


Septi menuruti permintaan Aria untuk memandikan Tian dan memberi ASI serta nidurkannya.


Septi juga pada akhirnya ikut tertidur bermasa Tian.


Menjelang sore hari Septi dan Tian terbangun dari tidurnya yang nyeyak.


Septi menggendong Tian dan keluar dari kamar menuju ke dapur. Septi ingin minum, di ruang tengah sambil dia melihat Aria sedang melihat televisi.


Aria berkata " sudah bangun ya "


Septi hanya menganggukkan kepala dan berlalu ke dapur untuk minum.


Siap minum Septi dan Tian melihat pekarangan belakang kemudian duduk memandangi hamparan kebun tetangga yang begitu subur.


Lagi asik Septi menerangkan ke pada Tian akan keindahan kebun, dari pintu datang Aria berkata


" sekali-kali keluar lihat yang hijau seperti itu bikin mata sejuk dan nyaman " jawab Septi.


" iya, tapi jangan lama-lama di situ "


ucap Iyan


Septi hanya menganggukkan kepala saja.


Tidak begitu lama Septi masuk ke dalam rumah dan mengantarkan Tian ke kamar.

__ADS_1


Septi bersiap untuk membuat makan malam.


Dua buka lemari persediaan makanan namun kosong.


Septi bingung mau makan apa malam nanti.


Melihat Septi di dapur duduk di kursi mengamati lemari yang kosong, Aria mendekati.


" mengapa bengong " ucap Aria


" ini lemari kosong berarti harus belanja dulu baru bisa masak " jawab Septi.


" saya sudah sangat lapar ingin makan " kata Aria


" iya, gimana mau masak bila tidak ada bahan yang akan dimasak " kata Septi


" di depan saya sudah ada makanannya untuk apa yang lainnya " ucap Aria


Septi tidak mengerti apa maksud Aria. Namun Septi lagi berpikir apa yang di inginkan Aria, tiba-tiba Septi di peluk Aria


" saya ingin memakan mu saat ini juga sudah tidak sabar menantikan ini " jawab Aria


Septi terpaku oleh dekapan Aria, namun dia ingat pesan ayahnya bahwa Aria adalah suaminya yang harus dia layani.


Aria membawa Septi ke kamarnya dan tidak ingin melewatkan waktu nya segera memulai senam sore.


Hampir satu jam Aria menggauli Septi untuk memuaskan hasratnya, yang sebenarnya Aria belum begitu puas bila tidak terdengar tangisan Tian.

__ADS_1


Aria akan lebih lama lagi melakukan senam nya.


Septi merasa beruntung bahwa Tian menangis sehingga dia bisa terlepas dari melayani sang suami. yang tidak dia cintai.


__ADS_2