
Semenjak percakapan itu membuat Septi merasa lega disebabkan Tian bisa menerima keputusan yang diambil oleh Septi.
Septi mengutarakan hal yang sebenarnya kepada Tian siapa ayah kandungnya tetapi tidak ingin menjalin hubungan dengan Iyan.
Septi lebih memilih kehidupannya seperti sekarang yang hanya berdua saja. Septi tidak ingin melukai atau terluka kembali karena seorang laki-laki.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan tahun berganti tahun, kini tidak terasa sudah dua tahun berlalu. Orang tua Septi sudah mulai tua dan mereka tidak mengetahui harus mencari Septi dan Tian dimana.
Kejadian pertemuan Septi dan Iyan membuat Septi tidak ingin ketemu dengan Iyan di kota tempat orang tua Septi tinggal, maka dua tahun lamanya Septi tidak berkunjung ketempat orang tua nya.
Sebenarnya Septi dan Tian sudah rindu ingin bertemu dengan kedua orang tua Septi.
Di pagi yang cerah ini di hari minggu Septi lagi duduk santai di ruang keluarga datang Tian berkata
'' Bu bolehkah Tian kerumah kakek dan nenek, Tian rindu Bu ! ''.
Septi berpikir dahulu bagaimana, dia sendiripun kasihan melihat orang tuanya yang sudah mulai menua hanya tinggal berdua saja.
'' Minggu depan ya nak kita ketempat nenek dan kakek '' ucap Septi.
Septi berpikir di sana nanti hanya satu atau dua hari saja Septi dan Tian untuk melihat orang tuanya.
Dengan demikian Septi tidak akan berjumpa dengan Iyan dan lagi sudah cukup lama Septi tidak pulang kerumah orang tua nya, maka saat Septi dan Tian datang pasti Iyan sudah lelah menunggunya. Hal ini yang membuat Septi memenuhi keinginan Tian. Septi juga berharap bahwa orang tua nya bisa diajak Septi tinggal bersama di rumah Septi dan Tian.
__ADS_1
Satu Minggu kemudian hari yang dinanti oleh Tian telah tiba. Dengan semangat Tian telah bersiap-siap untuk berangkat dan mereka merencanakan memang pagi hari sudah pergi dari rumah agar tidak terlalu siang sampai di rumah orang tua Septi.
Menjelang siang Septi dan Tian tiba di rumah orang tua Septi.
'' nenek !,,,, Tian datang '' Tian berteriak dari halaman rumah.
Septi hanya tersenyum mendengar Tian memanggil sang ibu.
Sampai di pintu Tian dan Septi melihat ibunya membukakan pintu rumah.
'' oh,,,cucu nenek yang ganteng datang ! nenek kangen !'' berkata sang nenek.
Lalu Tian mendekati sang nenek dan memeluknya. Begitu di dalam pelukan sang nenek Tian di beri ciuman oleh nenek di keningnya.
Septi di dalam mencium tangan nenek dan mencari sang ayah.
'' ibu dimana ayah ?'' ucap Septi.
'' ada di dalam kamar lagi tidak enak badan Sep '' berkata nenek.
Septi berjalan menuju ke kamar dan mengetuk pintu.
tok...
__ADS_1
tok...
'' masuk '' berkata kakek.
Septi membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar sang ayah.
'' kamu Sep yang datang !'' berkata kakek.
'' iya, yah '' ucap Septi.
Septi menyalami tangan sang ayah lalu menciumnya. Ayah Septi tersenyum melihat Septi datang dan berusaha untuk bangun dari tempat tidur.
'' mana cucu kakek Sep ?'' berkata ayah Septi.
'' ada ayah di depan bersama ibu '' ucap Septi.
Ayah bangkit di bantu oleh Septi dan menuju ke ruang keluarga untuk bertemu dengan Tian sang cucu.
'' kakek '' ucap Tian sambil berlari mendekati sang kakek.
ayah Septi dan Tian saling berpelukan dan kakek menggendong Tian.
'' ayah turunkan Tian sudah besar dan lagi ayah baru aja sembuh '' ucap Septi.
__ADS_1
'' tidak apa Sep, ayah sudah sehat dan kuat melihat kalian datang '' berkata ayah Septi.