
Di warung ibu Wahyuni kedatangan tamu yang tidak diundang yaitu Muji.
'' selamat siang Bu '' ucap Muji
ibu Wahyuni terkejut dengan tiba-tiba Muji datang ke warungnya.
'' selamat siang, nak Muji kan '' berkata ibu Wahyuni
'' iya Bu, masak ibu lupa dengan saya, temannya Septi '' ucap Muji
'' oh iya, hampir lupa ibu sebab sudah lama tidak berjumpa dan maklum ibu sudah tua jadi banyak yang sudah lupa '' berkata ibu Wahyuni
Kebetulan saat itu Septi tidak ada maka ibu Wahyuni memberi alasan bahwa Septi tidak lagi bekerja disana.
Mendengar perkataan ibu Wahyuni membuat Muji terlihat kecewa dan langsung meminta ijin pulang.
Di dalam hati ibu Wahyuni berkata
__ADS_1
'' maafkan saya nak Muji harus berbohong, saya tidak ingin membuat Septi bimbang kembali. Dia telah menikmati hidupnya saat ini walau tanpa dirimu ''.
ibu Wahyuni memiliki balasan yang kuat untuk tidak mempertemukan Muji dengan Septi. Hal ini agar tidak sakit hati kembali Septi karena sikap muji yang kurang bertanggung jawab menghilang tanpa memberikan kabar kepada Septi.
Walaupun waktu bertemu dengan Muji, ibu Wahyuni tidak menanyakan mengapa dia tidak ada kabar bagi Bu Wahyuni itu tidak penting apapun alasannya ibu Wahyuni beranggapan Muji sebagai seorang laki-laki harus jentelmen dan bisa mengambil keputusan jangan membuat Septi menunggu dengan ketidak pastian.
Sementara itu Septi di sekolah Tian , sambil menunggu Tian dia berbincang-bincang dengan ibu yang lain. Septi bahagia bisa bicang-bicang dengan orang tua yang lain, ini menambah teman bagi Septi yang selama ini hanya karyawan yang bekerja di warung ibu Wahyuni, sehingga memberi warna yang lain dalam hidup Septi.
Waktu istirahat tiba Septi melihat Tian keluar dari kelas.
Tian menoleh mencari sumber suara dan menemukan Ani diantara ibu-ibu yang lain.
Lalu Tian mendekati Ani sambil tersenyum.
'' Bu, Tian sudah memiliki teman ''
ucap Tian.
__ADS_1
Tian memang berjalan dengan teman-temannya.
Septi berkata '' anak ibu pintar ya baru pertama sekolah sudah punya teman.''
Tian memang seorang anak yang suka bergaul dan ramah dengan siapa aja oleh sebab itu dia cepat mendapat teman.
Melihat ini Septi terharu semoga Tian tidak minder karena tidak memiliki seorang ayah. Septi takut dengan keadaan bahwa ibunya seorang diri membuat psikologi Tian akan terganggu dan menjadikannya anak pendiam.
Di lubuk hati Septi bicara '' syukur Alhamdulillah Tian menjadi anak yang periang status saya tidak menjadikannya sebagai anak pendiam, terima kasih ya Allah atas segala nikmat yang berikan pada hamba mu ini.''
Tian makan bekal yang dibawakan oleh ibunya. Tian membagi bekalnya dengan teman yang baru di kenal. Mereka lalu makan bersama-sama dan saling bertukar bekal. Septi melihat kelakuan mereka dengan tersenyum senang karena mereka masih kecil sudah punya rasa bisa membagi pada teman yang lain.
Jam istirahat telah selesai maka mereka mulai masuk kelas. Tian begitu semangat untuk mengikuti segala aktivitas, karena ini taman kanak-kanak maka mereka di isi dengan banyak kegiatan bermain saja dan waktu belajar sedikit.
Hal ini sesuai anjuran pemerintah agar anak usia dini jangan terlalu di wajibkan belajar karena sebenarnya waktu mereka masih bermain-main, nanti di bangku sekolah dasar mereka baru belajar yang sebenarnya.
Di taman kanak-kanak hanya memperkenalkan berbagai macam huruf dan angka saja, tidak di tuntut agar lancar membaca dan menulis.
__ADS_1