
Pagi yang cerah dan hari pertama bekerja Septi dengan semangat melayani pembeli yang ingin membeli makanan di warung Bu Wahyuni.
Sebagai pramusaji Septi menghadapi pembeli dengan senyum rahma.
Hari berganti hari Septi tidak terasa sudah satu bulan kerja di warung Bu Wahyuni. Septi merasa betah bekerja di warung dan Tian tumbuh dengan sehat. Karyawan di sana senang sekali akan keberadaan Tian bisa menjadi penghilang rasa letih. Di saat mereka istirahat atau pelanggan tidak ada mereka bermain dengan Tian yang menggemaskan. Tian tumbuh dengan tubuh yang sehat dan bayi yang begitu menggemaskan. Wajah Tian mirip sekali dengan Iyan sang ayah. Dengan paras mirip sang ayah, Tian begitu menggemaskan dengan pipi chubby dan hidung mancung. Tian di sana menjadi bayi kesayangan bagi semua orang.
Septi sering mendapatkan Tian tidak ada dikamarnya melainkan di ajak oleh teman Septi sekedar bermain untuk melepaskan penat mereka. Septi bersyukur atas kehadirannya bersama Tian di terima dengan baik oleh semua orang yang ada di warung itu. Apa lagi Bu Wahyuni yang suka dengan anak kecil, bahkan dia yang lebih suka menggendong Tian di saat Septi lagi bekerja. Septi disini bagaikan hidup di satu keluarga besar. Perhatian dan kasih sayang orang yang di warung terhadap Septi dan Tian membuatnya melupakan semua masa lalu yang telah terjadi. Kini Septi dan Tian mendapatkan keluarga baru yang penuh dengan kehangatan dan perhatian.
Hal ini yang membuat Septi dan Tian bisa hidup bukan dari keluarga yang sebenarnya. Orang lain yang menjadi keluarga karena kedekatan bukan karena ikatan darah. Septi bersyukur bisa bersama mereka orang-orang yang sangat baik. Mereka melihat Septi hidup sebatang kara dan memiliki seorang anak namun tidak ada suami membuat mereka iba dan terketuk hatinya untuk memberikan dukungan dan semangat ke pada Septi menjalani hidup ini.
Septi berpikir bila tidak bertemu dengan mereka tidak mengetahui bagaimana kehidupannya.
*****
Seperti biasa Septi di pagi hari sudah rapi, sambil menunggu pembeli dia menggendong Tian untuk di ajak berjalan pagi di sekitar warung.
__ADS_1
Asiknya Septi berjalan sambil mengajak Tian berbicara ada seorang pria datang menghampirinya.
'' maaf apa itu anak mbak ?'' ucap pria itu
Septi menjawab '' iya, mas ini anak saya ''
'' anaknya cakep ya '' kata pria
Septi mempersilahkan pria itu untuk masuk ke dalam warung.
Lalu Septi masuk ke dalam warung dan menuju ke kamar untuk meletakkan Tian di tempat tidurnya.
pria itu berkata boleh kita kenalan mbak '' saya muji ''
Septi menjawab '' saya Septi, maaf saya tinggal dulu silahkan di santap makanannya semoga sesuai dengan selera mas ''
__ADS_1
Septi sengaja meninggalkan pria tersebut agar bisa menikmati makanannya, sebagai pramusaji tidak baik menggangu pembeli. Dan lagi Septi tidak ingin mengganggu orang yang sedang makan.
Saat makan sebaiknya kita tidak bicara biar makanan yang dimakan itu berkah.
Beberapa saat berlalu muji telah menyelesaikan makanannya.
Septi melihat muji telah selesai menyantap makanan nya menghampiri dan berkata
'' bagaimana masakannya mas, apa sesuai dengan selera mas !''
'' Alhamdulillah enak, saya suka '' ucap Muji.
Septi lega mendapatkan jawaban dari Muji tersebut.
Septi berkata '' mudahan mas Sudi di lain waktu untuk kembali menikmati masakan kami lagi ''
__ADS_1
'' boleh lain waktu bila saya lewat disini akan mampir lagi dan lagi masih banyak makanan di sini yang belum sepat saya cicipi '' ucap Muji
'' iya, mas masakan warung kami ada beberapa menu yang menjadi favorit di sini yang belum mas nikmati '' ucap Septi