
Penantian Septi dan Iyan menunggu sang buah hati telah tiba di pagi hari ini Septi merasakan perutnya pules sebentar-sebentar sakit dan hilang. Menjelang tengah hari Septi mulai terasa sakit yang sering berulang.
Iyan dari pagi telah datang ke rumahnya yang di tempati Septi selama menunggu masa kelahiran.
Dengan sakit yang mulai rutin maka Iyan mengajak Septi pergi ke rumah sakit.
Di perjalanan ke rumah sakit Septi merintih menahan sakit.
Septi berkata " yang cepat sedikit ! ini sakit......sekali !"
" iya..... say sabar ya sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit " kata Iyan
" yang .....aaaaaa sakit ! jerit Septi
" sabar say tahan sebentar lagi itu sudah terlihat rumah sakitnya !" berkata Iyan
Jarak tempat tinggal Iyan dengan rumah sakit memang tidak terlalu jauh tetapi tidak juga dekat harus memerlukan beberapa menit baru mereka sampai ke rumah sakit.
Akhirnya sampai mereka ke rumah sakit dengan sigap Iyan mengendong Septi menuju kedalam rumah sakit menuju ruang yang di tunjukkan oleh suster rumah sakit.
__ADS_1
Setelah Septi di letakkan di tempat tidur sang dokter datang untuk membantu kelahiran Septi.
Dokter berkata " anda suaminya boleh mendampingi istri bila mau untuk memberikan kekuatan kepada sang ibu "
Iyan melihat Septi meminta ke pastian apa perlu dia menunggu di dalam.
Septi menganggukkan kepalanya, dan Iyan menunggu persalinan Septi.
Pembukaan sudah sempurna Septi di minta dokter untuk mengikuti instruksi nya kapan tari nafas dan membuangnya serta mengatakan kapan waktu mengejang.
Septi mengeluarkan keringat di wajah, Iyan membersihkan sambil berkata " sabar say bertahan ya, sebentar lagi anak kita akan lahir, kamu yang kuat !"
Iyan memegang tangan Septi untuk memberikan kekuatan.
Dengan sekuat tenaga Septi memberikan dorongan sambil memegang Iyan yang tidak di sengaja Septi menancapkan kukunya di tangan Iyan.
Mendapati tangannya di cengkram dengan kuat oleh Septi hanya meringis saat melihat Septi berjuang sekuat tenaga untuk melahirkan calon anak mereka.
Lalu terdengar
__ADS_1
" oeeeeeeeekkkk...... "
suara bayi menangis.
Septi menarik nafas lega mendengar suara bayi yang baru dilahirkan dan Iyan tersenyum bahagia melihat buah hatinya telah lahir ke dunia sehat tidak kurang satu apapun.
Bertambah bahagia Septi dan Iyan mendengar dokter menyebutkan jenis kelamin anak mereka laki-laki,
mereka berdua bersama-sama mengucap syukur Alhamdulillah.
Bayi yang baru lahir di bersihkan oleh suster, setelah itu di berikan ke pada Iyan yang di anggap ayahnya, suster tidak mengetahui bahwa Iyan hanya ayah biologis saja.
Iyan di berikan bayi yang sudah lama di nantikan menerima dengan senang hati dan mengumandangkan azan di telinga sang bayi.
Terlihat Iyan dengan raut wajah yang cerah dan bahagia sekali bisa menyaksikan anaknya lahir ke dunia. Iyan merasa ini anaknya seutuhnya karena dia yang membuatnya tanpa terpikir oleh Iyan bahwa Septi masih berstatus istri orang.
Ke dua orang tua baru ini terlihat bahagia sekali, belum menyadari apa nasib anaknya nanti karena Septi belum berpisah dengan Aria.
Septi dan Iyan terbawa suasana dan pihak rumah sakit juga tidak curiga bahwa mereka bukan suami isteri, melihat kedekatan dan kemersaa yang di tunjukkan oleh Septi dan Iyan selama masa persalinan berlangsung.
__ADS_1
Keadaan ini semakin membuat terlena dengan ke dua insan ini, dan mereka mulai membicarakan siapa nama putra mereka.
Iyan yang baru saja dipukuli oleh Aria sampai babak belur, seketika sembuh melihat sang buah hati lahir ke dunia semua rasa sakit tergantikan dengan lahirnya sang anak yang telah lama dia nanti-nantikan.