
Tian senang mendapatkan teman bermain di rumah yaitu Fany anak Eva. Septi pun bahagia melihat mereka bisa akrab dan main bersama. Kedua anak ini memang cocok seperti adik kakak. Sama-sama kesepian tidak punya teman bermain dan kini mereka berdua bisa bermain dirumah dan di sekolah.
Kegiatan hari-hari berikutnya Tian dan Fany selalu bersama membuat Septi tidak begitu khawatir lagi bila dia harus di tempat kerja sampai sore baru pulang ke rumah.
Septi bahagia melihat keakraban yang terjalin diantara kedua anak tersebut seperti keakraban kedua ibu mereka.
Hari berganti hari minggu berganti minggu dan kini sudah satu bulan lamanya Fany berada di rumah Tian. Tidak ada tanda-tandanya Eva akan sembuh dari penyakitnya.
Hal ini membuat sedikit resah bagi Septi harus bagaimana, dia sendiri tidak masalah karena Tian menyukai Fany.
Dalam hati Septi berkata '' bila makin lama mereka akan sulit untuk di pisahkan bagaimana ini ''.
Namun untuk mengalikan Fany ini juga tidak bisa Septi lakukan karena dia sendiri yang meminta pada Eva akan menjaga Fany selama dia sakit.
Septi hanya bisa saat ini berdoa semoga penyakitnya Eva segera diangkat oleh sang pencipta sehingga bisa mengasuh Fany kembali.
Hari ini apa yang di takutkan Septi terjadi kabar dari suami Eva bahwa penyakit Eva makin parah.
__ADS_1
Eva sudah menjalani operasi yang kedua namun di periksa kembali penyakitnya tetap masih ada karena sudah menjalar ke bagian yang lain. Dan dokter sudah berusaha namun keganasan kangker ini sungguh luar biasa, serta terapi juga telah dilakukan untuk membunuh virus kanker yang ada di tubuh Eva.
Eva sendiri telah menjalankan terapi tiga kali namun tidak mendapatkan hasil, dan Eva saat ini meminta untuk menghentikan terapinya yang memakan jumlah uang yang tidak sedikit. Seluruh tabungan mereka telah habis dan kendaraan mobil sang suami telah dijual untuk menutupi biaya rumah sakit.
Tiga bulan berlalu Eva keadaannya semakin memperhatinkan. Eva meminta Septi membawa Fany pulang dia sudah sungguh rindu dengan sang anak.
Hari ini setelah pulang sekolah Septi mengantarkan Fany pulang kerumah Eva.
Septi bersama Tian mengantarkan Fany pulang. Tiba di rumah Septi tidak bisa menahan rasa terharu melihat keadaan sahabat nya ini, yang jauh dari sebelumnya.
Tubuh Eva saat ini seperti tulang yang dibungkus dengan kulit.
Septi rasanya ingin menangis bila tidak ada anak-anak di sekitar mereka.
Eva juga memberikan kedipan pada Septi agar bisa bertahan di depan anak-anak.
'' Eva mengapa kamu semakin kurus !'' ucap Septi.
__ADS_1
'' saya tidak ada nafsu makan Sep ''
berkata Eva.
'' ibu mengapa tidak makan yang banyak sehingga tubuh ibu kurus seperti ini !'' ucap Fany.
Fany memang tidak mengetahui bahwa penyakit Eva sang ibu sudah parah yang ia tahu ibunya sedang sakit.
'' iya sayang, ibu kangen sama kamu jadi ibu tidak berselera makan '' Eva berkata.
'' mengapa ibu tidak bilang kalau rindu sama Fany, maka Fany akan pulang Bu !'' ucap Fany.
Mendengar perkataan Fany sang ibu terharu dan meneteskan air matanya.
Fany mendekati Eva dan menghapus air mata ibunya.
'' sudah ibu sekarang Fany sudah pulang tidak ingin pergi meninggalkan ibu lagi, maafkan Fany ibu !'' ucap Eva.
__ADS_1
Eva lalu memeluk Fany dengan erat dan membisikan bahwa dia tidak apa-apa. Septi melihat ibu dan anak ini saling berpelukan melepas rindu membuat hati Septi terharu.