Gadis Yang Malang

Gadis Yang Malang
eps 114


__ADS_3

Iyan menemani berenang Tian dan Desi selayaknya seperti seorang bapak dengan kedua anaknya.


Iyan menjalani perannya sebagai bapak yang menjaga anak-anaknya bermain di kolam renang.


Mereka dengan riang gembira berenang sambil bermain.


Dari wajah Iyan terpancar kebahagian terlihat sebab bisa bermain dengan Tian sang anak kandungnya, walaupun dia belum mendapatkan jawaban yang pasti dari Septi.


Iyan yakin Tian adalah putranya karena wajahnya sangat mirip Iyan, orang yang melihatnya juga beranggapan pasti mereka bapak dan anak.


Dewi yang melihatnya juga berkata di dalam hati bahwasanya tidak dipungkiri mereka ada keterikatan.


Namun hal ini masih disangkal oleh Septi tentang kebenaran bahwa Tian adalah anak Iyan.


Mereka bertiga berenang hampir dua jam lamanya, bila tidak dipanggil oleh Septi mereka belum juga bosan bermain berenang.


'' Tian sudah berenang nya sayang, tidak boleh terlalu lama jangan sampai kedinginan dan menggigil ''


berkata Septi.


'' iya Bu, mari kita mandi paman '' ucap Tian.

__ADS_1


'' ok,, baik...mari kita bertiga ke kamar mandi untuk membersihkan diri '' berkata Iyan.


Iyan sungguh menikmati kebersamaan dengan Tian sang anak kandungnya. Iyan memandikan Tian sedangkan Desi dimandikan oleh sang ibunya Dewi.


Septi hanya bisa melihat apa yang dilakukan Iyan.


Orang tua Septi tidak banyak berkomentar karena mereka tidak ingin membuat Septi merasa bersedih semuanya di serahkan kepada keputusan Septi.


Septi masih egan untuk membicarakan kepada orang tua nya karena dia sendiri mulai bimbang dengan situasi yang harus dihadapinya.


Akhirnya Iyan dan Tian telah selesai membersihkan dirinya.


'' iya paman, saya lapar '' ucap Tian.


'' yuk kita makan bakso itu disitu ada tulang bakso !'' berkata Iyan.


Tian lalu berjalan sambil memegang tangan Iyan menuju tukang bakso.


Mereka berdua tidak melihat ada orang yang memandangi kegiatannya. Septi ingin memanggil Tian namun kedua orang tua Septi melarang biarlah mereka makan bakso terlebih dahulu karena habis berenang perut terasa lapar walaupun tadi sebelum berenang sudah terlebih dahulu makan. Akhirnya Septi membiarkan mereka berdua ke tukang bakso.


Sesaat kemudian Dewi dan Desi keluar dari kamar mandi, mereka mendekati Septi.

__ADS_1


'' dik, dimana anak kamu dan Iyan, mengapa tidak ada disini !'' berkata Dewi.


'' itu disana mbak lagi makan bakso !'' ucap Septi.


'' ibu, saya juga lapar mari kita makan bakso juga sama kak Tian ''


ucap Desi.


Dewi dan Desi akhirnya menyusul Iyan dan Tian makan bakso. Septi hanya bisa menatap kepergian ibu dan anak tersebut tanpa ada keinginan untuk untuk bergabung dengan mereka. Dia melihat kegiatan Tian dan Iyan dari kejauhan.


Sang ayah Septi berkata '' nak, kamu bisa lihat betapa sayangnya Iyan sama Tian apa kamu tidak ingin memberikan kesempatan bagi Tian untuk merasakan kasih sayang seorang bapak kandung yang sudah ada di depan mata ''.


Septi mendengar perkataan ayahnya terkesima dan berkah


'' mungkin suatu saat nanti pasti saya akan katakan kebenaran nya ayah ''.


Septi untuk saat ini belum mau berkata terus terang tentang bapak kandung Tian.


Melihat keakraban mereka membuat Septi tersenyum dan berkata dalam hati '' maafkan ibu nak belum bisa berkata jujur tetapi ibu mempunyai alasan sendiri yang suatu saat bila kamu sudah besar pasti mengerti dengan keputusan yang ibu ambil saat ini ''.


Pada akhirnya mereka selesai makan bakso dan berjalan mendekati Septi dan kedua orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2