
Kemiripan Tian dengan Aria tidak ada, sebenarnya membuat hati kecil Aria berkata memang ini bukan darah dagingnya.
Namun dengan kenyataan itu Aria tidak putus asa sebab sang bayi masih kecil siapa tahu nanti berjalanya waktu bayi tersebut berubah dan ada yang mirip dengan Aria.
Septi hanya terdiam terpaku melihat Aria menggendong anaknya dengan mengajak bicara Tian yang masih bayi belum bisa bicara.
Begitu antusias Aria mengajak Tian untuk bicara sehingga Septi berkata " kak,,,Tian itu masih bayi belum bisa mengerti "
Aria hanya tersenyum mendengar Septi berkata, kemudian Aria membawa Tian ke luar kamar.
Di luar ada orang tua Septi sedang duduk santai sambil melihat acara televisi.
Aria menyapa mereka " selamat sore ibu dan bapak, oh,,,,iya,,,, bapak baru pulang ya dari kerja ?"
"iya,,,, nak Aria, sudah lama datangnya " berkata bapak.
" lumayan lama pak " jawab Aria
ibu berkata " nak Aria bagaimana dengan pekerjaan nya, apa masih sibuk ?"
" sekarang tidak lagi sibuk, Bu ''
__ADS_1
berkata Aria
Malam tiba waktunya makan malam keluarga besar sudah duduk di meja makan. Mereka makan dalam diam sebab bapak Septi mengharuskan selagi makan diam untuk menikmati makan agar makanan itu jadi berkah.
Selesai makan keluarga ini duduk di ruang keluarga untuk berbincang-bincang.
Septi masuk ke kamar melihat Tian lagi sedang apa di dalam kamar tadi di tinggal Septi untuk makan malam Tian ada di box sedang tidur.
" hai,,,, anak ibu sudah bangun ya"
ucap Septi
Di ruang keluarga ibu, ayah dan Aria sedang bercakap-cakap mengenai pekerjaan ayah.
Kedatangan Septi membuat Aria melihat yang ada di dalam dekapan Septi.
" sini anak ayah biar saya gendong ' kata Aria kepada Septi.
Septi merasa tidak enak dengan ke dua orang tua nya bila tidak memperbolehkan Aria menggendong Tian sang anak, menurut sepengetahuan orang tua Septi bahwa Tian anaknya Aria.
Aria berdiri dan mengulurkan tangannya untuk menerima Tian.
__ADS_1
Septi memberikan Tian kepada Aria untuk diambil, kemudian Aria memangku Tian dalam keadaan duduk di sofa.
Sang ayah Septi berkata " nak Aria sekarang ambil cuti atau cuma hari libur aja !"
Aria menjawab pertanyaan ayah Septi bahwa dia datang dalam rangka melihat Tian dan kebetulan hari libur. Aria menjelaskan bahwa dia belum bisa ambil cuti dikarenakan belum mengajukan ke kantor karena mendengar Septi di rumah orang tua nya Aria, terburu-buru untuk cepat datang tidak terpikir oleh nya untuk ambil cuti.
Aria juga mengutarakan akan membawa Septi dan Tian pulang, namun Septi tidak ingin pulang dengan alasan bekum bisa mengurus Tian sendirian.
ibu berkata " begini nak Aria bila diperkenankan tolong Septi dan Tian sampai empat puluh hari tinggal di sini, sehingga Septi sudah sehat dan juga Tian juga sudah cukup besar "
Kedua orang tua Septi mengharapkan Aria memberikan ijin ke pada Septi dan Tian untuk tinggal di rumahnya.
Aria sebenarnya tidak ingin Septi di tempat orang tuanya, dia ingin Septi dirumahnya.
Karena tidak ada respon dari Aria, diam saja...
Akhirnya sang ayah Septi berkata " nak Aria biar saja Septi di sini agar bisa melepaskan rindu & kangen antara ibu dan anak, dan nak Aria,,,
belum tahu bahwa habis melahirkan seorang ibu dalam ke adaan nifas, itu empat puluh hari tidak boleh digauli, jadi nak Aria harus puasa, maka kan lebih baik Septi di sini dulu "
Sambil tersenyum sang ayah menasehati Aria.
__ADS_1