Gadis Yang Malang

Gadis Yang Malang
eps 41


__ADS_3

Pulang dari pantai Septi mulai ceria kembali, dengan perlakuan Iyan yang begitu memanjakan dan perhatian membuat Septi seperti sang putri.


Tiba di depan rumah Septi, Iyan berpesan untuk berhati-hati menjaga buah hati mereka.


Septi hanya memberikan anggukan kepala dan berlalu masuk ke dalam rumah.


Keadaan rumah sepi membuat Septi lega dan dia membersihkan diri.


Malam tiba Aria pulang namun tidak menemui Septi yang berada di dalam kamar yang sengaja di kunci Septi.


Pagi hari menjelang Septi telah berpakaian rapi dan telah sarapan pergi ke ruko, Septi tidak ingin bertemu dengan suaminya maka bergegas pergi sebelum Aria bangun.


Keadaan ini di lakukanlah Septi sampai usia kandungannya tujuh bulan dan perut Septi terlihat membesar.


Di lingkungan tempat seperti tinggal dan di tempat dia bekerja tidak ada yang curiga tentang kehamilan Septi, karena Septi memiliki suami jadi wajar bila dia hamil. oleh karena nya hubungan terlarang Septi dan Iyan terus berjalan tanpa ada yang curiga.


Sore ini Septi tiba di rumah terkejut melihat suaminya sudah pulang dan duduk di ruang tamu.


Aria terpukau melihat keadaan Septi yang sedang mengandung.


" kamu hamil !" kata Aria

__ADS_1


" memang kenapa bila saya hamil " jawab Septi


" sudah usia berapa kehamilan kamu kok saya tidak tahu, tahu-tahu sudah sebesar itu !" kata Aria


" apa perduli mu, kamu hanya bisa menyakitiku saja selama ini " kata Septi


" bila tahu kamu hamil kan bisa saya antar ke dokter kandungan !" kata Aria


" tidak usah susah-susah, bapak bayi ini yang selalu mendampingi ke dokter kandungan " berucap Septi


Aria terbengong kok bilang bapak bayinya sedangkan dia suami Septi kan berarti Aria, namun di ingat-ingat belum pernah sekalipun mengantar Septi ke dokter kandungan untuk memeriksa kehamilan nya.


Melihat Aria berpikir dan terdiam,


Mendengar perkataan Septi bertambah besar penasaran Aria.


" memang siapa bapak bayi ini, apa bukan saya ?" kata Aria


Septi menjawab " iya...kamu bukan bapaknya !"


Bagai di sambar petir di malam hari Aria mendengar penjelasan Ani tentang bayi yang di kandung nya.

__ADS_1


Aria terduduk di lantai bersimpuh sambil mengepal ke dua tangannya.


Septi melihat ke adaan Aria merasa sedikit takut karena dia tidak ingin anaknya yang masih di dalam kandungan di apa-apa kan oleh Aria, teringat Septi pada kehamilan yang pertama mengalami keguguran.


Septi menjauh dari Aria berjaga-jaga bila dia marah atau berbuat jauh lebih kejam seperti memukul Septi karena tidak terima penghujatan istrinya.


Aria coba berpikir mengapa Septi bisa punya anak dari laki-laki lain sedangkan dia masih bisa berhubungan suami istri dengannya.


Selagi berpikir Aria mencari jawaban, Septi mencoba memberikan penjelasan ke pada Aria secara terperinci.


Hal ini sengaja Septi lakukan berharap Aria akan benci ke pada nya dan menceraikannya.


Semua telah di ceritakan Septi ke pada Aria tidak ada yang terlewatkan bahkan Septi berkata jujur dia mencintai Iyan sahabat waktu kuliah dan sekarang menjadi bos nya.


Aria selesai mendengarkan penjelasan Septi berlalu ke kamar dan menutup pintu kamar dengan keras


...prakk...


terdengar Aria memukul pintu kamar dari dalam.


Septi terdiam dan mengelus dada mengucap syukur bahwa dia tidak di apa-apa kan oleh Aria sang suami. Kemudian Septi masuk ke dalam kamarnya yang memang terpisah dari suaminya selama ini.

__ADS_1


Septi berusaha untuk tidur menjaga kandungan nya, agar besok pagi bangun tidur tubuhnya segar dan di ruko nanti Septi akan menceritakan kejadian yang terjadi malam ini ke pada Iyan sang bapak bayinya.


__ADS_2