
Pagi ini Elona bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Aruna siap mengantarkan putrinya dan duduk di teras rumah sambil menunggu taksi online tiba.
Suara klakson mobil yang berhenti di depan pagar rumahnya membuat mereka menoleh. Tampak Kanaya dan putrinya melambaikan tangan meminta mereka untuk menghampiri.
"Aruna, ayo berangkat bareng kami," ajak Kanaya dengan sangat ramah.
"Terima kasih, Kanaya. Tapi aku sudah memesan taksi online."
"Tidak apa-apa, kan bisa di cancel. Ayo cepat masuk!"
"Iya, Elona. Ayo berangkat bareng kami," ajak Cheryl yang duduk di depan samping ibunya.
"Ibu, kita bareng Cheryl dan bibi Kanaya saja ya, bu," pinta Elona penuh harap.
Akhirnya Aruna pun menerima tawaran Kanaya dan memilih untuk membatalkan pesanan taksi online nya. Mereka duduk di belakang kemudi.
Di perjalanan, tiba-tiba saja Cheryl mengatakan sesuatu yang membuat Aruna sedikit terkejut sekaligus senang.
"Elona, kau tahu, sebentar lagi aku akan memiliki ayah baru. Benar kan, bu?" ujar Cheryl kemudian meminta sang ibu untuk membenarkan kalimatnya.
"Iya, sayang."
__ADS_1
"Apa itu benar, Kanaya?" Aruna memastikan.
Kanaya melihat Aruna dari spion yang menggantung di atas. Kemudian ia membenarkan ucapan putrinya.
"Iya, Aruna. Sebentar lagi aku akan menikah."
"Wah, selamat, ya. Akhirnya kau menemukan pasangan hidup lagi. Semoga itu pasangan terakhir dan tentunya terbaik untukmu."
"Terima kasih, Aruna. Semoga kau juga cepat mendapatkan pasangan lagi yang tentunya jauh lebih baik."
"Iya, terima kasih kembali, Kanaya."
"Jadi aku juga akan segera mendapat ayah baru seperti Cheryl, bu?"
Pertanyaan Elona seketika membuat Aruna terkejut.
"Sayang, Elona bicara apa?"
"Apa ayah baru aku itu paman Haikal?" tanya bocah itu lagi dan kini membuat Aruna sedikit gugup dan salah tingkah.
"Elona, sayang. Sudah, tidak perlu di bahas lagi, ya. Yang akan memiliki ayah baru itu Cheryl, nak. Bukan Elona."
__ADS_1
"Aku pikir aku juga akan mendapat ayah batu lagi."
Elona menunduk, ia membayangkan jika ia juga bisa mendapat ayah baru seperti Cheryl. Dan ia berharap ayah barunya adalah pria yang sering ia panggil dengan sebutan paman. Paman Haikal.
***
Di tempat lain, seorang pria tampak kehilangan fokus kerjanya. Kedua matanya memandang layar komputer, akan tetapi tatapan nya kosong.
Obrolan nya kemarin dengan Gavin saat makan siang yang membuat dirinya kehilangan fokus kerja.
"Bagaimana jika nantinya Aruna dan Elona benar-benar mendapatkan keluarga kecil barunya. Dan orang tersebut adalah sepupunya Gavin. Aku masih takut jika Elona akan melupakan aku, dan aku tidak lagi berharga baginya."
"Apa aku benar-benar akan ikut bahagia melihat kebahagiaan mereka?"
"Bohong rasanya jika akupun ikut bahagia. Sebab itu awal dari penderitaanku sendiri. Sementara aku tidak tahu nantinya harus hidup dengan siapa, bahkan aku tidak tahu apakah aku akan mendapatkan sebuah kebahagiaan dari wanita selain Aruna."
"Harapan aku masih jauh lebih besar di banding perasaan ikhlas ku."
Abian mengusap wajahnya sedikit kasar, di barengi dengan hembusan napas kecil. Ia benar-benar kehilangan fokus kerjanya hari ini hanya karena memikirkan hal tersebut.
_Bersambung_
__ADS_1