
Sampai di rumah, Aruna langsung membuatkan susu untuk Elona dan meminta putrinya untuk segera tidur.
"Tapi ibu, ini kan belum malam. Elona belum mengantuk," protes bocah itu.
Aruna melirik jam dinding berukuran kecil yang menempel di tembok kamar putrinya. Ia sampai tidak sadar jika ini baru jam lima sore.
"Ah ya, ibu kira ini ini sudah malam. Maaf ya, sayang. Kalau begitu Elona habiskan susu nya, kalau Elona mau menggambar atau mewarnai, Elona sendiri dulu saja, ya. Ibu mau masak untuk makan malam."
"Ibu." Elona menarik pergelangan tangan dang ibu ketika wanita itu hendak beranjak.
Aruna menoleh. "Ya, kenapa?"
"Sebelum aku melupakan kejadian antara ibu dan paman Haikal tadi, apa aku boleh bertanya sesuatu pada ibu?" ucap Elona penuh harap.
__ADS_1
"Elona mau tanya apa lagi, nak? Sudah ya, ibu mau masak dulu."
"Sebentar, ibu." Lagi-lagi Elona mencegah ibunya yang hendak pergi. "Aku masih rindu dengan paman Haikal. Bahkan aku tidak sempat mengobrol dengannya. Tapi kenapa ibu buru-buru mengajakku pulang? Padahal sebelum pergi ke sana, ibu pun terlihat semangat seperti aku. Apa itu karena ibu tidak suka ada miss Ayu?"
"Sayang .. Elona bicara apa, nak? Ibu sudah katakan jangan bahas itu lagi. Lupakan saja, ya. Sekarang ibu mau masak dulu, Elona tunggu di sini."
"Besok kita jenguk paman Haikal lagi ya, bu."
"Lain kali saja ya. Sudah, ibu mau masak, Elona tunggu di sini. Okay!?"
"Kalau begitu aku mau menjenguk paman Haikal bersama miss Ayu saja."
Aruna mematung. Ia berusaha mengendalikan dirinya dengan menghirup napas panjang.
__ADS_1
"Ibu yang temani saja," jawab Aruna tanpa menoleh, sebelum kemudian dia melanjutkan langkahnya menuju dapur.
"Ada apa dengan ibu? Kenapa sikap ibu jadi aneh?" pikir bocah itu.
Sementara di dapur. Kedua tangan Aduna memegang pantry dan wajahnya sedikit menunduk. Kedua matanya terpejam. Ia sedang berusaha mengatur napas.
"Ya Tuhan kenapa semuanya jadi seperti ini? Aku tahu Haikal sangat baik padaku. Bahkan Haikal sudah baik sejak dulu. Sebelum aku mengenal Abian. Tapi karena Abian yang berhasil mengambil hatiku, oleh karena itu aku lebih memilih Abian untuk jadi pasangan aku. Dan sekarang, Haikal kembali datang dan membawa perasaannya kembali untukku. Bahkan Haikal tidak hanya baik padaku, tapi juga pada Elona. Dia kelihatan sayang sekali pada Elona, begitu juga sebaliknya. Elona sudah nyaman dengan Haikal. Haikal juga sampai mengorbankan dirinya demi Elona."
Aruna menghela napas panjang.
"Aku bingung harus bersikap seperti apa sekarang. Aku takut mengecewakan Haikal untuk kesekian kalinya. Karena jujur, aku belum bisa membuka hatiku untuk siapapun. Aku terlalu takut, aku takut jika kejadian yang menimpa rumah tangga ku akan terulang. Aku tidak sanggup jika harus mengalaminya lagi. Meski Haikal mungkin tidak akan pernah melakukan hal itu, Abian pun tidak pernah terbayangkan akan melakukan hal itu sebelumnya."
"Ini salah aku juga. Abian mungkin tidak akan pernah melakukan hal itu jika aku tidak ceroboh. Ini salahku juga. Ini salahku. Salahku."
__ADS_1
Aruna memang tidak berharap akan kembali lagi dengan Abian. Tapi jika ia bisa memutar mesin waktu, mungkin ia tidak akan pernah memasukan wanita lain ke dalam rumahnya. Sekalipun itu temannya sendiri.
_Bersambung_