
Haikal merasa lebih baik usai meminum obat, Aruna bisa bernapas lega. Dan tangis Elona kini berhenti. Jujur mereka sangat panik begitu melihat Haikal kesakitan seperti tadi. Bahkan asisten rumah tangganya pun ikut khawatir melihatnya.
"Kenapa telat minum obat?" seru Aruna.
Haikal malah mengulas senyum tipis. "Aku merasa lebih baik. Aku pikir aku tidak lagi membutuhkan obat-obat itu," jawabnya dengan santai, padahal Aruna sudah sangat ketakutan.
"Lain kali jangan pernah seperti ini lagi. Kau membahayakan dirimu sendiri. Bagaimana kalau di rumah tidak ada siapa-siapa? Siapa yang akan menolong mu?"
Jelas sekali jika Aruna begitu mengkhawatirkan Haikal. Pria itu merasa dirinya di perhatikan.
"Maaf ya sudah buat kau cemas," ucap Haikal kemudian.
Aruna masih kesal dengan Haikal lantaran apa yang di lakukan pria itu sangat membahayakan dirinya sendiri. Dan ia akan menjadi orang pertama yang merasa sangat bersalah jika sesuatu buruk terjadi pada Haikal.
Andai kau jadi istriku, Aruna. Mungkin aku akan menjadi pria yang beruntung dan juga bahagia. Ketika aku dalam keadaan seperti ini, kau bisa merawatku dua puluh empat jam di sertai dengan perhatian dan bentuk kepedulianmu yang begitu besar. Aku harap apa yang aku inginkan ini bisa jadi kenyataan.
"Paman jangan lupa makan obatnya, ya. Aku takut paman kenapa-kenapa. Paman Haikal harus sembuh agar kita bisa main lagi," pinta Elona dengan menggenggam erat tangan besar pria itu.
Haikal membalasnya dengan usapan lembut di puncak kepala Elona. "Iya, sayang. Paman janji. Maafin paman, ya."
Elona mengangguk. "Janji ya, paman." Elona memberikan jari kelingkingnya dan di jabar oleh kelingking Haikal.
"Janji."
__ADS_1
Begitu saja sudah membuat Haikal merasa sangat bahagia. Dan sekarang ia memiliki semangat lebih untuk segera sembuh, meski ia sendiri belum tahu kapan ia bisa jalan normal seperti dulu.
Tidak terasa, waktu sudah menunjukan jam lima lebih sepuluh menit. Aruna dan Elona harus segera pulang sebelum matahari terbenam. Asisten rumah tangga di sana juga sudah pamit pulang sepuluh menit lalu.
"Haikal, kalau begitu aku dan Elona pulang dulu, ya. Besok aku ke sini lagi, tapi tidak janji juga. Tidak apa-apa kan?"
Haikal mengangguk meski sebenarnya ia berat jika harus berpisah dengan mereka.
"Iya, tidak apa-apa."
"Jangan lupa minum obatnya. Nanti Gavin menginap lagi kan?"
"Aku tidak tahu. Gavin tidak bisa setiap malam menginap di sini. Kalau dia sedang sibuk dengan pekerjaannya, dia tidur di apartemennya."
"Iya, Terima kasih sudah memberiku surprise dengan datang ke sini bersama Elona."
"Sama-sama."
Haikal beralih pada Elona.
"Elona, terima kasih ya sudah datang menjenguk paman."
"Sama-sama, paman Haikal. Paman janji paman harus segera sembuh. Jangan telat lagi minum obatnya, ya. Kalau paman seperti tadi, aku akan marah karena paman tidak menepati janji."
__ADS_1
Haikal mengulas senyum tipis. "Jangan marah dong, nanti cantiknya berkurang," goda pria itu.
"Makanya paman jangan ingkar."
"Iya, sebisa mungkin paman akan ingat dengan janji kita."
Haikal mencubit ujung barang hidung Elona dengan gemas.
"Ya sudah, kalau begitu aku pamit permisi, ya." pamit Aruna.
"Naik taksi online?"
"Iya."
"Ya sudah, hati-hati. Tolong beritahu driver nya jangan ngebut bawa mobilnya. Dia membawa calon keluarga kecilku."
Mendengar kalimat itu membuat Aruna kembali gugup bahkan salah tingkah. Aruna berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain. Akhir-akhir tatapan Haikal seolah menghipnotis dirinya hingga jantungnya berpacu lebih cepat di atas normal.
"Iya, kami permisi."
Aruna meraih pergelangan tangan putrinya, dan membawanya pergi dari sana. Haikal memandang punggung kepergian mereka sampai hilang dari pandangannya.
"Aku yakin, suatu saat kita pasti bisa bersama, Aruna. Aku tidak akan lagi menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Tuhan berikan padaku. Aku sangat yakin jika kau ini memang di takdirkan untukku. Dan mungkin sekarang adalah waktunya. Melalui takdir perpisahannya yang bisa jadi menyatukan kita bertiga bersama Elona."
__ADS_1
_Bersambung_