GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Makan Siang


__ADS_3

"Nanti aku jemput jam berapa, sayang?" tanya Abian pada Aruna melalui sambungan telepon.


"Jam empat sore," jawab Aruna dari sebrang sana.


"Ok. Jam setengah empat, aku on the way."


"Iya. Ah ya, kau tidak di ke kantor lagi?"


"Tidak. Aku di rumah. Tadi sepulang sekolah Elona minta makan pizza di tempat biasa. Lalu dia minta aku menemaninya menyusun puzzle. Dan sekarang, Elona sedang tidur di temani oleh Ziva," jelas Abian.


"Oh, begitu. Ya sudah, kalau begitu aku tutup telepon nya, ya. Aku harus kembali bekerja. Jangan melewatkan makan siangmu," pesan Aruna sebelum akhirnya sambungan telepon berakhir.


Abian menggenggam ponselnya. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. Jarum jam sudah mengarah ke angka dua belas. Ia harus segera membeli makanan untuk makan siang.


Begitu menoleh ke arah pintu, ia mendapati Ziva tengah berdiri di sana. Dengan senyuman yang biasa dia lemparkan untuknya. Abian bangkit berdiri lalu menghampiri wanita itu.


"Sedang apa kau di sini?"


"Aku ingin mengajakmu makan siang bersama," jawab wanita itu.


"Kau sendiri saja," tolak Abian.


"Aku ingin makan siang denganmu. Elona kan sedang tidur, kita bisa keluar berdua. Bagaimana?"


Abian bergeming. Ia menatap Ziva untuk beberapa saat.


"Tidak perlu keluar. Aku akan pesan makanan nya lewat aplikasi online. Nanti makan siang nya setelah Elona bangun."

__ADS_1


"Ok, tidak masalah."


Ziva beranjak pergi sembari menggibaskan rambut panjang nya yang di sengaja di gerai pada wajah Abian.


Pria itu memejamkan mata begitu mencium wangi nya rambut Ziva. Mengingatkan nya pada aroma vanilla bibir Ziva pada saat wajah mereka tidak sengaja berdekatan di sofa ruang tamu.


Abian menarik napas panjang. Kembali mengontrol diri agar ia dapat menahan hawa naffsu nya.


Lima belas menit usai meng order, makanan yang di pesan Abian pun datang. Pria itu membayar nya lewat aplikasi. Kebetulan Elona juga sudah bangun, jadi mereka memulai makan siang nya.


Abian membeli tiga porsi makan. Satu untuk Elona, satu untuk Ziva, dan yang satunya lagi untuk dirinya.


"Ibu pulang malam lagi, ayah?" tanya Elona saat mereka sudah berada di meja makan.


"Tidak, sayang. Sebelum petang, ibu sudah ada di rumah. Kau rindu dengan ibumu?"


Elona mengangguk. "Iya, ayah. Biasanya ibu memiliki jatah libur. Kenapa sekarang ibu bekerja terus?"


"Elona ingin ibu setiap hari ada di rumah, menemani Elona sepanjang hari?"


Elona menganggukan kepalanya. "Tentu saja, ayah."


"Kalau begitu, Elona harus sabar, ya. Ibu tidak mengambil jatah cuti nya supaya ibu bisa cepat-cepat selesai bekerja. Setelah itu, ibu akan selalu ada di rumah," jelas Abian terpaksa bohong.


"Sungguh? Apa ayah tidak sedang membohongiku?"


"Tidak, sayang. Ayah berkata jujur. Jadi sekarang Elona sudah paham kan?"

__ADS_1


Elona mengangguk. "Iya, ayah."


Abian mengacak pangkal rambut putrinya dengan gemas.


"Elona tidak perlu khawatir, sayang. Kan ada bibi yang selalu menemanimu," timpal Ziva.


"Iya, bibi. Terima kasih. Bibi baik sekali."


"Iya, cantik." Ziva mencubit ujung dagu Elona dengan gemas.


"Elona, di makan makanan nya, sayang. Nanti keburu dingin," ucap Abian mengingatkan.


"Baik, ayah." jawab Elona menurut..


Mereka pun memulai makan siangnya. Sambil menyendok dan mengunyab makanan, Ziva sama sekali tidak mengalihkan pandangan nya dari wajah Abian.


"Mau aku suapin?" tawar Ziva sampai membuat pria itu terbatuk tersedak makanan.


"Uhuk uhuk .. Uhuk .." Ziva memberi segelas air pada Abian, pria itu menerima dan meminum nya.


"Ayah, ayah kenapa?" tanya Elona.


Abian menggeleng. "Tidak apa-apa."


"Pelan-pelan makan nya, ayah."


"Iya, sayang."

__ADS_1


Abian kembali meneguk minum nya hingga habis sampai setengahnya. Ia sampai terbatuk lantaran Ziva mengatakan sebuah tawaran tersebut di depan Elona. Ia khawatir jika Elona akan menceritakan nya nanti pada Aruna.


_Bersambung_


__ADS_2