GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Paman Gavin Baik


__ADS_3

Setelah puas bermain, Aruna pamit untuk pulang lantaran hari sudah sore dan matahari sudah hampir tenggelam.


"Aku belum bisa antar kalian pulang. Bagaimana kalau pulang di antar Gavin saja? Aku akan minta dia untuk antar kalian pulang," ucap dan tawar Haikal.


"Tidak, tidak usah. Aku bisa naik taksi online. Aku tidak mau merepotkan dia," tolak Aruna segan.


"Gavin senang di repotkan. Jadi gak usah sungkan, ya. Tunggu sebentar, aku panggil Gavin dulu."


"Haikal, tidak usah. Haikal ..."


Pria itu tetap kukuh ingin Gavin mengantarkannya. Tidak berapa lama dia kembali bersama Gavin.


"Anak manis, paman Gavin yang antar, ya," tawar Gavin di angguki oleh Elona.


"Iya, paman. Itupun jika paman tidak merasa di repotkan," jawab Elona.


"Tidak, anak manis. Paman tidak merasa di repotkan. Justru paman senang bisa antar Elona pulang."


Elona beralih menatap paman Haikal nya.


"Paman Haikal tidak marah kami di antar pulang oleh paman Gavin?" tanya bocah itu polos dan seketika menciptakan tawa.


"Tidak, paman tidak marah. Tapi kalau paman Gavin berani jahatin Elona, paman Haikal baru marah pada paman Gavin," jawab Haikal.


"Paman Haikal bilang paman Gavin orang baik. Jika paman Gavin orang baik, mana mungkin paman Gavin jahatin aku," sahut Elona di acungi jempol oleh Gavin.

__ADS_1


"Kau benar, anak manis. Mana mungkin paman jahatin Elona, ya."


"Iya, paman. Ya sudah, kalau begitu ayo antar aku dan ibu pulang," pinta bocah itu.


"Ok, siap."


Gavin beranjak untuk memutar balik dulu mobilnya, sementara Aruna di buat geleng-geleng oleh putrinya.


Gavin membunyikan klakson mobil usai memutar balik mobilnya, dengan cepat Haikal membukakan pintu samping bagian belakang kemudi untuk kedua orang yang ia anggap sebagai calon keluarga kecilnya.


"Terima kasih," ucap Aruna.


"Iya, hati-hati, ya. Jangan lupa beri kabar jika sudah sampai rumah," pesan Haikal sebelum Aruna dan Elona masuk ke dalam mobil.


"Iya, cantik."


Elona melambaikan tangan dan di balas oleh Haikal sampai mobil yang di kemudikan oleh Gavin pergi meninggalkan halaman rumah dan hilang dari jangkauan matanya.


Di perjalanan, sesekali Gavin melirik ke arah spion yang menggantung di atas yang memantulkan Aruna dan Elona. Ia mengulas senyum tipis.


Beruntung sekali jika Haikal bisa memiliki keluarga kecil seperti mereka. Abian juga termasuk orang yang beruntung, tapi sayangnya mata hatinya tertutup karena kehadiran Ziva. ucap Gavin dalam hati.


Pria itu berandai-andai di beri keluarga kecil seperti kedua orang yang saat ini duduk di jok belakang. Ia berharap suatu hari di beri jodoh yang bisa menghargainya sebagai seorang suami, tentunya memberikan kebahagiaan berupa buah hati sebagai pelengkap. Sebab sebelumnya ia menikah dengan wanita yang tidak bisa memiliki anak. Alasan itu yang di jadikan Ziva sesuka hati main dengan banyak pria.


Tapi ia sangat bersyukur bisa berpisah dengan Ziva. Tuhan telah mengambil hal yang buruk darinya, dan pasti akan di gantikan oleh hal yang jauh lebih baik.

__ADS_1


Tidak terasa, mobil yang di kemudikan oleh Gavin sudah sampai di luar pagar rumah Aruna.


"Terima kasih sudah mengantar kami, Gavin," ucap Aruna.


"Terima kasih ya, paman Gavin," ucap Elona.


"Iya, sama-sama," jawab pria itu.


Aruna lekas turun dari mobil tersebut.


"Kalau begitu aku pamit," ucap Gavin di balik kaca pintu mobil.


"Iya, hati-hati."


"Terima kasih."


Elona melambaikan tangannya seiring mobil itu pergi.


"Paman Gavin baik ya, bu. Sama seperti paman Haikal," puji bocah itu.


"Iya, sayang. Kalau begitu ayo kita masuk dan langsung mandi bersih-bersih."


"Ok, ibu." jawab Elona menurut.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2