
Selama kerja di perusahaan Gavin, setengah gaji dirinya ia jadikan untuk modal bisnis kecil-kecilan. Gavin selalu memberi uang lebih padanya, meski sudah menolak berulang kali karena ia segan, Gavin tetap mentrasfer lebih da puluh lima persen dari gajinya. Abian juga tidak lupa memberi nafkah pada putrinya, sebab Elona merupakan tanggung jawab dan kewajibannya.
"Hei, apa yang sedang apa kau pikirkan?"
Pertanyaan Gavin membuyarkan pikiran Abian. Ia tidak tahu jika pria itu akan datang mengampiri kubikelnya.
"Tidak, tidak ada. Maaf jika aku melamun."
"Tidak apa-apa. Lagipula ini sudah waktunya jam makan siang. Sudah waktunya istirahat."
Abian melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Mau makan siang bareng?" tawar Gavin kemudian.
"Aku masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan karena barusan melamun," tolak Abian sopan.
"Nanti kau bisa lanjutkan. Sekarang makan siang dulu saja. Ayo."
Abian mengangguk patuh. Dan menerima ajakan Gavin.
"Iya."
Abian merapikan dulu berkas-berkas di meja nya, sebelum kemudian ia pergi menyusul langkah Gavin yang sudah lebih dulu beranjak pergi.
__ADS_1
Gavin dan Abian makan di restoran terdekat.
"Nanti aku akan bayar makan sendiri, aku tidak enak jika kau terus mambayarkan makananku."
"Tidak apa-apa. Kau tidak perlu merasa segan. Ah ya, bagaimana usaha bisnis mu?"
"Alhamdulillaah, berjalan dengan baik. Terima kasih karena kau sudah bantu aku untuk menemukan orang-orang yang bisa di percaya. Mereka semua baik-baik."
"Ya, sama-sama."
Tidak berapa lama, seorang pelayan datang mengantarkan makanan ke meja mereka. Setelah pelayan itu pergi, barulah mereka melanjutkan obrolan.
"Bagaimana keadaan sepupuku sekarang?" tanya Abian tiba-tiba.
"Haikal?"
"Jangan sebut namanya."
"Dia sudah membaik. Bahkan terakhir aku dengar kabarnya kemarin dia sudah bisa jalan."
Abian mendongkan kepalanya menatap Gavin yang masih fokus menyantap makanan.
"Benarkah?"
__ADS_1
"Iya."
Abian diam seketika. Jika Haikal sudah bisa jalan lagi, itu artinya ia semkain sulit untuk bisa bersama lagi dengan keluarga kecilnya. Haikal pasti akan menjadi orang yang mewujudkan impian yang dulu pernah mereka rencanakan.
Seketika semangat Abian terkikis. Rupanya ia memang harus mengubur dalam-dalam harapannya. Sebab Aruna pasti tidak akan pernah memberinya kesempatan kedua.
"Jangan berpikir apapun. Kalau pada akhirnya sepupuku yang memenangkan Aruna, kau tidak perlu sedih. Aruna berhak bahagia dengan pilihannya. Dan aku yakin suatu hari kau pun akan mendapat porsi bahagiamu," tutur Gavin bijak.
"Masalahnya aku sendiri tidak tahu, Vin. Apakah aku bisa menemukan kebahagiaan lagi atau tidak? Sebab bahagia diriku hanya ada pada Aruna dan juga putriku."
"Ini hanya masalah waktu saja. Kau bicara seperti ini karena kau belum menemukan sosok yang akan menghantarkan dirimu pada kebahagiaan itu. Sama halnya seperti kau bisa mengatakan akan tetap setia pada Aruna sebelum datangnya Ziva."
"Tolong jangan sebut nama dia lagi, aku tidak lagi ingin mendengar namanya."
"Iya, maaf," ucap Gavin.
"Iya, tidak apa-apa."
Abian melanjutkan kembali makannya, meski pikirannya sibuk berperang.
"Sekarang kau cukup fokuskan saja dirmh pada bisnismu. Sebab jika usaha bisnismu berhasil, maka kau mungkin tidak perlu repot-repot kerja lagi di perusahaan ku. Kau sudah sukses nanti."
Abian mengulas senyum. "Meski nanti aku tidak lagi bekerja di perusahaanmu. Sedikitpun aku tidak akan pernah melupakan dirimu dan kebaikanmu. Jika pada akhirnya aku sukses, itu tidak terlepas dari bantuan dirimu."
__ADS_1
_Bersambung_