
"Halo, sayang .."
Sapaan seseorang membuat Elona mengalihkan perhatiannya dari gambar yang sedang ia warnai. Begitu mendongak, sosok orang yang saat ini ia benci berdiri di hadapan nya dengan senyum yang mengembang dengan sempurna.
"Aku sudah katakan sebelumnya, aku tidak ingin melihat wajah ayah lagi. Kenapa ayah masih muncul di hadapanku?"
Sebuah kalimat yang sangat menyakitkan. Tapi Abian berusaha untuk menunjukan kasih sayang nya yang lebih besar dari pada rasa sakitnya.
Abian mengeluarkan tangannya yang ia sembunyikan dari belakang badannya.
"Ayah belikan coklat untuk Elona. Ini coklat kesukaan Elona kan?"
Elona melihat dua buah coklat di tangan ayahnya. Sejujurnya ia ingin sekali mengambil coklat tersebut dari tangan ayahnya.
"Aku tidak lagi makan coklat, gigiku akan sakit setelah memakannya," jawab Elona.
"Kalau begitu nanti ayah belikan pizza saja, ya. Elona pasti mau kan?"
Elona menggeleng. "Aku tidak suka pizza lagi setelah makan dengan bibi Ziva."
Abian menghembuskan napas pelan. Ia harus bisa membujuk Elona agar anak itu tidak lagi marah apalagi membencinya.
Abian berjalan selangkah untuk lebih dekat lagi dengan Elona. Ingin sekali ia memeluk tubuh mungil yang sangat ia rindukan.
"Elona suka menggambar dan mewarnai. Bagaimana kalau ayah yang menggambar dan Elona yang mewarnai gambarnya?" tawar Abian.
__ADS_1
"Tidak usah, ayah. Aku bisa menggambar sendiri."
"Benarkah? Tapi ayah bisa gambar yang sangat bagus, sayang."
"Maaf, ayah. Tidak usah," tolak Elona kukuh.
Abian tidak akan menyerah sampai di sana, waktu istirahat Elona tidak lama lagi dan ia harus bisa manfaatkan itu.
Kedua matanya kini beralih pada pensil warna Elona.
"Ah ya, ibu belikan pensil warna baru untuk Elona?" tanya Abian dan Elona menggeleng.
"Aku mendapatkannya dari teman ibu."
Jawaban Elona menarik perhatian Abian.
"Paman Haikal."
Ekspresi wajah Abian berubah seketika.
"Haikal? Apa nama itu sama dengan orang yang aku hajar di taman? Pria yang berani menyentuh tangan Aruna?" Pikir Abian.
"Kenapa Elona terima pemberian dari orang yang tidak Elona kenal?"
"Paman Haikal teman ibu. Sama halnya seperti bibi Ziva teman ibu. Kenapa ayah juga mau di ambil oleh bibi Ziva, padahal ayah sama sekali tidak mengenalnya?"
__ADS_1
Elona memang masih anak kecil, tapi cara berbicara Elona melebihi orang dewasa. Bahkan Abian di buat bungkam oleh pertanyaan putrinya.
"Sayang-"
"Paman Haikal tidak seperti bibi Ziva. Keduanya sama-sama teman ibu. Bedanya, paman Haikal baik sementara bibi Ziva jahat. Bibi Ziva tidak hanya mengambil ayah dari ibu, tapi juga mengambilnya dari aku."
"Elona, sayang-"
"Sebaiknya ayah pergi saja, sebentar lagi waktu istirahatku akan segera habis."
Lagi-lagi Elona memotong pembicaraan ayahnya. Ia sama sekali tidak memberi ayahnya kesempatan untuk berbicara.
"Sayang, ayah merasa sakit sekali mendengar Elona membenci ayah," ungkap Abian.
"Lalu sakitan mana dengan rasa sakit ibu?"
Abian kembali bungkam. Kenapa ia bisa memiliki putri yang pandai sekali bicara.
Satu persatu teman-teman Elona mulai masuk kelas, sepertinya jam istirahat mereka sudah habis.
"Elona boleh benci ayah, tapi asal Elona tahu, jika ayah tetap menyayangi Elona tanpa berkurang sedikitpun."
Abian mengusap pangkal rambut putrinya sebelum akhirnya beranjak dari sana.
Elona memandang kepergian ayahnya.
__ADS_1
"Maaf, ayah. Akupun sayang padamu. Tapi kenapa ayah harus menyakiti ibu?"
_Bersambung_