GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Butuh Bantuan


__ADS_3

Niat ingin melamar pekerjaan, sepertinya harus di tunda. Lantaran mobil Abian mengalami mogok di dekat halte bus yang sudah tidak di pakai di pinggir jalan yang sepi.


Beruntungnya ada satu mobil yang melintas dan segera Abian hentikan untuk meminta pertolongan. Mobil itupun berhenti.


"Tunggu sebentar, ya. Sepertinya orang itu butuh bantuan."


"Hati-hati, takutnya dia orang yang ingin menipu dan mempunyai niat buruk seperti merampok," kata pria yang duduk di sampingnya memberi peringatan.


"Tenang saja, sepertinya dia memang butuh bantuan."


"Ok, aku bantu pantau dari sini."


"Iya."


Pria itupun keluar dari mobilnya, berniat menghampiri orang yang baru saja menghentikan mobilnya.


"Hei, ada apa?" tanya nya kemudian.


"Aku butuh bantuan. Bisakah kau membantuku? Mobilku mogok."


"Aku punya montir khusus. Aku bisa panggilkan dia untuk datang ke sini."


"Terima kasih. Aku juga memiliki montir khusus, tapi dia sulit sekali aku hubungi."


"Kalau begitu, aku coba hubungi montir ku dulu."


"Iya, silahkan."

__ADS_1


Pria itupun menelpon orang yang dia maksud barusan, beruntungnya sambungan telepon terhubung. Montir tersebut siap meluncur ke alamat tersebut.


"Montir nya akan segera datang ke sini. Sepuluh menitan sampai."


"Baik, terima kasih banyak atas bantuannya."


"Sama-sama."


Abian terlihat membuka dompet, hendak memberi sejumlah uang pada pria yang membantunya untuk memanggil montir.


Seketika pria itu tercengang, manik matanya tertuju pada pada foto yang terdapat di dompet itu.


"Aruna."


Abian mendongakan wajahnya begitu mendengar nama yang di ucapkan oleh pria di hadapannya. Pandangannya beralih pada foto yang terdapat di dompetnya.


Pria itu kini terkejut.


"Kau suami Aruna?"


"Ya, tapi lebih tepatnya sekarang Aruna sudah menjadi mantan istriku."


Pengakuan Abian lebih mengejutkan lagi.


"Aku tidak begitu mengenal siapa Aruna, aku hanya tahu saja. Sebab Aruna adalah teman mantan istriku. Tempo hari aku pernah datang ke rumahmu dan bertemu dengannya. Aku memberi peringatan padanya agar ber hati-hati pada mantan istriku. Dan ternyata memang kejadian."


Abian mengernyit. Ia tidak begitu paham dengan apa yang pria itu katakan. Ia berusaha mencerna baik-baik perkataannya.

__ADS_1


"Mantan istri yang kau maksud itu, Ziva?"


"Tepat sekali. Dan sepertinya kita harus bicara, meski kita kita saling mengenal. Bagaimana?"


Abian diam sejenak. Jika ia menolak, ia merasa segan lantaran pria itu baru saja memberinya pertolongan. Akhirnya ia pun mengangguk setuju.


"Ya sudah, kalau begitu kita bicara di sana saja, ya." Pria itu menunjuk ke bangku halte dekat tempatnya berdiri.


"Iya," jawab Abian setuju.


Keduanya pun berjalan beberapa langkah dan duduk di sana. Abian penasaran, apa yang ingin pria itu bicarakan dengannya.


Sementara pria yang menunggu di mobil untuk memantau pergerakan juga ikut di buat penasaran.


"Kenapa Gavin malah mengajak pria itu berbicara? Apa mereka saling kenal?" pikirnya.


"Semoga Gavin tidak lama, aku ingin segera meluruskan kaki ku usai di jahit tadi."


Pria yang merupakan sepupunya Gavin itu memutuskan untuk tetap menunggu di dalam mobil. Tapi jika Gavin mengobrol lama, maka ia harus turun dan mengajak Gavin untuk segera mengantarnya pulang.


"Namaku Gavin, dan Ziva adalah mantan istriku. Pada saat itu, statusku masih suami Ziva. Di antara kami ada masalah yang menyebabkan pertengkaran besar. Dan Ziva memutuskan untuk pergi. Karena Ziva masih istriku, aku sebagai suami memiliki kewajiban untuk mencarinya."


"Kebetulan aku tahu siapa saja teman terdekat Ziva, meski tidak kenal. Aku berusaha mencari Ziva dari teman-temannya, dan teman Ziva yang terakhir ku temui adalah Aruna. Aku memutuskan untuk datang ke rumah Aruna, lalu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Awalnya Aruna tidak memberi tahu jika Ziva memang tinggal di rumahnya. Tapi aku memberi sebuah peringatan padanya agar berhati-hati agar tidak membiarkan Ziva berdua dengan suaminya, yaitu kau."


"Kemudian, barulah Aruna mengaku jika Ziva memang tinggal di rumahnya. Dan beberapa hari setelah itu, aku bertemu lagi dengan Ziva. Dia tampak sedang berjalan menyusuri jalan dan wajahnya tampak kacau. Aku rasa di diusir oleh Aruna, mungkin saja Aruna sudah mengetahui apa yang aku peringatkan sebelumnya. Dan apakah di antara kau Ziva memang terjadi sesuatu?"


Pertanyaan Gavin membuat Abian diam seketika. Ia menatap Gavin dengan penuh rasa malu.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2