
Keesokan harinya, Aruna berangkat mengantar putrinya. Hari ini ia bagian shift siang. Dan harus pulang jam malam. Oleh sebab itu sebelum berangkat kerja, ia menyempatkan diri untuk menjenguk Haikal di rumah sakit. Tidak lama, hanya sekitar setengah jam, setelah itu ia pulang.
Meski sebentar, Haikal merasa senang. Sebab Aruna meluangkan waktu untuk menjenguknya.
Sampai tiga hari berikutnya, Aruna tetap meluangkan waktu untuk menjenguk pria itu. Dan hari ini, Aruna kerja bagian shift pagi. Ia bisa menjenguk Haikal sore hari bersama Elona setelah pulang kerja.
"Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan paman Haikal, ibu," ujar bocah itu saat mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Sepuluh menit lagi kita sampai, sayang. Sabar, ya."
"Iya, ibu. Paman Haikal pasti suka jika kita datang ke sana. Apalagi kita bawa buah-buahan untuknya." Elona melirik parsel buah yang ada di sampingnya.
Aruna mengulas senyum. Putrinya sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah sakit bertemu Haikal.
Sepuluh menit berikutnya, mobil yang mereka tumpangi sudah tiba di rumah sakit tempat Haikal di rawat. Mereka bergegas turun dari mobil dan langsung masuk ke rumah sakit tersebut.
"Kalau paman Haikal masih di sini, dan sekolahku libur, aku ingin menginap di sini menemani paman Haikal. Paman Haikal kan sudah menyelamatkan aku dari bahaya. Boleh kan bu kalau kita menginap di sini?"
__ADS_1
Sambil berjalan menuju ruangan yang mereka tuju, Elona mengajak ibunya mengobrol.
"Kalau Elona libur sekolah, ibu kan belum tentu libur kerja, sayang. Lain kali saja, ya."
Elona pun mengangguk. Meski dalam hati masih berharap jika ia bisa menginap untuk menemani orang yang sudah menyelamatkan dirinya dari bahaya yang cukup tragis.
Sampai di ruangan yang mereka tuju, Aruna memutar knop pintu dan membuka pintu ruangan tersebut lebar-lebar. Begitu pintu di buka, kedua matanya tertuju pada sosok seorang wanita yang duduk di samping tempat tidur sambil menyuapi pasien.
Kedua orang yang ada di ruangan tersebut pun menoleh mendapati kedatangannya.
"Miss Ayu .." panggil Elona dan pemilik nama itu mengulas senyum.
Sementara pandangan Aruna bertemu dengan Haikal, namun Aruna segera menunduk. Entah kenapa, begitu melihat miss Ayu menyuapi pria itu, ia merasakan sesuatu yang berbeda.
"Ibu, ayo masuk," ajak Elona.
"I-iya, sayang." Aruna pun masuk, tangan yang satunya membawa parsel buah, dan tangan yang satunya memegang tangan mungil putrinya.
__ADS_1
Aruna memalingkan wajahnya, hal tersebut membuat Haikal ingin menjelaskan sesuatu, begitu juga dengan miss Ayu yang seketika merasa tidak nyaman.
"Miss Ayu disini juga?" tanya Elona di angguki oleh wanita itu.
"Iya, Elona. Miss datang ke sini karena bagaimana pun juga, kejadian itu kan terjadi di sekolah," jawab dan jelas miss Ayu.
"Ah ya, untuk bu Aruna mungkin bisa melanjutkan untuk menyuapi pak Haikal. Dan jangan salah paham untuk masalah ini, saya menyuapi pak Haikal karena tadi kebetulan tangannya mengeluarkan darah akibat banyak gerak. Selang infus nya jadi terlepas yang menyebabkan keluarnya darah. Oleh karena itu saya di minta oleh suster untuk menyuapi pak Haikal, kebetulan pas saya datang sudah waktunya pak Haikal untuk makan dan minum obat. Silahkan bu Aruna." Miss Ayu bangkit berdiri dari duduknya dan mempersilahkan Aruna untuk menggantikan dirinya.
Aruna menatap Haikal dan pria itu mengangguk membenarkan.
"Oh tidak apa-apa, miss Ayu. Jangan merasa bersalah seperti itu, lagipula di antara kami tidak ada apa-apa. Kami hanya sebatas teman dan miss Ayu tidak perlu sampai merasa bersalah," balas Aruna.
Senyum kecil di bibir Haikal perlahan memudar, ternyata Aruna masih saja menganggapnya sebatas teman. Tidak lebih.
"Kebetulan saya juga mau pamit untuk pulang, bu Aruna. Karena saya masih ada keperluan lain. Untuk pak Haikal, semoga lekas sembuh, ya. Saya permisi."
Miss Ayu beranjak pergi dengan sopan. Kini hanya ada kecanggungan di antara Aruna dan Haikal.
__ADS_1
_Bersambung_