
Hari yang di tunggu-tunggu telah tiba. Hari ini akan menjadi hari paling bersejarah dalam hidup Haikal maupun Aruna. Sebab hari ini mereka akan melangsungkan pernikahan.
Elona dan juga Gavin ikut senang bisa menyaksikan pernikahan mereka. Elona senang lantaran paman Haikal nya sebentar lagi akan menjadi ayahnya. Dan Gavin senang karena pada akhirnya Haikal bisa memiliki wanita yang dia cintai.
Aruna tampil cantik dengan polesan make up tipis natural. Wajahnya bercahaya. Haikal sampai di buat takjub begitu melihat calon istrinya itu keluar untuk melangsungkan akad.
Pernikahan tersebut berlangsung dengan sederhana, sebab Aruna tidak mau ada kemewahan. Lagipula acara pernikahan pun di hadiri oleh orang-orang terdekat saja. Seperti tetangga Aruna dan juga sepupu Haikal, yakni Gavin dan Abizar.
Akad dan janji suci pun berlangsung hingga mereka sah menjadi suami istri. Semburat kebahagiaan terpancar di wajah kedua pengantin, terutama Haikal. Pria itu sampai menitikan air mata kebahagiaan dan tak lupa melakukan sujud syukur.
Elona memeluk ibu dan paman Haikal nya.
"Ibu, sekarang paman Haikal jadi ayah Elona kan?" tanya bocah itu di angguki oleh Aruna.
"Iya, sayang."
Elona beralih menatap paman Haikal nya.
"Paman Haikal, sekarang aku panggil paman dengan sebutan ayah kan?"
"Coba panggil dengan sebutan ayah," pinta Haikal.
"Terima kasih sudah menjadi ayah aku, ayah," ucap Elona kembali membuat Haikal menitikan air mata hari, air mata bahagia.
Ia bawa Elona ke dalam pelukannya, ia dekap tubuh mungil itu dengan erat. Aruna yang menyaksikannya ikut menangis bahagia.
Terima kasih, Tuhan. Terima kasih engkau telah mengganti kesedihan aku dengan kebahagiaan ini. Terima kasih sudah menguatkan aku selama aku di terjang badai. Terima kasih Yaa Allah.
Aruna ikut bergabung ke dalam pelukan mereka. Pelukan yang akan membawa ketiganya ke dalam sebuah kebahagiaan.
__ADS_1
"Selamat ya, Kal. Akhirnya apa yang selama ini kau harapkan bisa terwujud. Semoga bahagia dengan keluarga kecilmu. Selamat juga ya, Aruna." Gavin memberi sebuah ucapan selamat pada kedua mempelai.
"Terima kasih, Vin. Semoga kau secepatnya bisa menyusul langkah kami," balas Haikal.
"Terima kasih, Gavin. Semoga kau mendapatkan wanita yang lebih baik," balas Aruna.
"Iya, sama-sama."
Ucapan selamat di susul oleh yang lain. Abizar sepupu Haikal yang satunya, ibu Zahrana, Kanaya, dan juga tetangga dekat yang lain.
"Ah ya, Aruna. Aku boleh pinjam putrimu sebentar? Aku ingin mengajaknya bermain," izin Gavin.
"Jika Elona mau, aku mengizinkannya. Tapi jika dia tidak mau, maka kau tidak berhak memaksanya."
"Baik, terima kasih."
"Aku senang, Cheryl. Akhirnya aku punya ayah baru sepertimu," ungkap bocah itu.
"Iya, kita sama, Elona. Kita punya ayah baru. Aku senang sekali, ayah baru aku aku baik padaku. Ayah baruku membeli ku banyak sekali mainan."
"Wah, benarkah?"
"Iya, pasti ayah barumu juga membelikan mainan seperti ayah baruku."
"Aku tidak berharap seperti itu, Cheryl. Bagi aku mainan itu tidak terlalu penting."
"Tapi bagi aku mainan itu sangat penting, Elona."
"Kata ibu, itu hanya akan menghamburkan uang saja. Ibuku bekerja keras untuk mendapat uang, aku tidak ingin menyusahkan ibu karena keinginanku," terang Elona.
__ADS_1
"Tapi sekarang kan kau sudah punya ayah baru, kau minta apa saja padanya pasti akan di berikan."
"Maaf, Cheryl. Aku tidak seperti itu."
"Hai, sedang apa?" Kedatangan Gavin menghentikan perdebatan kecil di antara kedua bocah itu.
"Halo, paman Gavin. Paman belum pulang?" balas dan tanya Elona.
"Belum. Paman mau ajak Elona main sebentar. Mau?" ajak pria itu.
"Aku harus izin dulu pada ibu, paman."
"Paman sudah izin pada ibumu. Kata ibu boleh jika Elona mau."
Elona menoleh ke arah ibunya dan mendapat anggukan pertanda di beri izin.
"Ya sudah, aku mau, paman. Tapi jangan lama-lama, ya," jawab bocah itu.
"Iya, tidak lama. Paman janji. Ayo." Gavin mengulurkan tangan dan di jabat oleh Elona.
"Cheryl, aku pergi sama paman Gavin dulu, ya," pamit Elona.
"Iya," jawab bocah itu.
Cheryl memandang ke arah perginya Elona dan pria yang tidak ia kenal.
"Kenapa Elona pergi bersama paman yang lain? Kenapa tidak bersama ayah barunya?" pikir bocah itu.
_Bersambung_
__ADS_1