GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Dua Orang Menyebalkan


__ADS_3

Aruna tengah menunggu taksi online yang sudah ia pesan dua menit lalu. Tiba-tiba saja pandangannya tertuju pada dua orang yang berjalan ke arahnya. Seorang wanita yang tengah bergelayut manja di lengan sang pria. Dan ia begitu mengenali kedua orang tersebut.


Kedua orang itu menghentikan langkah tepat di hadapannya. Terutama si wanita. Dia menatap remeh dirinya.


"Hai, Aruna. Sedang apa di sini?" tanya wanita itu.


"Bukan urusanmu!" jawab Aruna ketus lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Kau masih marah padaku, Aruna? Aku kan sudah meminta maaf padamu. Maaf, aku khilaf. Salahmu juga terlalu percaya padaku. Sampai kau lupa jika kau memiliki suami yang sangat di sayangkan apabila di anggurkan."


"Ya, aku salah. Aku salah karena sudah memasukan malaikat berkedok iblis sepertimu," seru Aruna, ia berusaha menahan diri agar tidak terpancing emosi.


"Ya terserah sih kau mau bilang aku ini apa. Tapi aku sangat berterima kasih padamu, Aruna. Aku bisa mencicipi suamimu yang sangat nikmat. Berkat darimu juga, aku bisa bertemu dengan Haidar, kekasihku sekarang. Iya kan, sayang?" Ziva menoleh ke arah pria yang di gandengan ya, dan pria itu mengangguk membenarkan.


"Lalu apa yang kau banggakan dari itu? Kau menghancurkan rumah tangga orang dan juga menghancurkan rumah tanggamu sendiri. Kau bangga dengan itu, hm?"

__ADS_1


"Tentu saja. Aku bangga pada diriku sendiri lantaran aku mampu membuat para suami mengkhianati istrinya. Termasuk dirimu, Aruna. Seharusnya kau berterima kasih padaku, berkat diriku kau tahu sifat asli suamimu yang sebenarnya."


"Ya aku sangat berterima kasih padamu karena tanpa kau sadari, kau juga membuka kedok dirimu sendiri. Dan asal kau tahu, Abian tidak seperti yang kau katakan barusan. Aku tidak sedang membelanya tapi perubahan dia itu di sebabkan olehmu."


"Dan asal kau tahu, Haidar." Tunjuk Aruna pada pria yang berdiri di samping Ziva. "Aku tahu yang mempengaruhi Abian supaya dia mengikuti jejakmu. Aku juga tidak sedang menyalahkan penuh dirimu. Tapi kau tahu kan kalau wanita yang Abian maksud itu adalah wanita yang saat ini berdiri di sampingmu. Dan sekarang, kau sedang menjilat ludah yang sudah Abian muntahkan."


"Jaga bicaramu, Aruna!" seru Ziva tidak terima.


"Kenapa? Memang benar kan?"


"Ayo, sayang. Kita pergi saja. Tidak ada gunanya kita meladeni dia," ajak Ziva menarik lengan Haidar untuk pergi dari sana.


Aruna berusaha mengendalikan dirinya. Tidak, ia tidak boleh terlihat lemah. Biarkan Ziva sekarang berbahagia di atas penderitaannya. Tapi suatu hari, pasti akan ada balasan yang setimpal. Bahkan lebih.


Aruna menoleh ke arah putrinya, Elona tampak sedang menutupi kedua telinganya.

__ADS_1


"Sayang, kau sedang apa, nak?"


Elona melepaskan telapak tangan dari daun telinganya.


"Maaf ibu. Aku berusaha menutup telingaku agar tidak sampai mendengar jelas pembicaraan antara orang dewasa. Agar aku tidak kesulitan melupakan percakapan-percakapan yang seharusnya tidak aku dengar. Seperti yang sering di katakan oleh ibu," jawab bocah itu.


Aruna merasa kagum dengan putrinya. Tapi seharusnya ia juga tidak membawa Elona masuk ke dalam percakapan yang seharusnya tidak putrinya dengar.


"Ibu minta maaf ya, sayang. Kalau begitu, ayo kita pulang."


Elona mengangguk. "Iya, ibu."


Keduanya pergi dari sana.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2