GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Insiden


__ADS_3

"Maaf, ayah. Aku tahu, sebaik apapun orang yang nanti akan bersama ibu. Mungkin tidak akan pernah bisa menggantikan sosok ayah. Di antara aku, ibu, dan ayah, hanya hubungan ibu dan ayah saja yang berakhir. Tapi hubungan aku dan ayah tidak akan pernah ada ujungnya. Jujur, aku sangat menyayangi ayah, sama seperti halnya aku menyayangi ibu. Hanya saja, aku terlalu takut untuk melukai perasaan ibu," ungkap Elona nyaris membuat Abian menitikan air mata.


Abian menengadahkan wajah nya ke atas, ia melakukannya agar air matanya tidak sampai jatuh di hadapan putrinya. Meski tidak bisa ia pungkiri, ia sangat tersentuh oleh kata-kata Elona, anak yang baru berusia empat tahun lebih.


Aruna yang menyaksikannya pun ikut terharu mendengarnya. Begitupun dengan Haikal yang kagum terhadap bocah itu.


"Boleh ayah peluk Elona?"


Elona mengangguk. "Tentu, ayah."


Abian langsung membawa putrinya ke dalam dekapan, di sana barulah ia tumpahkan air matanya. Di bahu putri kecilnya.


Cukup lama Abian memeluk putrinya, hingga mereka menjadi pusat perhatian beberapa orang tua murid lain yang lewat hendak pulang lantaran acara sudah benar-benar usai. Tak jarang dari mereka ada yang saling bisik-bisik.


Setelah puas memeluk, Abian lepaskan Elona perlahan. Ia tangkup kembali kedua pipi putrinya.


"Ayah kenapa menangis? Apa aku menyakiti hati ayah?"


Abian menggeleng. "Tidak, sayang. Ayah menangis bahagia, lantaran Elona tidak lagi membenci ayah. Ayah sayaaang sekali pada Elona, putri ayah yang cantik."


Abian meninggalkan kecupan di kening Elona. Singkat namun dalam.


"Selama ayah tidak ada untuk Elona, Elona harus jaga diri baik-baik, ya. Jangan pernah sakiti ibu, jaga ibu ya, sayang," pesan pria itu.


"Baik, ayah. Tentu saja aku akan menjaga ibu," sahut Elona.


"Kalau begitu, sekarang Elona kembali pada ibu. Ayah harus pergi, tadi mobil ayah mogok, jadi harus naik taksi online ke sini."


Elona jadi semakin merasa bersalah.


"Bagaimana ayah bisa tahu jika hari ini aku ada acara di sekolah?" tanya Elona penasaran.

__ADS_1


Abian mengulas senyum. "Aah akan selalu mencari tahu apapun yang berhubungan dengan Elona. Tanpa Elona kasih tahu sekalipun."


"Maaf, ayah."


"Tidak apa-apa. Ayah pergi dulu, ya."


"Iya, ayah."


Abian mengusap pangkal rambutnya dengan gemas, lalu ia menoleh ke arah Aruna. Ia memberi sebuah anggukan, tanda terima kasih lantaran sudah di beri izin untuk bicara berdua dengan putrinya.


Abian membalikan badan dan melangkah pergi dari sana. Setelah itu Elona pun kembali menghampiri ibunya.


Baru beberapa langkah mereka saling pergi, suara teriakan yang melengking membuat Abian kembali menoleh.


"ELONAAA ... AWAASSSS ...!!!"


Salah satu alat panggung yang sedang di angkut oleh seseorang itu terjatuh dari pundaknya, alat itu cukup berat. Dan alat itu jatuh ke arah Elona berjalan.


Pandangannya tertuju pada alat berat tersebut dan membuat matanya melebar seketika. Dengan cepat ia berlari untuk menyelamatkan putrinya.


"Aaaaaa ..." Aruna berteriak seiring benda itu terjatuh tepat mengenai kaki Haikal, pria itu yang lebih dulu menyelamatkan putrinya.


Semua orang yang ada di sana ikut panik melihat kejadian.


Aruna bergegas menghampiri mereka. Orang-orang di sana ikut mendekat. Aruna langsung membawa putrinya ke dalam pelukan.


"Elona, sayang. Elona tidak apa-apa kan, nak?" tanya Aruna seraya meraba permukaan tubuh putrinya.


"Ibu ... Paman Haikal, ibu ..." Elona menangis, ia sangat terkejut dengan kejadian tersebut.


Aruna beralih pada Haikal, pria itu tengah menahan sakit.

__ADS_1


"Haikal, kita ke rumah sakit sekarang, ya."


Di saat-saat sedang menahan sakit sekalipun, Haikal masih bisa tersenyum.


"Aku baik-baik saja, Aruna. Kau tidak perlu khawatir, aku pasti akan baik-baik saja."


"Kau kenapa-kenapa, Haikal. Kita ke rumah sakit sekarang, ya."


Orang yang tidak sengaja menjatuhkan alat tersebut segera bertanggung jawab, begiupun dengan miss Ayu yang segera memanggil ambulan begitu ada kejadian.


Abian merangkul putrinya, berusaha menenangkan bocah itu yang tidak juga berhenti menangis.


"Ayah .. Paman Haikal terluka, ayah .." ucap Elona di antara isak tangisnya.


"Iya, sayang. Elona tenang, ya. Jangan menangis, sayang. Sshhtt ... "


"Paman Haikal terluka karena aku, ayah .."


"Sshtt ... Ini bukan salah Elona, sayang. Jangan menyalahkan diri sendiri, ok!? Ini bukan salah Elona. Sshhtt ..."


Suasana cukup panik, Haikal langsung di bawa ke rumah menggunakan ambulan usai alat berat yang menimpa kakinya di angkat.


"Aku titip Elona sebentar, ya. Aku harus menemani Haikal," pesan Aruna sebelum pergi.


Abian mengangguk. Ia terus berusaha menenangkan putrinya dengan memberinya minum yang di berikan oleh miss Ayu.


"Minum dulu, nak."


Abian menancapkan sedotan pada air minum kemasan gelas. Lalu di berikan nya pada Elona. Agar Elona bisa sedikit lebih tenang.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2