
Setelah Elona di bawa pergi oleh ibu Zahrana, Aruna berniat untuk melanjutkan aktivitasnya yaitu membersihkan rumah. Akan tetapi suara dering panggilan masuk mengalihkan perhatiannya.
Aruna meraih ponsel yang ia letakan di atas nakas samping pintu bagian luar kamar tidurnya. Muncul nama Haikal di layar.
Tanpa pikir panjang, Aruna menjawab telepon tersebut.
"Halo, Aruna. Bisa kau datang ke rumahku sekarang? Aku butuh bantuan dan tidak ada siapapun di sini. Aku mohon Aruna, argh .."
Nada bicara Haikal terdengar seperti orang yang tengah menahan sakit. Seketika Aruna merasa panik.
"A-apa yang terjadi padamu, Haikal? Sekarang kau kirim alamatmu dan aku akan segera datang ke sana. Okay!?"
"Iya, Aruna. Maaf ya sudah mengganggumu."
"Tidak usah pikirkan hal itu. Kau tunggu di sana jangan ke mana-mana, aku pesan taksi online sekarang."
Aruna menutup sambungan teleponnya, ia langsung memesan taksi online begitu Haikal mengirimkan alamat rumah. Aruna siap-siap dan bergegas pergi dari sana.
Sementara di rumah Haikal. Pria itu mengulas senyum dengan perasaan sedikit bersalah.
__ADS_1
"Maaf ya, Aruna. Aku terpaksa membohongimu. Aku hanya ingin tahu seperti apa reaksimu mendengar aku tidak baik-baik saja. Dan ternyata kau sangat panik. Maaf, Aruna."
Haikal memang ingin tahu seperti apa reaksi Aruna. Ia hanya bohong untuk masalah butuh bantuan. Tapi ia tidak bohong bahwa saat ini ia jatuh dari ranjang tempat tidurnya.
Haikal menuliskan sebuah pesan singkat yang ia kirimkan pada wanita itu. Setelah itu ia menaruh ponselnya ke atas nakas. Ia membaringkan tubuhnya kembali sembari menunggu kehadiran Aruna.
Di jalan, Aruna tidak bisa menyembunyikan rasa paniknya. Ia sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah Haikal. Ia khawatir terjadi sesuatu buruk pada pria itu. Bagaiamanapun Haikal bisa seperti itu karena telah menyelamatkan putrinya.
"Pak, bisa lebih cepat lagi," pinta Aruna pada sang driver.
"Baik, bu," jawab driver tersebut.
Haikal:
Nanti langsung masuk saja, ya. Pintu depan tidak di kunci. Aku di kamar lantai bawah sebelah tangga.
Aruna tidak membalas pesan tersebut. Ia hanya ingin segera sampai di tujuan.
Sepuluh menit berikutnya, mobil yang di tumpangi Aruna berhenti di depan pintu pagar rumah besar. Namun tidak terdapat security di sana.
__ADS_1
Aruna mengecek lagi alamatnya dengan benar. Dan memang saat ini ia sedang berada di depan rumah Haikal. Lantaran Haikal membutuhkan bantuan dan pria itu sudah mengizinkannya untuk masuk, maka Aruna membuka pintu pagar yang tidak di gembok lalu masuk ke dalam. Sampai di halaman, Aruna langsung masuk ke rumah tersebut, dan benar pintu nya memang tidak di kunci.
Aruna mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Rumah itu tampak sepi. Sampai akhirnya kedua matanya tertuju pada pintu yang terdapat di sebelah tangga. Ia berjalan ke arah sana.
"Apa ini kamar Haikal, ya?"
Tangannya sedikit bergetar begitu akan membuka pintu kamar tersebut.
"Haikaaalll ..." panggil Aruna seraya mengetuk pintunya.
Aruna memanggilnya sekali lagi dan mendapat sahutan dari dalam kamar.
"Masuk saja, Aruna. Pintunya tidak di kunci."
Begitu mendapat izin dari pemilik rumah, perlahan Aruna membuka pintu kamar tersebut dan mendapati Haikal tengah duduk di lantai dekat ranjang. Iris mata Aruna seketika melebar. Ia menutup mulutnya yang melebar.
"Ah ya ampun, Haikal!"
_Bersambung_
__ADS_1