GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Tangis Haru


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, Elona langsung kembali ke kamar. Sementara Aruna sendiri di dapur membersihkan sisa makan malam nya. Kemudian membuatkan susu untuk Elona.


Aruna membuka pintu kamar Elona dan mendapati putrinya berbaring di ranjang tempat tidur dengan pandangan kosong menatap langit-langit. Aruna merasa ada yang aneh dengan putrinya, sejak tadi Elona lebih banyak diam dari biasanya.


Aruna berjalan menghampiri Elona dengan duduk di tepi ranjang.


"Elona, sayang ..." Aruna membelai rambut Elona dengan lembut, bocah itupun menoleh.


"Iya, ibu?" sahutnya.


"Ini ibu buatkan susu untukmu. Minum dan jangan lupa habiskan, ya."


"Baik, ibu." Elona menerima susu tersebut dari tangan ibunya.


Biasanya Elona akan bertanya banyak hal, tapi kali ini Elona diam saja.


"Elona .."


"Iya, bu?"

__ADS_1


"Ibu boleh tanya sesuatu padamu?"


Elona mengangguk kecil. "Boleh."


Elona pun bangun dan duduk menyandar di sandaran ranjang tempat tidurnya.


"Ibu perhatikan Elona banyak diam hari ini. Apa ada yang mengganggu pikiran Elona?"


Elona diam sembari menatap wajah ibunya sedikit takut.


"Apa ada temanmu yang usil di sekolah?" tanya Aruna lagi dan Elona menggeleng. "Lalu apa?"


Elona menggigit bibir bagian dalam, apa dia beri tahu ibunya jika tadi siang dia bertemu dengan ayah nya di sekolah. Jika ia tidak ceritakan hal ini, ia pun akan menyakiti hati ibunya karena bertemu dengan ayah nya tanpa sepengetahuan sang ibu.


Pengakuan Aruna sontak membulatkan mata Aruna. Itu artinya Elona tahu jika ia berbohong tentang kepergian ayahnya ke luar negeri untuk urusan pekerjaan.


Elona meraih tangan ibunya lalu ia genggam.


"Ibu tenang saja, aku tidak marah karena ibu berbohong padaku. Ibu terpaksa melakukannya untuk menyembunyikan rasa sakit ibu bukan?"

__ADS_1


"Elona, sayang. Elona bicara apa?"


"Ayah dan bibi Ziva sudah menyakiti ibu. Aku bisa merasakannya meski ibu tidak mengatakan nya padaku."


"Elona-"


"Aku beruntung memiliki ibu yang sanggup menyembunyikan rasa sakit. Bahkan aku tidak tahu seberapa besar rasa sakit yang ibu derita."


Penggalan kalimat yang kini menyadarkan Aruna bahwa Elona bukan anak kecil seperti yang ada di dalam pikirannya. Lebih jauh dari itu, Elona mampu membaca dan juga merasakan apa yang ia rasakan. Mungkin karena ikatan batin mereka juga cukup kuat, sehingga salah satu dari mereka sedang tidak baik-baik saja, maka yang satunya lagi dapat merasakannya.


Setitik air mata Aruna jatuh. Ia menangis terharu memiliki malaikat kecil seperti Elona. Elona adalah sumber kekuatan dan penyemangat nya sekarang. Dan ia sangat beruntung memiliki Elona.


"Ibu kenapa menangis?"


Aruna menggeleng. "Ibu baik-baik saja, sayang. Ibu beruntung sekali memiliki anak sepandai dan secantik Elona. Ibu sayang sama Elona."


"Akupun sayang ibu." Elona menghapus air mata yang menetes di pipi ibunya menggunakan ibu jarinya yang mungil. "Jangan nangis lagi ya, bu. Hanya boleh ada senyuman di wajah ibu."


Elona membentuk sebuah senyum senyum di wajah ibunya menggunakan jari telunjuk miliknya. Aruna semakin terharu di buatnya. Ia lekas memeluk Elona dan menghujani pangkal rambut bocah itu dengan kecupan.

__ADS_1


"Terima kasih, Tuhan. Di saat aku sedang berada di puncak keterpurukan, di landa kesedihan, rumah tangga ku hancur, masih ada putri kecilku sebagai malaikatku. Aku harap keputusanku untuk berpisah dengan Abian adalah jalan yang tepat. Meski aku tahu jika penyebab perselingkuhan yang terjadi di antara mereka berawal dari kebodohan ku juga. Yang telah memasukan seorang iblis yang aku anggap malaikat ke dalam rumah tangga ku sendiri."


_Bersambung_


__ADS_2