
Sementara Haikal di toilet yang terdapat di kamar tersebut, Aruna duduk di tepi ranjang. Ia melihat begitu banyak obat di atas nakas yang harus di konsumsi oleh pria itu. Perasaan bersalahnya semakin menjadi. Apalagi kemarin ia sempat berdebat dengan Haikal hanya karena hal sepele.
"Maaf ya, Haikal. Seharusnya aku bisa meluangkan waktu untuk merawatmu sampai sembuh. Karena apa yang terjadi pada dirimu, tidak terlepas dari bahaya yang menimpa putriku."
Besok-besok jika ia ada waktu, ia janji akan datang lagi ke rumah ini dan akan mengajak Elona sekalian. Sebab Elona juga begitu rindu dengan pria itu.
"Kal, aku bawakan obat untuk-"
Tiba-tiba saja ada seorang pria yang masuk ke dalam kamar Haikal yang pintunya sengaja tidak Aruna tutup kembali. Pria itu menggangtung kalimatnya, rupanya dia terkejut dengan keberadaannya di sana.
Tidak hanya pria itu, Aruna pun cukup terkejut dengan kedatangan pria yang tidak asing lagi baginya. Ia bangkit berdiri dan pria itu berjalan lebih dekat.
"Aruna?"
"Gavin?"
Keduanya saling tunjuk.
"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Aruna kemudian.
Gavin menunjuk dirinya sendiri. "Aku sepupunya Haikal. Kau?"
"A-aku, aku temannya Haikal."
__ADS_1
"Oh jadi kau yang Haikal-"
"Vin .." Panggilan Haikal yang baru saja keluar dari kamar mandi mengalihkan perhatian mereka.
Aruna jadi penasaran dengan lanjutan kalimat Gavin.
"Yang Haikal apa, ya?" tanya Aruna dalam hati.
"Eh, Kal." Gavin dengan cepat menghampiri Haikal, membantu mendorong kursi roda pria itu sampai ke dekat ranjang tempat tidur.
"Kal, jadi teman yang kau maksud ini Aruna?" tanya Gavin kemudian.
"Iya, kau mengenalnya juga?" Haikal balik bertanya.
"Iya."
Begitu Haikal melontarkan pertanyaan tersebut, Gavin dan Aruna saling memandang. Sepertinya tidak etis juga jika ia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di depan Haikal. Biar nanti saja ia ceritakan nya setelah Aruna tidak ada.
"Ah ya, ini aku belikan obat yang tadi kau minta." Gavin memberikan kantong plastik berisi obat-obatan yang di pesan oleh Haikal sebelumnya untuk mengalihkan pembicaraan.
Haikal menerima obat tersebut. "Terima kasih banyak, ya."
"Iya, sama-sama. Jika butuh bantuan lagi jangan sungkan."
__ADS_1
"Iya."
Aruna merasa ada yang aneh dari obrolan mereka berdua.
"Obat yang Haikal tadi minta?"
Pertanyaan Aruna membuat kedua pria itu menoleh secara bersamaan. Gavin mengangguk membenarkan.
"Iya, Aruna. Kenapa memangnya?" jawab dan tanya Gavin.
Aruna memandang ke arah Haikal. Ekspresi wajah pria itu sudah berubah.
"Haikal, apa ini maksudnya. Kenapa tadi kau bilang jika sepupumu tidak bisa datang? Tapi Gavin yang ternyata sepupumu ini datang atas permintaanmu. Kenapa?"
Aruna merasa jika dirinya di bohongi. Haikal menunduk. Ia mengaku bersalah.
"Aku minta maaf, Aruna. Aku tidak bermaksud untuk membohongimu. Maaf jika aku sudah membuang waktumu hanya untuk menemui aku. Aku minta maaf," ucap Haikal memohon.
"Aku tidak mempermasalahkan aku datang ke sini nya, Haikal. Tapi kenapa kau harus berbohong?"
Gavin jadi merasa tidak enak berada di tengah-tengah antara perdebatan mereka. Dari sini ia bisa melihat betapa besarnya cinta Haikal pada Aruna meski Haikal masih menggunakan cara yang salah. Di sisi lain, ia juga dapat melihat begitu besar perjuangan Abian untuk bisa kembali pada wanita itu.
_Bersambung_
__ADS_1