GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Gugatan Cerai


__ADS_3

Aruna dan Haikal keluar dari resto bersama.


"Kenapa kau bisa sering mengunjungi tempat ini?" tanya Aruna penasaran.


Haikal menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Aruna.


"Karena kebetulan lokasi nya tidak jauh dari kantorku. Maka dari itu akan sering makan bahkan meeting di sini. Tempatnya nyaman, dan makanan nya enak," jawab Haikal.


Aruna mengangguk-anggukan kepalanya.


"Oh, begitu."


"Iya. Kalau aku sudah cocok dengan sesuatu, maka aku tidak akan pernah berpaling dengan yang lain."


"Benarkah?"


"Tentu."


Aruna tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya kecil.


"Ah ya, kau sudah makan?" tanya Haikal kemudian.


"Sudah. Mana mungkin aku kelaparan di resto sebesar ini."


"Aku hanya memastikan saja. Justru karena resto ini cukup besar, banyak pengunjung, biasanya pegawai sibuk sampai melupakan jam makan nya."


"Tidak. Di sini ada aturan nya. Dan makan nya secara bergilir. Jadi tidak semua langsung makan."

__ADS_1


Haikal mengangguk-anggukan kepalanya paham. Seketika kedua matanya tertuju pada tangan Aruna bagian bawah jempol yang di bungkus plester.


"Aruna, tanganmu kenapa?" tanya Haikal sembari meraih tangan tersebut.


"Ini hanya luka kecil. Aku tadi tidak hati-hati jadi terkena ujung pisau," jelas Aruna.


"Ah ya ampun. Tapi ini sudah di obati kan? Takutnya infeksi."


"Sudah. Tadi sudah pakai obat merah juga."


"Yakin sudah di obati?"


"Iya, sudah."


Haikal merasa kasihan dengan Aruna. Itu pasti sangat sakit. Dan tiba-tiba Haikal di kejutkan oleh kedatangan seseorang yang menepis tangan nya.


"Jangan pegang-pegang istriku!" seru seseorang itu dan begitu di lihat, ternyata dia adalah Abian.


"Luka?" batin Abian.


Abian sontak melihat tangan Aruna.


"Sayang, kau baik-baik saja kan?" tanya Abian khawatir dengan meraih tangan Aruna.


Aruna dengan cepat mengalihkan tangan yang hendak di pegang oleh Abian. Sontak hal tersebut menciptakan tanda tanya besar di kepala Haikal.


Aruna tidak ingin berdebat di muka umum, akhirnya ia putuskan untuk pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.

__ADS_1


"Aruna .. Aruna .." panggil Abian lekas mengejar langkah wanita itu.


Sementara Haikal masih berdiri di tempat.


"Ada apa dengan Aruna dan suaminya? Apa terjadi sesuatu di antara mereka?"


Haikal melihat Aruna seperti tidak nyaman dengan suaminya, maka dari itu ia memutuskan untuk ikut menyusul mereka.


"Aruna tunggu, Aruna! Aruna." Abian berhasil meraih pergelangan tangan istrinya.


"Lepas!" Aruna menghentakan tangan nya. "Tolong jangan sentuh aku lagi, Abian!"


"Aku suamimu dan aku masih berhak, Aruna. Sedangkan dia, tidak. Aku tidak suka ada pria lain berani menyentuhmu."


"Sementara kau suka di sentuh oleh wanita lain!"


"Aruna, tolong jangan ungkit itu lagi. Aku datang menemuimu untuk meminta maaf darimu lagi, Aruna. Aku mohon, maafkan aku. Aku kita kita bisa bersama lagi. Aku tidak ingin di benci oleh Elona, putriku sendiri."


"Kau memang pantas di benci."


"Tapi hati aku sakit, Aruna."


"Itu tidak sebanding dengan rasa sakit akuaku, Abian. Dan sebentar lagi, surat gugatan ceraiku akan segera kau terima."


Abian bungkam. Ya, ia sadar jika kesalahannya memang sangat fatal. Tapi ia tidak akan pernah menyerah memperjuangkan maaf dari Aruna.


Di balik body mobil Haikal bersembunyi, ia mendengar semua pembicaraan antara Aruna dan suaminya.

__ADS_1


"Pantas saja Aruna kelihatan tidak nyaman begitu suaminya datang. Rupanya mereka sedang ada masalah besar. Kasihan Aruna."


_Bersambung_


__ADS_2