
Sore ini sepulang kerja Aruna kembali ke rumah sakit untuk membesuk Haikal, lantaran Elona terus merengek minta bertemu dengan pria itu. Terpaksa ia harus menuruti permintaan putrinya, meski hari ini badannya terasa lelah sekali.
Saat sudah tiba di rumah sakit, ruangan yang kemarin di isi oleh Haikal kini sudah di isi oleh orang lain. Aruna pun menanyakan pada suster yang kebetulan lewat depan ruangan tersebut.
"Permisi, suster. Pasien yang kemarin di ruangan ini sekarang kemana, ya? Apa sudah di pindahkan?"
"Bukan di pindahkan, bu. Lebih tepatnya sudah mendapat izin pulang. Tadi pagi, pasien yang di sini sudah bisa pulang. Jadi pasien lain di tempatkan di ruangan ini," jawab suster tersebut.
"Pulang sama pihak keluarganya, sus?"
"Untuk itu saya tidak tahu, bu. Yang saya tahu hanya pasien ruangan ini sudah di perbolehkan pulang."
"Oh begitu ya, Sus. Terima kasih atas informasinya," ucap Aruna sebelum kemudian suster itu pergi melanjutkan langkah nya.
Elona mendongakan wajahnya menatap sang ibu. "Jadi paman Haikal sudah pulang ya, bu?"
"Iya, sayang. Paman Haikal sudah pulang." Aruna mengusap puncak kepala Elona.
__ADS_1
"Yaahh ... Kita terlambat, bu."
Wajah Elona berubah sendu, dia sangat sedih lantaran tidak bisa bertemu dengan orang yang ingin sekali ia temui. Aruna jadi tidak tega melihatnya.
Tiba-tiba saja Aruna kepikiran sesuatu. Ia menatap wajah putrinya.
"Ah ya, sayang. Tadi pagi siapa yang mengajar Elona di sekolah?" tanya wanita itu tiba-tiba.
"Miss Ayu. Kenapa, bu?" Elona balik bertanya dan ibunya menggeleng.
"Tidak, tidak kenapa-kenapa. Ibu hanya bertanya saja."
Aruna sedikit gugup. "Tidak, ibu tidak berpikir seperti itu. Jangan bicara seperti itu lagi, ya. Elona masih terlalu kecil untuk mencampuri urusan orang dewasa."
Elona diam sejenak sebelum kemudian mengangguk. "Iya, ibu. Maaf. Kalau begitu, sekarang kita harus kemana? Pulang atau ke rumah paman Haikal?"
"Pulang saja, ya. Ibu tidak tahu alamat rumah paman Haikal dimana."
__ADS_1
"Tapi ibu kan bisa telepon paman Haikal dan menanyakan alamatnya dimana."
"Lain kali saja, ya. Sekarang kita pulang, ibu juga mau istirahat."
"Iya, ibu."
Sejujurnya Elona masih ingin bertemu dengan pria yang sering ia panggil paman Haikal. Tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain menurut dengan perkataan sang ibu. Ia berharap besok bisa bertemu dengan pria yang ia sebut-sebut dengan paman itu.
Aruna tengah menunggu taksi online yang sudah ia pesan dua menit lalu. Tiba-tiba saja pandangannya tertuju pada dua orang yang berjalan ke arahnya. Seorang wanita yang tengah bergelayut manja di lengan sang pria. Dan ia begitu mengenali kedua orang tersebut.
Kedua orang itu menghentikan langkah tepat di hadapannya. Terutama si wanita. Dia menatap remeh dirinya.
"Hai, Aruna. Sedang apa di sini?" tanya wanita itu.
"Bukan urusanmu!" jawab Aruna ketus lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kau masih marah padaku, Aruna? Aku kan sudah meminta maaf padamu. Maaf, aku khilaf. Salahmu juga terlalu percaya padaku. Sampai kau lupa jika kau memiliki suami yang sangat di sayangkan apabila di anggurkan."
__ADS_1
"Ya, aku salah. Aku salah karena sudah memasukan malaikat berkedok iblis sepertimu," seru Aruna, ia berusaha menahan diri agar tidak terpancing emosi.
_Bersambung_