GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Resmi Berpisah


__ADS_3

Di bangku taman.


"Aku betul-betul minta maaf yang sebesar-besarnya padamu, Aruna. Saat itu aku tergiur oleh nikmat sesaat. Yang membuat aku harus kehilangan segalanya. Aku bukan hanya kehilangan kau dan Elona, aku juga kehilangan perusahaan. Dan mungkin itu balasan untukku, karena aku sudah membuat istriku menitikan air mata."


"Aku tahu, aku sudah menorehkan luka yang amat dalam di hatimu, Aruna. Dan aku pantas kau benci. Kau mengambil keputusan yang tepat. Pria macam aku ini tidak layak untuk di pertahankan," imbuh Abian.


"Aku mengkhianatimu di hari pernikahan kita yang ke lima tahun. Hari yang seharusnya menjadi kebahagiaan dan kita rayakan ber sama-sama, justru menjadi hari bersejarah yang terburuk dalam hidupmu."


"Aku telah menodai pernikahan kita dengan pengkhianatan yang sungguh keji, Aruna. Sebab pada saat itu Ziva selalu memiliki cara untuk menggodaku. Asal kau tahu saja, Aruna. Aku juga pernah menghindar. Aku berusaha menahan diri aku agar aku tidak sampai terhanyut ke dalam godaan Ziva. Tapi saat itu perasaanku mulai terombang-ambing, aku terpengaruh oleh ucapan temanku, Haidar, dia menghasut diriku untuk melakukan sebuah pengkhianatan. Dan boddohnya, aku melakukannya."


"Saat pertama kali Ziva datang ke rumah kita, aku sudah merasakan jika temanmu itu memiliki niat yang tidak baik. Maka dari itu aku pernah bertanya padamu apakah temanmu itu benar-benar wanita baik-baik. Dan kau begitu mempercayainya. Tapi boddohnya, aku sudah mendapat firasat seperti itu, tapi aku justru malah terjebak dalam godaannya. Boddoh sekali aku." Abian tersenyum getir.


Aruna menunduk. Ia tidak tahu harus bicara apa. Yang pasti, dia sangat kecewa.


"Semua yang terjadi ini, juga tidak terlepas dari kesalahan ku. Aku yang memasukan Ziva ke dalam rumah. Bahkan aku sempat memohon agar kau memberi izin dia untuk tinggal di rumah. Sebab aku mengenal Ziva cukup baik, sehingga aku begitu mempercayainya. Hingga aku melupakan bahwa apa yang tidak mungkin bisa saja terjadi. Dan itu benar terjadi."

__ADS_1


"Terima kasih karena kau sanggup mengakui keboddohanmu. Dan setelah kejadian itu, apa yang kau dapatkan? Tidak ada kan? Justru kau banyak kehilangan sesuatu di dalam hidupmu. Aku harap, ini bisa menjadi pelajaran untukmu juga, jika nanti kau menemukan seseorang baru, kau tidak melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan untukmu."


"Dan sekarang, di antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Saat ini aku sedang berusaha untuk berdamai dengan luka, berdamai dengan diriku sendiri. Mencoba untuk menerima semua ini dengan lapang dada."


"Dan asal kau tahu juga, aku tidak pernah menceritakan hal buruk yang kau lakukan pada Elona. Sebab Elona belum mengerti soal itu di usianya yang masih sangat kecil. Tapi Elona cukup pintar, dia pandai membaca pikiran dan bisa ikut merasakan apa yang sedang ibunya rasakan. Dia mampu menerka dan tebakan selalu rapat sasaran. Maka dari itu, Elona membencimu. Dan itu bukan karena ku."


Abian mengangguk. "Iya, aku terima. Aku memang pantas di benci. Aku gagal menjadi suami dan ayah untuk Elona. Aku suami dan ayah yang buruk bagi kalian. Tapi, apa aku boleh minta satu hal padamu?"


"Apa?"


"Meski kita berpisah, aku akan tetap menemui Elona. Sebagai seorang ayah yang merindukan putrinya. Tenang saja, aku tidak akan mengganggu kehidupanmu."


Abian mengangguk. "Iya, Aruna."


"Kalau begitu, talak aku sekarang dengan lisanmu. Setelah itu kita akan resmi berpisah baik secara agama maupun negara."

__ADS_1


Abian seketika bergeming. Rasanya sangat berat untuk melakukannya. Ia akan benar-benar kehilangan Aruna. Tapi mungkin ini jalan yang terbaik untuk keberlangsungan hidup mereka.


Abian mengangguk. "Baik, Aruna."


"Lakukan sekarang!"


Dengan bibir yang gemetar dan lidah yang terasa kelu, Abian berusaha untuk melakukannya.


"A-aku, aku Abian menalak engkau, Aruna." ucap Abian dengan jelas.


Aruna menghela napas lega, lantaran ia sudah benar-benar berpisah dengan Abian. Sementara Abian menitikan air matanya, ia sangat sedih. Tidak pernah di bayangkan sebelumnya jika kata-kata itu akan terucap dari bibirnya. Hilang sudah janji suci yang dulu ia ucapkan di hadapan semua orang. Bahwa ia akan hidup selamanya dengan Aruna. Dalam keadaan apapun.


Sepasang mata Abian dan Aruna melihat ke arah Elona yang tengah berlari-lari mengejar kupu-kupu di antara banyaknya bunga yang terdapat di taman tersebut.


"Maafkan ayah, Elona. Ayah telah menghancurkan kehidupanmu juga. Ayah tidak bisa memberikan keluarga yang utuh untukmu, sayang." batin Abian.

__ADS_1


"Suatu hari semoga Elona bisa mengerti, tentang patahnya keluarga yang ia miliki," ucap Aruna dalam hati.


_Bersambung_


__ADS_2