GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Cedera


__ADS_3

Di dalam ambulan, Aruna menemani Haikal yang hendak di larikan ke rumah sakit terdekat. Aruna khawatir jika kaki Haikal akan cedera usai menolong putrinya.


"Haikal, kau bertahan, ya. Sebentar lagi kita akan segera sampai di rumah sakit," ucap Aruna dan mendapat senyum kecil dari Haikal.


"Aku baik-baik saja, Aruna. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku sampai seperti ini. Nanti putrimu bisa cemburu," ujar pria itu.


"Haikal, jangan bercanda. Aku serius."


"Iya, Aruna. Maaf. Tapi aku baik-baik saja, mungkin ini hanya luka kecil saja," jawab Haikal berusaha menenangkan Aruna, meski dalam hati ia menahan sakit yang begitu luar biasa.


Lima menit berikutnya mereka sudah sampai di rumah sakit. Dua orang perawat membantu menurunkan brangkar pasien dan segera membawanya ke sebuah ruangan untuk di tangani. Sementara Aruna menunggu di depan ruangan tersebut dengan perasaan gelisah dan campur aduk.


"Bagaimana jika terjadi sesuatu yang serius pada kaki Haikal? Dia melakukannya untuk menolong putriku, dan aku sangat berhutang budi bahkan nyawa padanya."


Aruna berjalan mondar-mandir lantaran perasaannya sudah tidak karuan. Ia sudah tidak sabar menunggu jawaban Dokter mengenai kaki Haikal yang tertimpa alat berat itu. Dan begitu Dokter yang menangani Haikal keluar ruangan, Aruna segera mencecar Dokter tersebut dengan beragam pertanyaan.


"Dokter, bagaimana kondisi kaki Haikal? Apa dia mengalami cedera yang sangat serius? Apa dia harus sampai di amputasi? Tolong katakan padaku, Dokter!"


"Baik, nona. Saya akan menjawab pertanyaanmu. Tapi mohon untuk tenang."


"Bagaimana saya bisa tenang, Dok? Dia seperti ini karena dia menolong putriku. Tolong katakan sekarang juga apa yang terjadi padanya!?" seru Aruna.

__ADS_1


"Ya, nona. Saya akan jelaskan padamu mengenai kondisi pasien. Tapi nona juga harus tenang dulu, ya. Bagaimana saya bisa menjawab pertanyaanmu, jika nona saja tidak memberi saya celah untuk berbicara."


Aruna pun berusaha mengontrol dirinya dengan menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan.


"Ok, sekarang saya sudah lebih tenang. Jadi tolong katakan sekarang juga, bagaimana kondisi teman saya?"


"Jadi nona ini bukan istrinya?"


Aruna mengernyit, kemudian menggeleng.


"Saya hanya temannya, Dok. Meski saya bukan pihak keluarganya, tapi saat kejadian berlangsung, dia sedang bersama sama. Dan dia seperti ini karena menolong putri saya," jelas Aruna.


"Ok, baik. Jadi pasien mengalami keretakan tulang di bagian bawah lututnya. Dan ini cukup serius, sehingga pasien untuk beberapa waktu ke depan tidak bisa berjalan," terang Dokter seketika membuat Aruna shock.


Aruna sampai membungkam mulutnya yang menganga saking shock nya.


"Jadi Haikal tidak akan bisa berjalan, Dok?"


"Ya, benar."


"Untuk waktu berapa lama?"

__ADS_1


"Dalam waktu yang belum bisa di tentukan. Sebab keretakan tulang yang di alami pasien cukup fatal, sehingga membutuhkan waktu cukup lama sampai pasien sembuh total."


Mendengar jawaban Dokter membuat kaki Aruna seketika ikut lemas dan tangan nya gemetar mengeluarkan keringat dingin.


"Ya Tuhan, kasihan sekali Haikal. Aku harus bagaimana sekarang?" batin Aruna.


"Apa Dokter sudah memberi tahu kondisi ini pada pasiennya?" tanya Aruna memastikan.


"Sudah."


"Lalu bagaimana reaksinya?"


"Dia tampak pasrah dan menerima apa yang terjadi pada dirinya."


Tubuh Aruna semakin lemas saja. Bagaimana Haikal masih bisa tersenyum dan meyakinkan dirinya jika dia baik-baik saja, sementara Dokter saja mengatakan jika kondisi yang di alaminya cukup fatal? Dan Haikal bisa menerima kondisi itu dengan hati yang lapang. Dia melakukannya demi putrinya.


"Aku benar-benar berhutang nyawa pada Haikal, aku harus membayar kebaikannya dengan cara apa?"


Ia tahu jika Haikal melakukan ini dengan tulus dan cuma-cuma tanpa meminta imbalan, tetap saja Aruna akan membalas kebaikan pria itu meski tidak akan pernah sebanding dengan apa yang pria itu korbankan.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2