GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Pakar Eskpresi


__ADS_3

"Permisi .." Abian menghentikan langkah seorang wanita yang ia pikir itu adalah guru di sekolah Elona.


"Iya, ada apa?"


"Hari ini Elona masuk sekolah?" tanya Abian kemudian.


"Elona masuk sekolah, tapi sepertinya di sudah pulang. Tadi saya melihat Elona di jemput ibunya," jawab guru tersebut.


"Oh, begitu. Terima kasih atas informasinya."


"Sama-sama."


Ibu guru itu berlalu. Sementara Abian masih berdiri di tempat.


"Aku terlambat. Sepertinya aku harus ke sini di jam istirahat nya. Aku akan kembali ke sini besok," ujar nya kemudian pergi.


Di tempat lain, Aruna mengucapkan banyak terima kasih pada Kanaya lantaran sudah memberi nya tumpangan. Setelah itu, Kanaya mengemudikan mobilnya sejauh lima puluh meter untuk sampai ke rumahnya.


Aruna kagum melihat Kanaya, dia sosok wanita yang sangat hebat. Mampu menghidupi Cheryl seorang diri. Pria yang bisa mendapatkan nya pasti sangat beruntung. Kanaya sosok wanita yang mandiri, yang bisa berdiri di kakinya sendiri.


"Ayo ibu, kita masuk!" ajak Elona membuyarkan pikiran ibunya.


"Iya, sayang."


Keduanya masuk ke dalam rumah.


"Elona mau makan apa?" tanya Aruna setelah selesai mengganti pakaian putrinya.


"Apapun yang ibu masak, aku pasti makan, ibu. Sebab masakan ibu sangat lezat," puji bocah itu dan mendapat kecupan di kening.

__ADS_1


"Sudah pandai memuji ibu ya ternyata."


"Hehe .. Aku bicara yang sejujurnya, ibu. Masakan ibu memanglah lezat, ayah pun sangat menyukainya."


Lagi-lagi Elona menyebut-nyebut ayah nya. Mungkin memang tidak akan pernah lupa.


"Ibu .." panggil Elona lirih.


"Hm, iya sayang?"


"Ibu terlihat tidak suka jika aku sebut nama ayah di depan ibu. Sebenarnya ada apa dengan ayah, ibu?"


Rupanya Elona menyadari perubahan ekspresinya, Aruna memang harus ekstra hati-hati jika sedang di hadapan Elona.


"Ah tidak, sayang. Mana mungkin ibu tidak suka," elaknya.


Wajah Aruna menegang seketika. Kenapa Elona bisa bertanya demikian padanya?


"Tidak, sayang. Jangan pikirkan banyak hal! Sekarang kau tunggu di sini. Ibu akan memasak sebentar."


Aruna hendak beranjak dari sana, namun tangan mungil Elona menahan langkahnya.


"Jika ayah sampai menyakiti ibu, maka aku akan membencinya."


Sebuah kalimat di luar dugaan Aruna. Usia Elona mungkin masih kecil, tapi pikiran nya seperti orang dewasa.


Aruna meraih tangan Elona kemudian ia genggam. Ia tatap wajahnya putrinya.


"Jangan pikirkan apapun. Elona sayang bukan pada ibu?"

__ADS_1


Elona mengangguk. "Aku sayang ibu."


"Ibu juga," balas Aruna seraya memeluk tubuh mungil putrinya.


Elona bukan anak pakar ekspresi, tapi dia mampu membaca setiap perubahan ekspresi bahkan apa yang ada di dalam kepalanya sekalipun.


"Elona tunggu di sini, ya. Ibu akan memasak sebentar. Sepuluh menit saja."


"Baik, ibu," jawab bocah itu menurut.


Setelah ibunya pergi, Elona menyusul keluar. Ia melihat ke kiri dan ke kanan. Memastikan jika ibunya benar-benar tidak ada dan berada di dapur.


Ia melangkah dengan langkah yang sangat hati-hati, berjalan mengendap-endap menuju kamar tamu. Perlahan ibu buka knop pintu tersebut, dan ternyata tidak di kunci. Elona masuk, dengan menutup pintunya rapat dan pelan.


Elona mengedarkan pandangan nya ke setiap sudut ruangan kamar tersebut. Kamar yang sebelum nya di tiduri oleh Ziva itu tampak sedikit berantakan.


Elona berjalan menuju tempat tidur, kedua matanya melihat sekeliling. Pandang nya jatuh pada meja rias yang tidak jauh dari tempat berdirinya. Elona melangkah mendekat. Ia mengambil sesuatu di sana.


"Ini lipstik mirip punya ibu. Yang ini juga seperti punya ibu." Elona meraih parfum dalam botol kaca berukuran mini.


"Kenapa ada barang milik ibu di sini? Apa bibi Ziva mengambilnya?" pikir bocah ibu.


Seketika bola matanya membesar.


"Bibi Ziva sekarang tidak ada, ayah pun tidak ada. Apa jangan-jangan bibi Ziva telah mengambil ayah juga dari ibu?"


Elona memutuskan untuk segera keluar dari kamar tersebut sebelum ketahuan ibunya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2