GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Kerjaan Menumpuk


__ADS_3

Aruna melihat jam di layar ponselnya. Ia sudah tiga jam lebih berada di sana. Membuatkan bubur dan menyaupi Haikal yang katakan belum sarapan, serta membantu mengambilkan pakaian ganti untuk pria itu dan juga memberi obat.


"Ah ya, memangnya di sini tidak ada asisten rumah tangga?" tanya Aruna penasaran, lantaran rumah sebesar itu tapi ia merasa sepi.


"Ada, hanya saja dia tidak bermalam di sini. Ke sini kalau sore. Karena kalau pagi dia sibuk di rumah."


Aruna mengangguk-anggukan kepalanya.


"Lalu yang menemanimu di sini kalau malam siapa? Kalau kau mau ke toilet atau minum atau lapar, bagaimana?"


"Sesekali Gavin menginap. Atau kalau aku butuh bantuan darurat aku bisa telepon tetanggaku karena dia juga baik seperti tetanggamu yang selalu menjaga Elona."


"Orang baik memang pantas di kelilingi orang baik."


"Iya, terima kasih."


"Sama-sama. Kalau begitu sekarang kau butuh apa? Mau ke toilet lagi? Soalnya aku mau pamit pulang, takutnya ibu Zahrana akan segera pulang juga. Tadi dia janjinya tidak lama."


Haikal menoleh ke arah nakas, air minum masih tersedia. Sepertinya ia tidak membutuhkan apapun lagi. Tapi entah kenapa ia sedih begitu Aruna bilang akan pulang.

__ADS_1


"Bisakah kau di sini untuk sebentar lagi saja? Aku ingin di temani olehmu, Aruna," pinta Haikal membuat Aruna diam seketika, suasana berubah menjadi hening.


Aruna kembali melihat jam di layar ponsel, waktu sudah menunjukan jam sepuluh lebih lima belas menit.


"Ya sudah, aku akan temani kau di sini sekitar satu jam lagi. Setelah itu, aku harus pulang."


Haikal mengembangkan senyum. "Terima kasih ya, Aruna. Terima kasih mau menemaniku."


"Iya, karena bagaimana pun kau yang menyelamatkan putriku, Haikal."


Haikal sama sekali tidak memudarkan senyumnya.


Sementara di tempat lain, seorang pria tengah bersemangat kerja. Lantaran nanti ia akan jalan-jalan bersama putrinya.


"Aku senang akan membawa putriku jalan-jalan tanpa mengharapkan apapun di baliknya. Benar kata Gavin, aku harus berusaha ikhlas. Biarkan Aruna bahagia meski bukan aku yang membuatnya bahagia."


"Sekarang aku harus fokus saja pada pekerjaan, jika di antara kita memang masih di beri jodoh, maka aku harap kita bertemu lagi setelah aku mampu mewujudkan harapan yang sempat kita impikan bersama."


Abian menekan tombol power di sisi ponselnya yang tergeletak di samping keyboard komputer. Ia masih memasang foto keluarga kecilnya sebagai tampilan layar depan.

__ADS_1


"Elona, ayah sudah tidak sabar ingin segera bertemu denganmu, nak. Ayah rindu Elona, putriku."


Dalam foto yang di ambil tiga bulan lalu, ia masih bisa merasakan betapa bahagianya mereka waktu itu. Tapi sayang, sekarang rumah tangganya berakhir dengan tragis, dan ia yang membuatnya menjadi seperti itu.


Abian ingin cepat-cepat jam tiga, sebab itu waktunya ia pulang sekaligus menjemput Elona untuk jalan-jalan. Sampai akhirnya ada sekretaris Gavin datang menghampiri dan memberinya setumpuk pekerjaan.


"Ini kalau bisa harus selesai hari ini, ya," pinta wanita itu.


"Sebanyak ini harus selesai hari ini?" tanya Abian seraya menelan ludah.


"Iya, nanti kalau tidak selesai di waktu jam pulang, bisa kerja lembur."


"Tapi-" Abian hendak melayangkan protes, tapi ia sadar akan posisinya di kantor ini. "Iya," jawabnya kemudian patuh.


Setelah wanita itu pergi, Abian hampir saja ngeluh. Tapi melihat senyuman putrinya di layar ponsel membangkitkan kembali semangatnya.


"Aku pasti selesaikan ini sebelum jam waktunya pulang."


Abian terbakar api semangat yang membara, pokonya jalan-jalan nanti sore bersama Elona tidak boleh sampai batal.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2