GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Terget Baru


__ADS_3

Napas Ziva terdengar tersengal-sengal setelah berlari sejauh dia kilo meter. Kali ini ia berhasil lolos dari tempat yang membuatnya serasa berada di neraka. Berulang kali ia di suntik lantaran di sangka mengamuk, padahal ia hanya berusaha meyakinkan semua petugas dan Dokter bahwa ia tidak mengalami gangguan jiwa seperti yang mereka kira.


Ziva menoleh ke kiri dan ke kanan, menoleh ke belakang memastikan jika tidak ada seorang pun yang berhasil mengejar dirinya.


Ia menghela napas lega, sekarang dirinya sudah aman.


"Huhh ... Akhirnya aku bisa keluar dari tempat orang-orang tidak waras itu."


Ziva menepi dan duduk pohon besar pinggir jalan. Ia menselonjorkan kakinya. Tiba-tiba ia meringis merasa perih.


Begitu di lihat, kaki yang tanpa menggunakan alas itu kini berlumuran darah. Rupanya ia menginjak serpihan beling atau baru kecil yang runcing.


"Sial! Sudah keluar dari tempat itu saja nasibku masih saja sial," gerutunya.


"Tapi tidak apa-apa. Yang terpenting sekarang aku sudah lolos. Dan aku harus segera mencari Abian."


Ziva berusaha bangkit berdiri sambil menahan sakit dan perih di kakinya.


"A aww .."


Ia kesusahan untuk berjalan. Padahal tadi ia sangat cepat berlari. Ternyata benar, panik bisa membuat seseorang mendadak jadi punya kekuatan.


Ziva melihat ada sebuah mobil yang melintas di jalanan sepi tersebut. Ia segera melambaikan tangannya, berharap mobil itu berhenti dan mau membantunya.


"Tolooong ... Tolong aku ..." teriaknya.


Mobil tersebut pun berhenti. Dan muncul wajah pria di balik kaca pintu mobil tersebut. Pria itu menatap Ziva dari ujung kepala sampai ujung kaki.

__ADS_1


"Siapa kau?" tanya pria itu kemudian.


"Tolong aku, ada yang ingin menyakitiku. Tolong bawa aku pergi dari sini," ucapnya seraya memohon.


Pandangan pria itu tertuju pada kaki Ziva yang berlumuran darah. Sepertinya wanita itu memang butuh pertolongan.


"Kakimu terluka. Aku akan mengantarmu ke klinik terdekat. Ayo masuk."


Ziva mengulas senyum, dengan cepat ia masuk ke ke mobil pria tersebut dan duduk di samping kemudi. Mobil pun kembali melaju.


"Kenapa kakimu bisa terluka? Kau habis di kejar siapa?" tanya pria itu penasaran.


Ziva diam. Sepertinya ia tidak perlu menjelaskan apa sebenarnya terjadi. Sebab ia takut jika pria itupun akan menganggap nya wanita tidak waras.


"Aku di sekap oleh komplotan orang jahat. Aku baru saja meloloskan diri," jawab Ziva bohong.


"Aku hanya korban salah sasaran."


Pria itupun menganggukkan kepalanya.


"Ah ya, siapa namamu?"


"Namanku Ziva. Kau?"


"Aku Haidar."


"Nama yang bagus."

__ADS_1


"Terima kasih."


Setelah itu tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Keduanya membiarkan keheningan menyelinap begitu saja.


Sampai akhirnya mobil tersebut berhenti di sebuah klinik. Haidar membantu memapah Ziva sampai ke dalam.


Di dalam klinik tersebut pandangan seorang pria terpaku pada mereka.


"Ziva? Sama siapa dia? Apa itu target barunya?" pikirnya.


Seorang pria lain menepuk pundaknya.


"Gavin, ayo kita pulang," ajaknya.


"Kau sudah selesai?"


"Sudah. Ayo."


"Iya."


Gavin menatap ke arah dimana tadi Ziva dan seorang pria berjalan.


"Sepertinya kau tidak ada jera nya, Ziva. Siapa lagi yang kau jadikan target untuk memuaskan dirimu? Semoga pria itu belum berkeluarga, agar tidak ada lagi istri atau anak yang menjadi korban dirinya."


Gavin pun bangkit berdiri dari duduknya. Pergi dari sana bersama sepupunya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2