
"Tidak apa-apa, miss Ayu. Jangan merasa bersalah seperti itu, lagipula di antara kami tidak ada apa-apa. Kami hanya sebatas teman dan miss Ayu tidak perlu sampai merasa bersalah," balas Aruna.
Senyum kecil di bibir Haikal perlahan memudar, ternyata Aruna masih saja menganggapnya sebatas teman. Tidak lebih.
"Kebetulan saya juga mau pamit untuk pulang, bu Aruna. Karena saya masih ada keperluan lain. Untuk pak Haikal, semoga lekas sembuh, ya. Saya permisi."
Miss Ayu beranjak pergi dengan sopan. Kini hanya ada kecanggungan di antara Aruna dan Haikal.
"Ah ya paman Haikal, aku bawakan buah untuk paman. Ibu, tolong berikan buahnya pada paman," pinta Elona.
"Iya, sayang."
Aruna pun meletakan parsel buah tersebut di atas nakas. "Aku taruh di sini, ya."
"Iya," jawab Haikal singkat.
"Ah ya ini makanan nya belum, habis. Kau pasti harus segera minum obat. Aku lanjut suapin ya," tawar Aruna.
"Tidak usah, aku sudah kenyang."
__ADS_1
Jawaban Haikal mengurungkan niat Aruna mengambil mangkuk di samping parsel buah. Nada bicara Haikal terdengar tidak biasa. Aruna merasa ada yang aneh dengan pria itu. Apa tadi ia salah bicara?
Aruna berusaha untuk tidak memperdulikan hal itu, mungkin Haikal memang sedang butuh banyak istirahat.
"Aku datang ke sini untuk-"
"Karena aku temanmu, kan?" pangkas Haikal. "Karena aku temanmu maka dari itu kau menjengukku."
Kalimat Haikal seolah menyindir ucapannya tadi pada pada miss Ayu. Apa mungkin karena itu Haikal jadi tersinggung?
"Haikal-"
"Terima kasih ya, Aruna. Terima kasih karena kau selalu menyempatkan diri untuk datang ke sini. Meski aku tahu, kau datang ke sini karena kau merasa berhutang budi padaku kan? Maka dari itu kau selalu datang. Tapi kau tenang saja, Aruna. Aku melakukan semua ini tulus. Tulus, Aruna."
Haikal diam mendengar kalimat yang Aruna lontarkan. Benar, jika ia tulus seharusnya ia tidak perlu mengharapkan apapun. Mungkin karena rasa cintanya sudah terlalu besar, maka dari itu ia merasa sedikit kecewa begitu Aruna selalu saja menganggap nya hanya sebatas teman.
"Kenapa diam, Haikal? Bukankah aku sudah pernah mengatakan sebelumnya. Kalau aku takut salah mengartikan kebaikanmu. Aku takut jika kau tidak mendapatkan hal sebanding dari kebaikanmu untukku. Aku baru saja bercerai, aku butuh waktu lama untuk menyembuhkan lukaku. Jadi, jika kau tetap mengharapkan lebih dariku, maka hanya kekecewaan yang akan kau dapat."
"Kau akan secepatnya pulih, Aruna. Aku akan berusaha menjadi obat dari lukamu. Aku akan pastikan itu," jawab Haikal.
__ADS_1
Aruna bergeming. Ia tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Haikal sangat baik, bahkan pria itu rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan putrinya. Tapi sayangnya ia belum bisa menerima lebih dari kebaikan Haikal. Ia belum siap untuk menjalin sebuah hubungan dalam waktu dekat. Ia masih butuh ruang untuk sendiri.
"Ibu, ibu kenapa marah pada paman Haikal?"
Pertanyaan Elona menyadarkan Aruna jika ada putrinya di sana. Tidak sepantasnya ia bicara seperti itu pada Haikal di depan Elona. Putrinya sangat kecil untuk mendengar hal-hal yang di bicarakan oleh orang dewasa.
Aruna berusaha untuk tersenyum.
"Ibu tidak marah, sayang. Untuk hal barusan, Elona lupakan saja, ya. Tidak perlu Elona ingat percakapan di antara ibu dan paman Haikal barusan. Ok!?"
"Memangnya kenapa, bu?"
"Sudah, dengarkan saja apa kata ibu."
Elona pun mengangguk. "Iya, ibu."
Lantaran waktu jenguk juga sudah habis, Aruna memutuskan untuk segera pulang. Ia berpamitan pada Haikal sebelum benar-benar pergi dari sana.
Haikal menyesal lantaran sudah bersikap seperti itu pada Aruna. Seharusnya ia tidak terburu-buru dan tetap memberi ruang untuk Aruna agar wanita itu pulih dari lukanya.
__ADS_1
"Maaf ya, Aruna. Jika perasaanku padamu justru membuatmu merasa tidak nyaman," sesal Haikal.
_Bersambung_