
Hari sudah berganti. Sinar rembulan sudah mau di gantikan lagi oleh sang surya.
Pagi-pagi sekali Haikal sudah bangun. Ia tidak ingin terlambat menjemput Aruna dan putrinya. Ia harus memanfaatkan peluang ini sebaik-baiknya.
"Semoga ini awal dari kedekatan hubungan antara aku dengan mereka. Aku masih berharap jika Aruna bisa membuka hatinya."
Haikal bergegas bangun dari tempat tidurnya dan melipir pergi ke kamar mandi.
Sementara di tempat lain, Abian pun terkejut saat alarm yang sebelumnya ia pasang di ponselnya berdering dengan sangat nyaring.
"Ya ampun, sudah jam enam. Aku harus cepat-cepat mandi dan menuju ke sekolah Elona."
Abian bangun dan segera pergi ke kamar mandi, meski jalannya terseok-seok akibat nyawanya belum sepenuhnya menyatu dengan raga.
Dia kembali keluar dari kamar mandi, lantaran lupa membawa handuk. Ia menyambar handuk putih yang ia gantung di belakang pintu, lalu kembali ke kamar mandi.
Di rumah Aruna. Wanita itu tengah memakaikan baju putrinya. Elona sendiri sudah tidak sabar untuk segera pergi ke sekolah.
"Ibu, nanti wajahku akan di poles make up. Aku pasti cantik seperti ibu," ujar bocah itu.
"Elona memang sudah cantik, sayang."
"Hehe, terima kasih, ibu. Aku sayang ibu." Elona mendaratkan ciuman singkat di pipi sebelah kanan ibunya.
"Ibu juga sayang Elona." Giliran Aruna mengecup kening putrinya.
Elona sudah tampak rapi, Aruna sudah selesai memakaikan baju bocah itu.
"Sekarang habiskan susunya dulu. Setelah itu kita berangkat, nanti kesiangan."
"Baik, ibu. Ah ya, apa paman Haikal akan menjemput kita?"
"Mm .. Paman Haikal bilang akan jemput, tapi jika sepuluh menit lagi dia tidak datang, maka ibu akan pesan taksi online saja. Biar nanti paman Haikal menyusul langsung ke sekolah."
"Coba ibu telepon paman Haikal nya. Takutnya paman Haikal lupa," pinta Elona kemudian.
Aruna menghembuskan napas kecil.
__ADS_1
"Ya sudah, ibu coba telepon dulu, ya."
"Iya, ibu."
Aruna keluar dari kamar putrinya untuk mengambil ponsel di kamarnya. Sementara Elona menghabiskan susu yang masih tersisa setengahnya.
Aruna meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas, kemudian mendial nomer Haikal usai membuka layar kunci. Ia dekatkan benda pipih itu ke daun telinganya.
Beberapa detik kemudian, Aruna menarik benda pipih dari telinganya. Lalu menempelkannya lagi ke daun telinga.
"Haikal tidak menjawab teleponnya. Apa dia tidak jadi datang ya?" pikir Aruna.
"Jika Haikal tidak jadi datang, Elona pasti kecewa. Aku harus membuat alasan apa pada Elona."
Aruna menggenggam ponselnya erat-erat, berharap Haikal meneleponnya balik. Tapi tidak ada tanda-tanda jika pria itu akan meneleponnya.
Aruna mengambil tas slempang nya, memasukan benda pipih itu ke dalam tas tersebut. Setelah itu ia kembali ke kamar putrinya.
"Susunya sudah di habiskan?"
"Sudah, ibu. Ibu sudah telepon paman Haikal?" tanya bocah itu kemudian.
"Lalu apa kata paman Haikal? Apa paman Haikal jadi menjemput kita?"
Aruna diam beberapa saat, sambil memikirkan alasan yang tepat.
"Mm .. Kita tunggu di depan dulu saja, ya."
"Baik, ibu."
Beruntungnya Elona tidak banyak bertanya. Akhirnya mereka putuskan untuk menunggu di teras, jika dalam waktu lima menit lagi Haikal belum juga datang, maka Aruna akan memesan taksi online agar tidak terlambat ke sekolah.
Begitu membuka pintu depan, Aruna di buat terkejut oleh seseorang yang berdiri di depan pintu. Jantungnya hampir copot.
"Astaghfirullah ..." seru Aruna seraya memegangi dadanya.
"Hei, kenapa?" tanya pria itu khawatir.
__ADS_1
"Kau mengagetkan. Sejak kapan kau berdiri di sini?" jawab dan tanya Aruna.
Haikal tersenyum. "Sejak lima menit lalu."
"Benarkah? Lalu kenapa kau tidak menjawab telepon ku?"
"Memangnya kau menelepon ku? Maaf ya, aku tidak tahu. Ponselku di mobil."
"Ohh .. Aku pikir kau tidak jadi datang."
"Tidak mungkin aku tidak jadi datang. Apalagi untukmu dan Elona."
Pandangan Haikal dan Aruna saling bertemu untuk seperkian detik. Sampai akhirnya Aruna sadar harus segera pergi ke sekolah Elona sekarang.
"Ah ya, kalau begitu berangkat sekarang, ya. Takutnya terlambat."
"Ah iya, ok. Ayo cantik, paman gendong mau?" Haikal merentangkan kedua tangannya.
"Boleh, paman?"
"Boleh, dong. Ayo."
Elona menoleh ke arah ibunya. "Boleh, ibu?"
"Nanti paman berat, sayang."
"Tidak apa-apa, Aruna. Boleh kan?"
Kedua mata Elona berharap jika ibunya memperbolehkan paman Haikal menggendongnya. Dan akhirnya, ibunya pun mengangguk memperbolehkan.
Elona tersenyum senang. "Terima kasih, ibu."
Elona merentangkan kedua tangannya dan dengan cepat Haikal meraih tubuhnya.
"Aku berat tidak, paman?" tanya Elona memastikan.
"Tidak. Kalau ibu, baru berat."
__ADS_1
"Hush .." Aruna mencubit lengan pria itu, hingga menciptakan tawa di antara mereka.
_Bersambung_