GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Jalan-jalan


__ADS_3

Abian duduk menunggu di teras rumah, akhirnya ia bisa menyelesaikan setumpuk pekerjaan tanpa harus lembur.


Tidak berapa lama, pintu rumah tersebut terbuka. Muncul bocah kecil yang ia tunggu-tunggu bersama ibunya. Abian langsung bangkit berdiri.


"Cantik sekali putri ayah," puji Abian.


"Karena ibu cantik, akupun ikut cantik," jawab Elona sambil menatap ibunya.


Aruna mengusap pangkal rambut Elona dengan sangat gemas.


"Sudah siap jalan-jalan?"


"Siap, ayah."


Abian beralih memandang Aruna.


"Aruna, aku ajak Elona jalan-jalan dulu, ya," pamit Abian sekaligus izin.


Aruna mengangguk. "Iya, jangan terlalu kemalaman pulangnya. Besok Elona harus kembali sekolah."


"Kau tenang saja, tidak akan lama."


"Iya."


Abian memandang Aruna untuk beberapa saat, namun wanita itu sudah mengalihkan pandangannya lebih dulu. Andai saja mereka masih bersama, mungkin mereka akan jalan-jalan bertiga. Tapi itu semua hanya kata andai yang mungkin tidak lagi bisa jadi kenyataan. Tidak apa.

__ADS_1


"Elona. Ayo, sayang." Abian mengulurkan tangannya dan segera di sambut oleh tangan mungil milik bocah itu.


"Ayo, ayah."


Abian mengangguk sekali pada Aruna sebagai tanpa pamit. Kemudian mereka berjalan beberapa langkah menuju mobil.


Abian memasang seatbelt pada tubuh putrinya untuk menjaga keselamatan.


"Hati-hati, nak," ucap Aruna sedikit berteriak dan di balas dengan lambaian tangan bocah itu. Mobil pun berlalu.


Aruna mematung untuk beberapa saat. Elona sudah tidak lagi membenci ayahnya. Mungkin ia memang harus memberi sedikit ruang pada Abian agar Elona tidak kehilangan kasih sayang seorang ayah.


Di perjalanan.


"Ayah, kita mau kemana?" tanya bocah itu seraya memandang ayahnya yang tampak fokus menyetir.


"Kemanapun, Elona ikut saja."


Abian tampak berpikir sejenak. "Bagaimana kalau kita membeli peralatan sekolah Elona?"


"Beli apa, ayah? Sepatuku masih bagus. Seragam kan dari sekolah. Buku juga di sediakan oleh sekolah. Pensil warna aku kan sudah bilang pada ayah, jika aku di belikan pensil warna oleh paman Haikal."


Ya, Abian ingat persis waktu ia menemui Elona di sekolah dan bocah itu tengah diam di kelas, Elona memamerkan pensil warna tersebut.


"Bagaimana kalau tas? Elona kan belum pernah ganti tas sebelumnya."

__ADS_1


"Sudah, ayah."


"Kapan? Ibu yang belikan?"


"Paman Haikal," jawab Elona terlalu jujur.


Abian nyaris kehilangan fokus menyetir nya, lagi-lagi pria itu yang berusaha menggantikan dirinya.


"Tidak apa-apa nanti ayah belikan lagi. Jadi yang itu tidak usah di pakai, pakai yang baru saja, ya," tawar Abian kemudian.


"Tidak usah, ayah. Lagipula sebenarnya tas ku yang sebelumnya pun masih bagus. Hanya saja waktu itu ibu yang berniat belikan untukku. Tapi paman Haikal juga ikut datang ke toko itu dan akhirnya paman Haikal yang belikan tasnya," jelas Elona.


Abian diam, ia tidak bisa lagi berkata-kata. Ia cukup tahu saja.


"Lalu apa yang saat ini Elona inginkan? Biar ayah belikan khusus untuk Elona."


Elona diam sambil memikirkan apa keinginannya saat ini.


"Katakan saja apapun yang Elona inginkan, ayah akan belikan."


"Sungguh?" tanya Elona dengan kedua mata tampak berbinar.


"Tentu."


Kemudian Elona mengatakan apa yang menjadi keinginannya saat ini. Dan itu cukup membuat pria itu sangat terkejut. Lantaran ia tidak bisa menjamin apakah ia bisa mengabulkan permintaan Elona atau tidak.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2