GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Menyalahkan Haidar


__ADS_3

"Aruna, nanti setelah Elona pulang sekolah, saya minta izin untuk mengajak Elona ke acara keluarga saya yang sedang mengadakan pesta pernikahan. Itupun jika kau memperbolehkan."


"Apa itu tidak merepotkan ibu? Jika ibu Zahrana ada acara keluarga, nanti saya ambil cuti kerja saja."


"Saya sama sekali tidak merasa di repotkan, Aruna. Justru saya akan merasa sangat senang jika bisa mengajak Elona. Bagaimana, apa kau tidak keberatan jika Elona saya ajak pergi?"


Aruna menoleh putrinya yang kebetulan berdiri di sampingnya. Bocah itu tersenyum sembari menganggukan kepalanya, bertanda jika ia pun setuju dengan permintaan ibu Zahrana.


"Saya sama sekali tidak merasa keberatan untuk memberikan izin. Tapi aku yang merasa segan."


"Tidak apa-apa. Lagipula saya juga kan yang minta."


"Iya, bu. Kalau begitu saya ambil baju Elona untuk pergi nanti."


"Iya, silahkan."


"Elona. Elona tunggu sebentar, ya. Ibu ambil pakaian untuk Elona pergi nanti."


"Iya, ibu."


"Dan ingat, jangan membuat ibu Zahrana repot di acara keluarganya!" pesan Aruna.


"Baik, ibu," jawab bocah itu.


Aruna kembali ke rumahnya, tidak berapa lama ia kembali.

__ADS_1


"Ini, bu. Pakaian Elona." Aruna memberikan pakaian tersebut pada ibu Zahrana.


"Terima kasih sudah memberi izin, Aruna."


"Iya, sama-sama, bu. Terima kasih kembali."


"Iya, Aruna."


Taksi online yang sebelumnya Aruna pesan kini sudah datang.


"Kalau begitu, saya dan Elona pergi dulu, bu," pamit Aruna.


"Silahkqn,Aruna."


Aruna dan Elona bergegas masuk ke dalam mobil taksi onilen. Dan mobil pun melesat meninggalkan tempat tersebut.


Bugg.


Sebuah pukulan Abian layangkan pada seseorang yang lagi-lagi memberinya pengaruh buruk. Siapa lagi jika bukan Haidar.


"Sial, kenapa kau memukulku, Abian!?" seru pria itu dengan emosi yang tertahan.


"Jangan pernah menginjakan kaki lagi di ruangan ku, Haidar. Aku menyesal karena sudah termakan ucapannu!"


"Lalu apa hubungan nya denganku? Apa selama ini aku memaksamu untuk melakukan apa yang aku juga lakukan? Tidak, bukan? Aku hanya mengatakan apa aku rasakan. Bukan berarti aku meminta kau untuk mengikuti jalanku. Sudah seperti ini kau malah menyalahkanku." ucap Haidar tidak Terima di salahkan.

__ADS_1


"Sebab kau selalu datang dan meracuni pikiranku. Dengan cara menghasut jika selingkuh itu indah, kita pria tidak akan cukup dengan satu wanita, karena kita masih muda."


"Itu urusanmu, Abian. Apa pernah aku memaksamu? Ayolah selingkuh Abian! Tinggalkan istrimu demi selingkuhamu! Apa aku pernah mengatakan itu, hah!? Jangan jadi seseorang yang playing victim, Abian. Menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri!" seru Haidar tak kalah sengitnya.


"Tapi jika kau tidak meracuni pikiranku dengan ucapan-ucapan kotormu, maka semua ini tidak akan pernah terjadi."


"Stop menyalahkan aku, Abian. Sekuat apapun aku mempengaruhimu, jika kau memang pria yang benar-benar setia, maka kau tidak akan pernah melakukannya. Jangan memposisikan aku seolah-olah aku penghancur rumah tangga mu. Sebab di sini kau sendiri lah yang menghancurkan nya."


"Kau-"


"Jika ada yang perlu kau salahkan di sini, tentunya bukan aku. Tapi wanita itu dan tentunya dirimu sendiri."


Abian lekas diam. Haidar tetap tidak terima ia salahkan. Padahal ia bisa seperti itu juga tidak terlepas dari pengaruh Haidar.


"Aku rasa pertemanan kita cukup sampai di sini, Abian. Aku tidak ingin lagi berteman dengan seorang pecundang seperti kau. Bye."


Haidar bangkit berdiri dari duduknya, beranjak meninggalkan ruangan Abian.


"Haidar, tunggu! Haidar! Haidaaar!!"


Pria itu sama sekali tidak menggubris panggilan Abian. Dia tetap pergi dari sana usai memutuskan pertemanan dengan Abian.


"Ck, argghh .. "


Abian memegang kedua sisi kepalanya merasa frustasi.

__ADS_1


"Keluarga, pertemanan, hancur seketika. Aruna saja belum bisa memaafkanku. Elona malah membenciku. Dan sekarang Haidar memutuskan pertemanan denganku. Aargghh ..."


_Bersambung_


__ADS_2