
Ziva mengalungkan tangan nya pada leher Abian. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa mili saja. Wangi aroma vanilla bibir Ziva begitu menggoda. Sehingga Abian tergiur untuk mencicipi bibir yang pernah mendarat ke bibirnya malam kemarin.
Tanpa menunggu waktu lama lagi, Abian berhasil melahap bibir mungil Ziva. Awalnya mereka memainkan nya dengan begitu lembut, semakin lama napas mereka semakin memburu dan permainan pun mulai memanas.
Abian merapatkan tubuh nya dengan Ziva, seakan kedekatan mereka belumlah cukup. Sementara tangan Ziva sudah merembet ke mana-mana. Ciumman itu kini turun ke leher, dan mengguliri setiap permukaan kulit mulus Ziva. Wanita itu menggigit bibirnya sendiri, menahan sensasi yang terasa menjalar di sekujur tubuhnya.
Permainan terus berlanjut, darah mereka seakan mendidih dan bergejolak. Kedua mata Abian sudah di penuhi oleh has rat sehingga ia sudah tidak lagi sadar dengan statusnya saat ini.
"Ahh .. Yess, baby .."
Ziva menjambak sedikit rambut Abian saat tangan pria itu menyelinap masuk dengan nakalnya merembas buah dada yang besar. Tidak tanggung-tanggung, Abian pun melahap boba berwarna merah muda setelah berhasil melepas pakaian Ziva.
"Uuhhh .. Mpphh .." Ziva terus mendessah.
Tidak ingin membiarkan Abian berjuang sendiri, Ziva pun dengan agresif nya meraba benda pusaka Abian yang masih terbungkus celana. Ia memberi sedikit remmasan dan ia merasakan sesuatu yang mengeras dan tegang di dalam sana.
__ADS_1
Napas Abian terdengar semakin memburu. Pria itu menidurkan Ziva di atas sofa, sementara dirinya sibuk membuka kancing dan resleting celana.
"Oh my god, besar sekali," ujar Ziva saat melihat tubuh Abian kini polos tanpa sehelai kain.
Ziva semakin bersemangat. Ia sudah tidak sabar benda pusaka itu menancap di lubang goa miliknya.
Abian menindih tubuh Ziva, pria itu kembali menciumi bibir Ziva. Dan tangan nya sudah lebih dulu menyelusup masuk ke **** ***** wanita itu guna memberi pemanasan. Ia merasakan bagian milik Ziva sudah sangat basah, sehingga ia sudah tidak ragu lagi untuk menancapkan benda pusaka pada lubang gua milik Ziva.
"Aaahhh .." Dessahan dari mulut Ziva kembali lolos, Abian mulai menggerakan pusaka dari gerakan kecil menjadi gerakan yang sangat cepat.
Lantaran panggilan nya tidak di jawab, layar ponselnya kembali menampilkan layar kunci. Tidak berapa lama, nama Aruna kembali muncul di layar ponsel tersebut.
Di tempat lain, di depan resto tempat Aruna bekerja. Wanita itu berulang kali menempelkan benda pipih di daun telinga nya, berharap suaminya menjawab telepon dari nya. Lantaran ini sudah waktunya Abian jemput. Tapi pria itu belum juga datang.
"Abian, kau kemana? Kenapa tidak menjawab telepon ku?" gumam Aruna merasa gelisah.
__ADS_1
Aruna coba untuk mengirimkan chat. Tapi sepuluh menit kemudian, chat tersebut belum juga di baca, apalagi di balas.
"Apa Abian ketiduran, ya?" pikir Aruna.
"Ah, tapi tidak mungkin. Abian tidak pernah lupa menjemputku. Lalu dia kemana, ya?"
Perasaan Aruna semakin tidak enak. Ia merasa gelisah. Entah kenapa.
Aruna kembali melakukan panggilan, akan tetapi hasilnya sama. Abian tidak juga menjawab telepon nya.
"Kalau begitu aku pesan taksi online saja, deh. Aku takut suamiku ketiduran beneran."
Aruna kembali membuka ponselnya dan mulai memesan taksi online nya. Lima menit kemudian, taksi online pun datang. Aruna masuk ke dalam mobil tersebut.
_Bersambung_
__ADS_1