
"Kenapa bibi Ziva senang sekali mengganggu ibu, bu?" tanya Elona saat ia dan ibunya memutuskan untuk pulang.
"Ibu juga tidak tahu, sayang. Yang terpenting kita jangan pernah menganggu kehidupan orang lain. Biarkan saja. Kita tidak perlu membalas kejahatan merek. Sejatinya pohon pisang itu akan mati sendirinya tanpa harus kita tebang lebih dulu," tutur Aruna bijak.
"Aku tidak mau ibu luka lagi. Aku akan berusaha melindungi ibu dari siapapun yang berusaha menyakiti ibu."
"Terima kasih, sayang."
"Sama-sama, ibu."
Aruna mengacak rambut putrinya dengan gemas, sebelum kemudian mereka melanjutkan langkah untuk segera sampai di rumah.
"Ibu buatkan minuman dingin mau?" tawar Aruna saat mereka tiba di rumah.
"Aku ingin minum orange jus, ibu."
"Ya sudah, Elona tunggu di sini, ibu buatkan orange jus sebentar."
"Baik, ibu."
Aruna melipir ke dapur sementara Elona duduk di sofa ruang tamu. Tidak berapa lama ibunya kembali dengan membawa dia gelas orange jus.
"Ini untuk Elona, dan ini untuk ibu."
__ADS_1
Aruna memberikan segelas orange jus pada Elona, bocah itu menerimanya dan langsung meminum hingga setengahnya.
"Terima kasih, ibu. Minumannya segar."
"Sama-sama, sayang."
"Ah ya, bu. Maaf ya kalau aku tidak menutup telingaku saat ibu bicara dengan bibi Ziva. Aku tidak ingin bibi Ziva mengatakan sesuatu yang membuat ibu luka."
"Iya, terima kasih sudah berusaha melindungi ibu meski Elona belum pantas melakukannya. Elona masih terlalu kecil, sayang. Lain kali, Elona harus tutup telinga dan menjauh begitu obrolan dewasa sedang berlangsung di hadapan Elona. Ok!?"
Elona mengangguk menurut. "Iya, ibu."
"Ya sudah, kalau begitu habiskan minumannya. Nanti dinginnya keburu hilang."
"Baik, ibu."
"Elona mau makan apa? Nanti biar ibu masak sesuai keinginan Elona," tawar wanita itu, mengingat hari sudah sore.
"Apapun yang ibu masak, aku selalu makan dan masakan ibu tidak pernah gagal. Masakan ibu itu makanan paling enak yang pernah aku temui."
Aruna mendaratkan sebuah kecupan gemas di pipi sang putri.
"Elona paling bisa jika soal memuji ibu. Terima kasih ya, nak, sudah jadi anak baik untuk ibu."
__ADS_1
"Sama-sama, sayang."
Aruna membawa putrinya ke dalam pelikan, mendekap nya erat, menghujani nya dengan kecupan di puncak kepala. Tidak ada hal lain yang lebih berharga ketimbang putrinya.
Semoga aku bisa menjadi ibu yang baik untuk putriku. Ibu yang bisa memberikan putrinya dengan segenap penuh cinta dan kasih. Terima kasih Yaa Allah, engkau sudah memberiku nikmat tiada tara melalui hadirnya Elona ke dalam kehidupanku.
"Mau bantu ibu masak?" tawar Aruna usai melepaskan pelukannya.
Elona menganggukkan kepalanya sekali. "Boleh, ibu?"
"Boleh, sayang. Ayo, ikut ibu ke dapur."
"Ok, ibu. Aku ingin pandai memasak seperti ibu agar aku bisa membuat masakan yang sangat enak untuk di sajikan ke ibu nanti."
Aruna dan Elona pun pergi ke dapur. Mereka saat ini sudah berdiri di depan pantry.
"Kalau begitu ibu boleh minta tolong?"
"Boleh, ibu mau minta tolong apa?"
"Tolong ambilkan wortel, brokoli, sosis, dan jagung muda di kulkas."
"Baik, ibu." ujar bocah itu menurut.
__ADS_1
Elona mengambilkan bahan masakan sesuai permintaan sang ibu. Sebelum kemudian Aruna mulai memasak dengan barusan.
_Bersambung_