
"Yang ini Elona suka?" tanya Aruna dan mendapat gelengan kepala dari Elona.
"Itu terlalu besar, ibu. Aku akan mirip seperti kura-kura jika memakainya," jawab bocah itu sontak menciptakan tawa ibunya.
"Ya ampun, sayang. Itu tidak mungkin. Kelihatannya saja besar, jika di pakai pasti bagus. Elona mau coba?"
"Memangnya boleh?"
"Tentu boleh, sayang. Sebentar, ibu ambilkan dulu."
Aruna mengambil tas yang ia pilihkan barusan.
Sementara di kejauhan, seorang pria tampak celingukan menengok ke sana kemari guna mencari sosok orang yang saat ini ia cari. Dan begitu matanya menangkap sosok wanita dan bocah kecil dengan jarak tujuh meter dari nya, ia bergegas menghampiri mereka.
"Hai ..." sapa pria yang tak lain adalah Haikal.
"Hai," balas Aruna.
"Hai, paman," jawab Elona.
"Sudah lama sampai?"
"Belum terlalu lama," jawab Aruna kemudian.
Haikal melihat Elona yang sudah memakai tas berwarna merah muda di punggungnya.
"Sudah dapat tasnya?"
"Baru saja mencobanya."
"Lihat, paman. Aku mirip seperti kura-kura bukan?" tanya bocah itu.
"Kenapa mirip kura-kura?"
"Tasnya terlalu besar di tubuhku. Aku sudah seperti kura-kura bukan?"
Haikal sejujurnya ingin tertawa, tapi ia berusaha menahannya begitu Aruna menggelengkan kepala memberi sebuah kode.
__ADS_1
"Tidak, kau justru cantik memakai tas itu."
"Paman pasti bohong. Ibu, aku tidak ingin tas yang ini. Aku mau pilih yang lain lagi saja," rengek Elona.
"Bagaimana kalau paman saja yang pikihkan?" tawar Haikal.
"Boleh, tapi jangan tas yang membuat aku mirip seperti kura-kura lagi ya paman."
"Siap. Paman pasti pilihkan yang bagus dan cocok untuk Elona."
"Sekalian pilihkan untuk putri paman juga?"
"Hm?" Haikal terkejut mendengar pertanyaan Elona, kemudian ia menoleh ke arah Aruna untuk memahami maksudnya.
"Putriku pikir kau sudah memiliki keluarga, maka dari itu kau menyusul kami di sini untuk membelikannya tas juga," jelas Aruna.
"Ohh ..." Haikal mengangguk paham.
Haikal membungkukan badannya sedikit agar berdirinya sejajar dengan Elona.
"Elona, cantik. Paman belum memiliki putri, sayang. Paman juga belum menikah. Jadi, paman hanya akan memilih tas untuk Elona."
"Iya, cantik."
"Kalau begitu, Elona pilih tas dengan paman Haikal dulu, ya. Ibu mau ke toilet sebentar. Tidak apa-apa kan, sayang?"
Elona mengangguk. "Iya, ibu. Tidak apa-apa."
"Kal, aku titip Elona sebentar tidak apa-apa kan?"
"Iya, Aruna. Tidak apa-apa. Kau tenang saja, Elona akan aman bersamaku."
"Terima kasih," ucap Aruna kemudian melipir pergi ke toilet yang terdapat di toko tersebut.
Kini hanya ada Elona dan Haikal saja.
"Elona, kita coba pilih tas nya ke sana, yuk!"
__ADS_1
"Iya, ayo paman."
Haikal menuntun pergelangan tangan Elona, mereka pergi ke tempat yang tidak jauh dari sana.
"Bagaimana, model yang ini Elona suka?"
"Suka, paman."
"Elona mau yang warna apa?"
Elona terdiam sejenak seraya memilih warna apa yang bagus.
"Merah muda aku sudah punya, paman. Aku ingin yang warna ungu saja."
"Sebentar, paman ambilkan dulu."
Haikal meraih tas yang menggantung di atas, lalu ia berikan pada Elona untuk mencobanya.
"Wow, yang ini pas di tubuhmu. Elona tidak seperti kura-kura lagi."
"Benarkah, paman?"
"Iya, kau sangat cantik memakai tas ini. Jika tidak percaya, nanti tanyakan saja pada ibu."
"Iya, nanti setelah ibu kembali, aku akan tanyakan padanya."
Elona melepaskan tas tersebut dari tubuhnya, kemudian ia peluk tas itu dalam dekapannya.
Haikal senang melihat Elona senang. Ia merasa semakin sayang terhadap bocah kecil itu.
"Ah ya, bagaimana hatimu di sekolah tadi?" tanya Haikal kemudian.
"Menyenangkan. Tapi sedikit sedih juga, paman," terang Elona, ekspresi wajah bocah itupun sedikit berubah.
"Sedih kenapa? Apa ada yang menyakiti Elona?"
Elona menggeleng. "Bukan, paman. Lusa, ada kegiatan lagi di sekolah. Ayah dan ibuku di minta untuk datang ke sekolah. Tapi bagaimana ayah dan ibu bisa hadir, sementara ayah dan ibu sudah tidak lagi bersama."
__ADS_1
Haikal ikut sedih mendengarnya. Bagaimana bocah di seusia Elona dapat mengekspresikan perasaannya tentang apa yang terjadi pada kedua orang tuanya.
_Bersambung_