
Pagi ini Aruna menyiapkan sarapan seperti biasanya. Hanya saja yang membuat sarapan berbeda dari sebelumnya adalah keberadaan Haikal di keluarga kecilnya.
"Mau aku bantu?" tawar Haikal seraya memeluk pinggang Aruna dari belakang.
Aruna sedikit kaget dengan kedatangan suaminya yang secara tiba-tiba.
"Tidak, tidak usah. Biar aku saja. Kau duduk saja tunggu di meja makan," tolak Aruna.
"Yakin tidak butuh bantuanku?"
"Tidak. Tunggu di sana bersama Elona, ya. Sebentar lagi aku selesai."
Haikal menurut. "Iya, sayang."
Pria itu meninggalkan sebuah kecupan singkat di pipi Aruna, sebelum kemudian duduk menunggu di meja makan.
"Selamat pagi, ayah Haikal," sapa Elona begitu bocah itu muncul dengan seragam sekolah seperti biasa.
"Selamat pagi, cantik. Sudah rapi, nak?"
"Iya, ayah. Aku kan harus kembali sekolah. Aku tidak boleh izin lama-lama," jawab Elona.
"Bagus, biar Elona jadi anak pintar." Haikal mengacungkan dia jempol untuk Elona.
__ADS_1
"Aku hanya ingin jadi anak berguna saja, ayah. Percuma pintar jika tidak berguna untuk keluarga. Terutama untuk ibuku. Meski sekarang sudah ada ayah Haikal, aku masih harus melindungi ibu dari siapapun yang berani menyakiti ibu. Tanpa terkecuali, termasuk ayah Haikal," tutur Elona bijak.
"Iya, itu bagus, sayang. Tapi ayah Haikal mana mungkin menyakiti ibu."
"Mungkin saja, ayah. Hanya berjaga-jaga. Aku tidak mau ayah Haikal sampai menyakiti ibu seperti ayahku. Tapi aku berharap ayah Haikal tidak seperti itu."
"Ayah Haikal akan berusaha untuk tidak menyakiti ibu maupun Elona."
"Aku tidak perlu janji, ayah Haikal buktikan saja, ya."
"Ok, cantik."
Aruna datang membawakan menu sarapan pagi ini yakni nasi goreng sosis. Ia meletakan mangkuk besar yang ia bawa ke atas meja makan persegi.
"Aku sedang memberi tahu ayah Haikal, ibu. Kalau aku akan menjadi orang terdepan yang melindungi ibu dari orang jahat yang berniat menyakiti ibu. Termasuk ayah Haikal," sahut Elona.
Aruna menatap suaminya lalu mengulas senyum tipis. Masih pagi putrinya sudah memberi nasihat bijak.
"Lalu apa kata ayah Haikal?"
"Ayah Haikal tidak akan menyakiti ibu seperti ayahku."
"Hm, benarkah?" tanya Aruna memastikan langsung pada suaminya.
__ADS_1
"Tentu saja."
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita mulai saja sarapannya. Nanti kalian terlambat."
"Iya, ibu," jawab Elona.
"Iya, sayang," jawab Haikal.
Aruna mengambilkan nasi goreng tersebut ke piring suami dan putrinya. Ini merupakan pagi pertama ia sarapan bersama keluarga kecilnya saat ini setelah menikah. Dan ia merasa hangat dan senang bisa berada di tengah-tengah antara Aruna dan Elona.
Sepertinya aku juga harus berterima kasih pada Abian. Di balik pengkhianatan nya terhadap Aruna, terdapat kebahagiaan untukku. Terima kasih, Abian. Ucap Haikal dalam hati.
"Ayo, sarapan."
Kalimat Aruna menarik paksa Haikal untuk keluar dari pemikirannya saat ini. Ia mengerjapkan mata sekali.
"Iya, sayang. Maaf ya barusan aku melamun."
"Iya, tidak apa-apa. Lain kali jangan melamun lagi, masih pagi. Tidak baik juga. Jika ada yang perlu di ceritakan padaku, ceritakan saja. Kita harus sama-sama terbuka. Jangan sampai ada yang di tutup-tutupi di antara kita. Apapun itu," pesan Aruna.
"Iya, itu pasti, sayang," jawab Haikal.
Kemudian Haikal memulai sarapannya. Nasi goreng sederhana buatan Aruna lebih enak dari nasi goreng yang biasa ia temui di restoran-restoran besar bintang lima. Ia memang tidak salah memilih istri. Selain cantik, Aruna juga pandai memasak. Ia tidak lupa memberi pujian kecil untuk Aruna sebagai bentuk apresiasi agar istrinya lebih semangat lagi menjadi istri untuknya.
__ADS_1
_Bersambung_