GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Taman


__ADS_3

Aruna diam sejenak. Ia pun merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan oleh Gavin, yaitu dunia ini terasa begitu sempit.


"Dia banyak cerita padaku tentang keluarga kecilnya, maka dari itu aku bisa mengatakan hal tadi tanpa aku sadari," ujar Gavin lagi.


"Cerita? Cerita apa?" tanya Aruna penasaran.


"Dia sangat menyesali perbuatannya. Jika ada kesempatan kedua untuk dia bisa kembali pada keluarga kecilnya, maka dia tidak akan pernah lagi menyia-nyiakan kesempatan itu," terang Gavin.


"Setiap hari dia menyesali perbuatannya. Bahkan jika ada sesuatu yang bisa membuatnya kembali pada keluarga kecilnya, ia akan melakukannya meski nyawa yang jadi taruhan. Dia benar-benar menyesali perbuatannya, Aruna. Bahkan saat ini dia sedang berusaha untuk mewujudkan impian yang sebelumnya pernah kalian rencanakan. Dia juga sedang berusaha untuk ikhlas jika pada akhirnya dia tidak lagi bisa bersama keluarga kecilnya," imbuh Gavin panjang lebar.


"Tapi sayangnya aku tidak lagi tertarik untuk menerima kembali, Gavin. Aku tidak ingin mengalami hal buruk yang sama. Cukup sekali dan itu begitu menyakitkan bagiku. Andai hari itu kau tidak datang dan memberi peringatan padaku, mungkin sampai saat ini aku masih menjalani rumah tangga toxic itu dan Abian masih berhubungan dengan Ziva," ungkap Aruna.


"Iya, aku tahu, Aruna. Kau pasti sangat luka waktu itu. Akupun sama. Maka dari itu aku datang untuk menyelamatkan dirimu dari hubungan itu. Aku tidak mau orang lain merasakan luka dalam rumah tangga yang lama. Beruntung nya dengan cepat kau bisa mengungkap hal itu."


"Iya, Gavin." Aruna sangat bersyukur karena Gavin datang waktu itu untuk menyelamatkan dirinya.


"Ah ya, kemarin aku bertemu dengan Ziva di taman dekat rumahku. Tanpa rasa malu dia memohon padaku untuk menyatukan dirinya dengan Abian. Padahal waktu itu dia menyombongkan diri padaku saat dia berhubungan dengan Haidar. Tapi mungkin dia sudah di depak oleh Haidar," terang Aruna menciptakan kerutan di kening Gavin.


"Haidar?"


"Iya."


Seketika Gavin mengingat saat ia mengantar sepupunya dia klinik, ia melihat Ziva juga ke klinik itu bersama pria yang tidak ia kenal. Mungkin pria itu yang Aruna sebut dengan nama Haidar.


"Lalu apa yang kau katakan padanya?"


"Elona yang bicara sampai Ziva diam lalu kami pergi."

__ADS_1


"Elona?"


"Ya. Putriku memang masih kecil, usianya belum genap lima tahun. Tapi dia sudah pandai bicara layaknya orang dewasa. Padahal aku tidak mengajarinya seperti itu."


"Benarkah?"


"Iya. Aku juga kaget saat bisa-bisanya Elona menyemprot Ziva sampai wanita itu bungkam. Mungkin Elona bisa seperti itu karena dia bisa ikut merasakan lukaku saat aku sedang terluka oleh Abian. Bicaranya bisa lebih tegas melebihi orang dewasa. Pemilihan kata yang ia lontarkan sama seperti yang pada umumnya orang dewasa katakan."


"Kau benar-benar beruntung memiliki malaikat kecil sepertinya," puji Gavin.


"Ya, aku sangat bersyukur. Jika ada orang yang bertanya apa yang paling berharga dalam hidupku saat ini, maka jawabannya adalah putriku Elona."


"Benar, kau sangat benar. Bahkan aku saja yang baru pertama kali melihatnya, bisa langsung sayang padanya. Pantas saja Abian takut kehilangan putrinya, dan Haikal begitu menyayangi putrimu."


"Terima kasih," ucap Aruna.


Tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka.


"Ah ya, kalau begitu aku mau menyusul putriku dulu. Aku khawatir dia nanti bertanya-tanya kenapa aku lama sekali," pamit Aruna di angguki oleh Gavin.


"Iya, silahkan." Gavin memperagakan tangannya.


Aruna pun beranjak dari sana untuk menyusul Elona dan Haikal.


Sementara di taman belakang rumah, Elona tengah bermain bola karet tersebut. Elona menekan-nekan bola tersebut hingga membuatnya nyaris terjatuh.


"Elonaaa ..." teriak Haikal panik melihat bocah itu nyaris jatuh, ia langsung lari untuk menghampiri bocah itu, namun sayangnya dia yang terjatuh.

__ADS_1


Beruntungnya Aruna datang.


"Haikal, kau tidak apa-apa?" seru Aruna panik dan Haikal menoleh.


Dengan cepat Aruna berjongkok menempatkan kepala Haikal di pangkuannya.


"Kau tidak apa-apa, Haikal?" ulang wanita itu.


"Tidak apa-apa."


Elona datang menghampiri dan mengulurkan tangannya.


"Ayo, paman. Biar aku bantu."


Elona berniat untuk membantu pria itu untuk berdiri, Haikal tersenyum kemudian mengulurkan tangannya. Dengan sekuat tenaga Elona menarik tangan pria itu sampai bangkit berdiri. Aruna juga ikut membantunya.


"Terima kasih, ya," ucap Haikal kemudian.


"Iya, sama-sama," jawab Aruna.


Mereka saling menatap untuk beberapa detik, sampai tidak sadar jika Elona saat ini berdiri di tengah seraya memegangi tangan mereka. Bocah itu tempat senang melihat ibu dan paman Haikal nya akur seperti ini.


_Bersambung_


NOTE: Yang mau lihat video ELONA, ARUNA, dan HAIKAL jatuh di taman barusan, bisa langsung cek video nya di instagram @wind.rahma atau cek ke youtube Windy Rahmawati.


Jangan lupa follow dan subscribe 🤗

__ADS_1


__ADS_2