
"Terima kasih sudah mengantar kami. Terima kasih juga untuk tas nya, paman Haikal," ucap Elona.
"Sama-sama, Elona. Belajar yang rajin, ya, supaya Elona jadi anak yang pintar."
"Iya, paman."
Aruna ikut senang melihat putrinya sebahagia ini. Niat dirinya ingin membelikan tas guna menghibur Elona yang sedih lantaran di acara sekolah lusa orang tua lengkapnya tisa datang bersamaan, justru malah Haikal yang membelikan tas nya.
"Terima kasih ya, Haikal. Untuk kebaikanmu pada kami," ucap Aruna kemudian.
"Iya, sama-sama, Aruna. Ah ya, bukannya sebentar lagi kau harus segera berangkat bekerja? Bagaimana kalau aku antar?" tawar Haikal.
"Tidak, tidak, terima kasih, Haikal. Aku tidak ingin terlalu merepotkanmu," tolak Aruna.
"It's okay, aku gak apa-apa, Aruna. Justru aku akan senang jika kau menerima tawaran ku. Daripada harus naik taksi online, lebih baik aku saja yang antar. Lagipula jalan ke tempat kerjamu dan ke kantorku juga searah kan?"
"Tapi, Haikal-"
"Sudah, cepat siap-siap."
"Haikaaaalll ..."
__ADS_1
"Aku tunggu di dalam mobil, ya."
Aruna menghela napas dan di akhiri dengan decakan kecil. Kenapa pria itu kukuh ingin mengantarnya? Padahal ia tidak ingin Haikal terus menerus baik padanya, ia takut terlalu salah mengartikan kebaikan itu.
"Ayo, ibu. Kita masuk. Ibu harus segera ber siap-siap, kasihan paman Haikal menunggu."
Elona menarik telunjuk ibunya agar segera beranjak dari sana. Aruna pun melipir pergi bersama Elona masuk ke dalam rumah. Sementara Haikal sudah lebih dulu masuk ke dalam mobilnya setelah mengatakan ucapan tadi.
Tidak berapa lama, Aruna dan Elona sudah kembali keluar rumah. Keduanya sudah memakai pakaian yang berbeda. Seulas senyum terbit di kedua sudut Haikal.
Sebelum masuk ke dalam mobil Haikal, Aruna mengantar Elona terlebih dahulu ke rumah ibu Zahrana untuk di titipkan seperti biasa. Setelah itu, barulah Aruna menghampiri mobil Haikal.
Pria itu sudah berdiri di samping body mobil, dan membukakan pintu samping begitu Aruna sudah mendekat.
"Ya ampun, sampai di bukain segala. Aku makin segan denganmu, Haikal."
"Tidak perlu merasa segan, aku sendiri yang ingin melakukannya."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
__ADS_1
Aruna pun masuk ke dalam mobil. Haikal menutup pintu mobilnya dengan pelan. Setelah itu ia berjalan beberapa langkah mengitari mobilnya dan masuk ke dalam bagian jok kemudi. Dalam hitungan detik, mobil sudah melesat pergi dari tempat tersebut.
Di perjalanan, mereka saling mengobrol.
"Tadi Elona bilang padaku, kalau dia sedang sedih. Karena di sekolahnya mengadakan acara yang mengharuskan kedua orang tuanya hadir. Lalu itu bagaimana?"
Aruna melirik ke arah Haikal sekilas. Sebelum akhirnya ia kembali memandang lurus ke depan.
"Untuk masalah itu, sepertinya aku harus konfirmasi pada guru Elona. Aku yakin guru Elona pasti bisa mengerti."
"Maksudmu, kau akan menceritakan yang sebenarnya?"
Aruna menggangguk. "Iya."
"Memangnya tidak apa-apa? Apa itu tidak akan membuka aib dirimu?"
"Aku hanya cukup mengatakan kalau aku dan ayah Elona sudah berpisah, tanpa harus menjelaskan permasalahan yang terjadi di antara kami, aku rasa guru Elona akan paham dan mengerti."
Haikal mengangguk-anggukan kepalanya.
"Iya, iya, aku paham maksudmu."
__ADS_1
Haikal menoleh dan menatap Aruna yang tengah memandang ke kaca samping untuk beberapa saat. Sebelum kemudian kembali fokus menyetir.
_Bersambung_