
Hari ini Aruna harus kembali bekerja. Ia harus semangat demi Elona.
"Aruna, ini tugas mu yang mengantar pesanan ini ke meja nomer dua puluh lima bagian pojok. Aku akan mengantar ke meja yang lain nya," ujar Nabila.
"Iya, Nabila."
Aruna membawa nampak berisi makanan beserta minuman. Ia berjalan dengan sangat hati-hati. Ia kaget begitu melihat sosok yang duduk di kursi meja tersebut.
"Haikal, kau mampir ke sini lagi?"
Pria itu yang semula fokus pada layar ponselnya kini mendongak.
"Aruna. Wah, ketemu lagi kita. Dan ini pertama kalinya kau melayani aku."
"Hehe .. Iya. Silahkan." Aruna meletakan piring makanan beserta minuman nya di atas meja depan Haikal.
"Aku boleh bicara sebentar dengan mu? Itupun jika kau tidak sibuk."
"Bicara apa?" tanya Aruna penasaran.
"Sebenarnya bukan bicara juga, tapi ngobrol. Kalau kau sibuk, tidak apa-apa. Mungkin bisa lain waktu saja."
"Mmm .. Sebenarnya tidak terlalu sibuk juga, tapi aku gak enak kalau harus ngobrol dengan status mu di sini sebagai pengunjung sementara aku di sini bekerja sebagai pelayan."
Haikal menganggukan kepalanya mengerti.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Ah ya, aku boleh minta nomer telepon mu?"
"Hm, untuk apa?"
"Boleh?"
Aruna mengangguk. "Iya, boleh."
__ADS_1
Haikal memberikan ponselnya pada Aruna, wanita itupun mengetik dan menyimpan nomer telepon nya di ponsel Haikal.
"Sudah aku namai dan save." Aruna mengembalikan ponselnya.
"Terima kasih, ya."
"Iya. Kalau begitu aku harus kembali ke belakang. Selamat menikmati makanan nya," pamit Aruna.
"Iya, Aruna."
Aruna melipir pergi dari sana. Meninggalkan Haikal yang terus memandang punggung kepergian nya.
"Sayang nya Aruna sudah punya suami," ujar pria itu sambil tersenyum simpul.
***
Sudah hampir setengah jam Abian menunggu Elona di dalam mobilnya yang terparkir di depan gerbang sekolah. Akan tetapi belum ada tanda-tanda kelas akan selesai.
"Aku harus bertemu dengan Elona, aku rindu sekali dengan nya. Siapa tahu, melalui Elona aku bisa kembali dengan Aruna."
Lima menit kemudian, pintu kelas Elona terbuka dan anak-anak berhamburan keluar. Abian mengembangkan senyum dengan bergegas turun dari mobilnya. Beberapa orang tua yang lain yang berniat menjemput anak mereka pun kini sudah mulai berdatangan.
"Elona, kita pulang bersama lagi hari ini."
"Iya, Cheryl. Terima kasih selalu memberiku tumpangan pulang. Kau dan ibumu sangat baik padaku."
"Sama-sama, Elona. Kita kan teman, jadi harus saling menolong. Seperti yang di ajarkan oleh miss Ayu pada kita."
"Iya, Cheryl."
Mereka berdua berjalan dengan tangan saling bertaut.
"Elona ..."
__ADS_1
Panggilan itu membuat pemilik namanya menoleh pada sumber suara. Dan mata seseorang yang memanggil namanya itu tampak berbinar. Kedua tangan nya siap merangkul tubuhnya.
"Jangan peluk aku, ayah."
Senyum Abian perlahan memudar. Rasanya sakit sekali mendengar penolakan putrinya.
"Kenapa, sayang?"
"Aku sangat merindukan ayah. Dan aku selalu mengatakan nya setiap hari pada ibu. Tapi ibu terlihat tidak suka setiap aku menyebut nama ayah di depan nya. Aku ayah telah menyakiti hati ibu?" Elona bertanya dengan polosnya.
Jujur, Abian sangat sedih mendengarnya.
"Sebelumnya ibu pernah memintaku untuk menjauhi bibi Ziva tanpa mengatakan alasannya. Dan kemarin aku menemukan jawaban kenapa ibu melarang ku untuk dekat lagi dengan bibi Ziva. Aku menemukan barang-barang ibu di kamar bibi Ziva. Aku berpikir bibi Ziva telah mengambil barang milik ibu, termasuk mengambil ayah."
Sontak Abian tercengang dengan ucapan Elona barusan. Kenapa putrinya bisa memiliki pikiran sejauh itu.
"Ibu mengatakan kalau ayah sedang pergi ke luar negeri untuk urusan pekerjaan. Tapi sekarang ayah tiba-tiba muncul di hadapanku. Mungkin ibu hanya alasan saja agar aku tidak tahu kalau ayah memang benar menyakiti hatinya. Dan aku membencimu, ayah."
Kedua mata Abian memupuk cairan putih bening yang siap turun kapan saja. Ucapan Elona bagaikan sengatan listrik yang sakitnya menjalar di sekujur tubuh. Sakit sekali rasanya.
"Elona, ayo kita pulang. Ibuku sudah datang," ajak Cheryl.
Elona menatap ayahnya. "Maaf, ayah. Aku harus pulang."
"Pulang bersama ayah, ya."
Elona menggeleng. "Maaf, ayah. Aku pulang dengan bibi Kanaya saja."
Elona hendak berlalu dari sana, namun Abian meraih pergelangan tangan putrinya. Dengan cepat Elona melepaskan tangan nya, lalu pergi dari sana tanpa memperdulikan ayahnya.
"Elona ... Sayang .. Elona .."
Setitik air mata Aabian terjatuh. Sakit rasanya di benci oleh anak sendiri.
__ADS_1
_Bersambung_