
Mobil Abian memasuki area rumah sakit. Sebelumnya Aruna memperbolehkan Elona untuk datang ke sana. Abian menurunkan putrinya dari pangkuan begitu langkahnya sudah sampai di tempat Aruna berdiri menunggu kedatangan mereka. Lebih tepatnya menunggu kedatangan Elona.
"Ibu, paman Haikal terluka ya?" tanya bocah itu.
Aruna menanggapinya dengan senyum kecil. "Paman Haikal baik-baik saja, sayang," jawabnya bohong.
"Sungguh?"
"Ya, tentu saja."
"Kalau begitu, apa aku bisa menemui paman Haikal? Aku ingin melihat paman Haikal. Boleh kan, bu?" pinta Elona penuh harap.
"Mmm ..." Aruna bingung harus memberi jawaban apa. "Tapi ini sudah malam, sayang. Paman Haikal juga sudah tidur untuk istirahat."
"Aku hanya ingin melihatnya saja, bu. Aku janji tidak akan mengganggu waktu tidur paman Haikal. Boleh ya, bu."
Elona menelungkupkan tangannya memohon. Dehaman dari Abian membuat Aruna menoleh ke arah pria itu.
Abian merasa jika putrinya sudah benar-benar dekat dengan pria itu. Elona sampai memohon seperti itu hanya untuk bertemu dengan Haikal. Meski ia tahu jika pria itu sudah menolong Elona dari bahaya.
"Boleh ya, bu. Sebentar saja." Elona terus memohon lantaran ibunya belum kunjung memberinya jawaban.
Akhirnya Aruna mengangguk mengizinkan. "Iya, boleh."
"Asiiikk ..." Sorak Elona girang.
"Tapi Elona harus janji, Elona tidak boleh berisik apalagi sampai mengganggu waktu tidur pamam Haikal. Ok!?"
Elona mengangguk cepat. "Baik, ibu. Elona janji. Terima kasih, ibu."
"Sama-sama."
Elona sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Haikal. Tapi sebelum mereka beranjak dari sana, Aruna tidak lupa mengucapkan rasa terima kasih nya pada Abian, lantaran Abian sudah mau menjaga Elona seharian ini.
"Terima kasih sudah menjaga Elona."
__ADS_1
"Kau tidak perlu berterima kasih, aku bukan orang lain. Aku ayahnya. Bahkan aku tidak keberatan jika harus menjaga putriku selamanya," balas Abian.
Aruna tidak lagi memberi respon, ia segera mengajak putrinya beranjak dari sana.
Abian tidak langsung pergi, ia memutuskan untuk menyusul langkah Aruna dan putrinya.
Sampai di ruangan tempat Haikal berada. Aruna dan Elona melangkah secara perlahan. Agar Haikal tidak terganggu oleh kehadiran mereka.
"Ini paman Haikal, bu?" tanya Elona pangling, lantaran ada beberapa alat medis yang terpasang di tubuh Haikal seperti infusan.
Aruna mengangguk. "Iya, sayang."
"Kasihan paman Haikal. Ibu bilang paman Haikal baik-baik saja. Paman Haikal terluka, ibu. Dan ini pasti gara-gara aku." Elona kembali merasa sedih.
"Shuutt ... Jangan bicara seperti ini lagi, ya. Ibu tidak suka jika Elona menyalahkan diri sendiri."
Elona mengangguk. "Iya, ibu. Maaf."
"Ya sudah, kalau begitu Elona duduk di sini. Waktu kita tidak banyak, sayang. Hanya sepuluh menit saja."
"Kalau begitu, ibu tinggal sebentar ke kamar mandi, ya. Janji jangan ganggu paman Haikal."
"Baik, ibu."
Aruna beranjak dari sana. Menuju kamar mandi yang terdapat di ruangan tersebut. Elona memastikan jika ibunya sudah benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah ibunya benar-benar masuk kamar mandi, perlahan tangan Elona meraih buah tangan Haikal.
"Paman Haikal, ini aku Elona. Aku minta maaf ya sudah membuat paman Haikal terluka," ucap Elona sedih.
Elona mencium tangan tersebut. Berharap jika pria yang tengah berbaring di atas ranjang tempat tidur pasien itu bangun. Meski ia sudah berjanji pada ibunya jika ia tidak akan mengganggu.
"Paman Haikal, aku mohon bangun. Paman harus sembuh. Aku sedih jika paman terluka, paman bangun, ya."
Elona semakin merasa sedih. Akhinya ia putuskan untuk naik ke atas ranjang tersebur dan ikut memaringkan tubuhnya di samping Haikal. Ia peluk tubuh itu dan kepalanya ia sandarkan di dada Haikal.
__ADS_1
"Paman, aku mohon bangun," ucap Elona sekali lagi, berharap kali ini pria itu akan bangun.
"Paman sudah bangun, cantik."
Elona sontak mendongakan kepalanya dan melihat wajah Haikal.
"Paman Haikal? Paman Haikal sudah bangun?" seru Elona senang.
Haikal mengangguk. "Iya, cantik."
"Yeay, paman Haikal bangun .." Elona bersorak girang.
Haikal mengulas senyum melihat Elona tampak begitu bahagia. Terlebih bocah itu kembali memeluk dirinya. Haikal semakin sayang pada bocah itu.
Di luar ruangan, tampak seseorang tengah berdiri di depan kaca jendela. Kedua mata memperhatikan dua orang yang ada di dalam sana. Yaitu Elona dan Haikal. Abian merasa sangat cemburu melihat kedekatan putrinya dengan pria selain dirinya.
Abian menghembuskan napas, sebelum kemudian kembali ke mobil.
Di mobil, Abian menumpahkan tangisnya. Melihat kedekatan putrinya dengan pria selain dirinya begitu menyesakkan dada. Penyesalan kembali menerpa dirinya.
"Andai waktu itu aku tidak boddoh. Mengkhianati Aruna hanya karena nikmat sesaat yang sesat. Mungkin sampai hari ini, aku masih berkumpul dengan keluarga kecilku. Dan Elona tidak akan pernah memeluk pria lain selain aku, ayahnya."
"Sakit, sayang. Melihatmu memeluk orang selain ayah, nak. Elona dengan mudahnya dekat dengan orang lain, di saat Elona membenci ayah. Elona dengan mudahnya memberi sebuah pada orang lain, di saat Elona menolak pelukan ayah. Sakit sekali, nak."
Meski sekarang Elona sudah tidak lagi membenci nya, tetap saja rasanya masih tidak rela melihat putri semata wayangnya, putri kesayangannya begitu dekat dengan pria selain dirinya. Ketakutannya semakin menjadi, jika akan ada orang lain yang lebih dulu mewujudkan impian yang pernah mereka harapkan sebelumnya. Seperti yang pernah Gavin katakan waktu itu.
Air mata Abian semakin tumpah ruah, mengingat begitu bahagianya mereka bertiga dulu, sampai akhirnya ia menjadi manusia paling boddoh sedunia.
_Bersambung_
NOTE:
Yang mau ikut baper lihat Elona di rumah sakit bersama Haikal, dan tangis Abian setelah menyaksikan hal tersebut, mari mampir ke Instagram aku @wind.rahma untuk melihat videonya. Jangan lupa untuk follow juga.
Bagi yang gak punya Instagram, bisa lihat video nya di Youtube. Nama Channel nya WINDY RAHMAWATI.
__ADS_1
Hayuuu, baper berjamaah lihat video mereka🤗🥰